# Hakikat Manusia dalam Pandangan Islam

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/hakikat-manusia-dalam-pandangan-islam/
- Published: 2026-04-10T04:33:18+07:00
- Author: Arofah Firdaus

## (Kajian Filosofis Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits untuk Mata Kuliah AIK1)

## Abstrak

Manusia merupakan makhluk paling sempurna yang diciptakan Allah SWT. Namun, kesempurnaan
ini sering disalahartikan sebagai kebebasan mutlak tanpa batasan. Dalam pandangan
[Islam](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/),
hakikat manusia tidak hanya dipandang dari aspek biologis, tetapi juga aspek [spiritual](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/)
dan moral. Artikel ini mengkaji tiga hal pokok: (a) hakikat manusia; (b) asal-usul
kejadian manusia; dan (c) potensi manusia. Kajian ini merupakan bagian dari materi
AIK1 di Universitas Muhammadiyah Cirebon, yang bertujuan membangun fondasi pemahaman
Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

**Kata Kunci:** Hakikat manusia, asal-usul manusia, potensi manusia, AIK1, Universitas
Muhammadiyah Cirebon.

---

## Pendahuluan

Mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan 1 (AIK1) merupakan mata kuliah wajib di
seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah, termasuk Universitas Muhammadiyah Cirebon.
Salah satu tema sentral dalam AIK1 adalah pembahasan tentang manusia. Mengapa manusia
perlu dikaji? Karena manusia adalah subjek sekaligus objek [pendidikan](https://muhammadiyahciko.or.id/menata-ulang-kompas-pendidikan-nasional-telaah-kritis-atas-rencana-penghapusan-kenaikan-kelas-otomatis-pada-2027/),
[dakwah](https://muhammadiyahciko.or.id/prof-dadang-kahmad-tekankan-jurnalistik-sebagai-dakwah-berkemajuan-di-akademi-jurnalistik-muhammadiyah-4-malang/),
dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Tanpa memahami hakikat dirinya, manusia akan mudah terperangkap dalam gaya hidup
materialistis, sekuler, atau bahkan nihilistik. Oleh karena itu, Islam menawarkan
konsep yang komprehensif tentang siapa sebenarnya manusia, dari mana asalnya, dan
potensi apa yang ia miliki.

---

## A. Kajian Tentang Hakikat Manusia

Dalam pandangan Islam, hakikat manusia tidak sekadar _homo sapiens_ (makhluk berpikir)
atau _zoon politicon_ (makhluk bermasyarakat). Lebih dari itu, manusia adalah **‘
abdullah** (hamba Allah) dan **khalifah fil ardh** ([pemimpin](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-reboan-masjid-santun-muhammadiyah-cirebon-ustadz-dr-maman-rusman-tekankan-larangan-membela-pengkhianat/)
di bumi).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. at-Tiin (95): 4:

### **لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ**

> _Laqad khalaqnal-insāna fī aḥsani taqwīm._
> **Artinya:** _“Sesungguhnya Kami telah
> menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”_ (QS. at-Tiin: 4)

Ayat ini menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam _ahsani taqwim_ — sebaik-baik
bentuk, baik secara fisik, intelektual, maupun spiritual. Inilah yang membedakan
manusia dari makhluk lain. Hakikat manusia bukanlah kebetulan evolusioner, melainkan
kehendak langsung Sang Pencipta.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:

### **إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ**

> _Innallāha khalaqa Ādama ‘alā ṣūratihī._
> **Artinya:** _“Sesungguhnya Allah menciptakan
> Adam sesuai dengan sifat-sifat-Nya (yang layak bagi-Nya).”_ (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini tidak berarti menyamakan manusia dengan Allah secara fisik, melainkan
bahwa manusia diberi potensi untuk memiliki sifat-sifat mulia milik Allah seperti
Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil, dan Maha Bijaksana secara terbatas.

Dengan demikian, hakikat manusia dalam Islam bersifat **dualistik namun integral**:
jasmani dan rohani, hamba dan khalifah, individu dan sosial.

---

## B. Asal-usul Kejadian Manusia

Al-Qur’an menjelaskan secara bertahap asal-usul kejadian manusia. Ada dua tahap 
besar: penciptaan manusia pertama (Nabi Adam) dan proses reproduksi manusia selanjutnya.

