# Haedar Nashir Ungkap Keunikan Kepemimpinan Muhammadiyah Tanpa Dewan Syuro

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/haedar-nashir-kepemimpinan-muhammadiyah/
- Published: 2026-09-05T08:45:41+07:00
- Author: Redaksi-AF

KETUA Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, memaparkan secara mendalam
mengenai keunikan struktur [kepemimpinan](https://muhammadiyahciko.or.id/membangun-etika-komunikasi-pemimpin-islam-meneladani-sifat-rasulullah-dan-piagam-madinah-dalam-menghadapi-fitnah-digital/)
Persyarikatan. Dalam acara Training High Impact Leader and Manager yang diselenggarakan
oleh Pusdiklat PP Muhammadiyah di Hotel Grand Rohan, Yogyakarta, Jumat (4/9/2026),
Haedar menjelaskan bahwa Muhammadiyah tidak memiliki fungsi Dewan Syuro. Hal ini
karena peran _[spiritual](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/)
authority_ ([pemimpin](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-reboan-masjid-santun-muhammadiyah-cirebon-ustadz-dr-maman-rusman-tekankan-larangan-membela-pengkhianat/)
spiritual) dan _instrumental authority_ (manajer operasional) melekat dan menyatu
pada diri ketua di setiap tingkatan kepemimpinan, mulai dari Pusat, Wilayah, Daerah,
hingga Cabang.

“Kami menyatukan seluruh fungsi tersebut. Siapa pun yang dipercaya memimpin di [lingkungan](https://muhammadiyahciko.or.id/muhammadiyah-karhutla-bukan-bencana-tahunan/)
PP Muhammadiyah hingga PCM, pada dasarnya adalah seorang pemimpin yang wajib memiliki
kemampuan manajerial,” tegas Haedar.

Haedar menambahkan bahwa kepemimpinan di Muhammadiyah tidak cukup hanya mengandalkan
wibawa spiritual. Begitu seseorang terpilih atau diberi amanah kepemimpinan, ia 
secara otomatis dituntut untuk menguasai tata kelola [organisasi](https://muhammadiyahciko.or.id/pentingnya-website-di-era-ai/)
secara manajerial. Integrasi inilah yang menjadikan posisi kiai sekaligus manajer
berada dalam satu koordinasi kepemimpinan.

Konsep ini sejalan dengan ajaran [Islam](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/)
tentang kepemimpinan sebagai amanah dan tanggung jawab. Allah Subhanahu Wa Ta’ala
berfirman:

**يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ
بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ**

> _“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi,
> maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu
> mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.”_ (QS.
> Shad [38]: 26)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa seorang pemimpin, layaknya seorang khalifah, harus
menjalankan kekuasaannya dengan kebijaksanaan dan keadilan (_adl_), serta memiliki
kemampuan untuk mengelola urusan dengan baik, yang dalam konteks modern adalah kemampuan
manajerial.

Integrasi antara kepemimpinan spiritual dan manajerial ini juga merupakan perwujudan
dari prinsip _amanah_ dan _tanggung jawab_. Pemimpin Muhammadiyah tidak hanya menjadi
figur sentral yang dihormati, tetapi juga eksekutor [kebijakan](https://muhammadiyahciko.or.id/menata-ulang-kompas-pendidikan-nasional-telaah-kritis-atas-rencana-penghapusan-kenaikan-kelas-otomatis-pada-2027/)
yang cakap. Ini adalah bentuk modernisasi kepemimpinan Islam yang tidak menghilangkan
nilai-nilai spiritual, tetapi justru memperkuatnya dengan kerangka kerja yang profesional
dan rasional. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sendiri telah memberikan teladan
sempurna tentang integrasi ini, yang disebut sebagai _uswah hasanah_.

**لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو
اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا**

> _“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu(
> yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan
> dia banyak menyebut Allah.”_ (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

**Perumusan Program Berbasis Kerangka Keilmuan**

Di sisi lain, Haedar juga membagikan pengalamannya dalam mendesain kerangka kebijakan
[program](https://muhammadiyahciko.or.id/pentingnya-website-di-era-ai/) kerja organisasi.
Ia mengungkapkan, sejak era kepemimpinan Din Syamsuddin, penyusunan program di Muhammadiyah
selalu berlandaskan pendekatan ilmiah dan kajian akademis. Kala itu, PP Muhammadiyah
bahkan menghadirkan Andrew E.B. Tani, penulis buku _Get Real: Berdayakan Manager-
Leader dalam Diri Anda_, untuk memperkaya perspektif perumusan program.

Meskipun demikian, Muhammadiyah tidak menelan mentah-mentah teori Barat tersebut.
Melalui diskusi yang mendalam, para pimpinan menyaring teori yang benar-benar relevan
dengan kebutuhan organisasi. “Kebijakan dan desain format program di PP Muhammadiyah
merupakan hasil kerja-kerja keilmuan, bukan asal dirumuskan,” jelas Haedar.

Pendekatan ini menegaskan komitmen Muhammadiyah sebagai gerakan yang terbuka terhadap
kemajuan ilmu pengetahuan, namun tetap selektif dan berpegang teguh pada nilai-nilai
Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan untuk melakukan 
konsultasi dalam setiap urusan, sebagaimana firman-Nya:

**وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ**

> _“Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka.”_ (QS. Asy-
> Syura [42]: 38)

Penggunaan kajian keilmuan dan pendekatan manajerial modern dalam merumuskan kebijakan
adalah bentuk ijtihad kolektif yang bertujuan untuk mencapai kemaslahatan umat yang
sebesar-besarnya, tanpa kehilangan identitas sebagai gerakan [dakwah](https://muhammadiyahciko.or.id/prof-dadang-kahmad-tekankan-jurnalistik-sebagai-dakwah-berkemajuan-di-akademi-jurnalistik-muhammadiyah-4-malang/)
dan tajdid. (*)