### 1. Penciptaan Adam dari Tanah

Allah berfirman dalam QS. as-Sajdah (32): 7-8:

### **الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ ﴿٧﴾ ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ**

> _Allażī aḥsana kulla syai’in khalaqah, wa bada’a khalqal-insāni min ṭīn (7). Ṡumma
> ja’ala naslahū min sulālatin min mā’in mahīn (8)._
> **Artinya:** _“(7) Yang membuat
> segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya; dan Dia memulai penciptaan manusia
> dari tanah. (8) Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina(
> air mani).”_ (QS. as-Sajdah: 7-8)

Ayat ini menegaskan bahwa asal-usul manusia bukan dari kera, melainkan dari _ṭīn_(
tanah). Ini menunjukkan nilai egaliter manusia: semua berasal dari tanah dan akan
kembali ke tanah.

### 2. Tahapan Penciptaan Janin

Proses reproduksi manusia dijelaskan secara rinci dalam QS. al-Mu’minun (23): 14:

### **ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ**

> _Ṡumma khalaqnan-nuṭfata ‘alaqatan fa khalaqnal-‘alaqata muḍgatan fa khalaqnal-
> muḍgata ‘iẓāman fa kasawnal-‘iẓāma laḥman ṡumma ansya’nāhu khalqan ākhar, fatabārakallāhu
> aḥsanul-khāliqīn._
> **Artinya:** _“Kemudian Kami menjadikan air mani itu segumpal
> darah, lalu segumpal darah itu menjadi segumpal daging, lalu segumpal daging itu
> menjadi tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. 
> Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta
> Yang Paling Baik.”_ (QS. al-Mu’minun: 14)

Ayat ini menunjukkan bahwa embriologi modern baru ditemukan beberapa abad kemudian,
sementara Al-Qur’an telah menyebutkannya sejak 14 abad lalu. Ini membuktikan keilmiahan
wahyu sekaligus mengajarkan manusia untuk merenungkan proses penciptaannya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

### **إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ**

> _Inna aḥadakum yujma’u khalquhū fī baṭni ummihī arba‘īna yauman nuṭfatan, ṡumma
> yakūnu ‘alaqatan miṡla żālika, ṡumma yakūnu muḍgatan miṡla żālika._
> **Artinya:**_“
> Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama
> 40 hari sebagai nutfah, kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu pula,
> kemudian menjadi muḍgah (segumpal daging) selama itu pula.”_ (HR. Bukhari dan 
> Muslim)

Hadits ini semakin memperkuat deskripsi Al-Qur’an tentang tahapan kejadian manusia.

---

## C. Potensi Manusia

Islam mengajarkan bahwa manusia diberi potensi luar biasa oleh Allah. Potensi ini
dapat dibagi menjadi tiga:

### 1. Potensi Fisik (Jasadiyah)

Manusia diberi tubuh yang sempurna: tangan untuk bekerja, kaki untuk berjalan, otak
untuk berpikir. Potensi fisik harus dijaga, dikembangkan, dan digunakan di jalan
kebaikan.

### 2. Potensi Akal (Aqliyah)

Akal membedakan manusia dari hewan. Dengan akal, manusia bisa menciptakan teknologi,
sains, dan peradaban. Namun, akal tanpa petunjuk wahyu akan tersesat. Allah berfirman:

### **وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ**

> _Wallāhu akhrajakum min buṭūni ummahātikum lā ta‘lamūna syai’an wa ja‘ala lakumus-
> sam‘a wal-abṣāra wal-af’idah la‘allakum tasykurūn._
> **Artinya:** _“Dan Allah mengeluarkan
> kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi
> kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.”_ (QS. an-
> Nahl: 78)

### 3. Potensi Spiritual (Ruhiyah)

Potensi inilah yang paling mulia. Dengan ruh, manusia bisa mengenal Allah, beribadah,
dan merasakan ketenangan. Tanpa potensi spiritual, manusia menjadi robot materialistis.
Rasulullah SAW bersabda:

### **أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ**

> _Alā wa inna fīl-jasadi muḍgatan, iżā ṣalaḥat ṣalaḥal-jasadu kulluh, wa iżā fasadat
> fasadal-jasadu kulluh, alā wa hiyal-qalb._
> **Artinya:** _“Ingatlah, di dalam tubuh
> itu ada segumpal daging. Jika ia baik, baik pula seluruh tubuh. Jika ia rusak,
> rusak pula seluruh tubuh. Ingatlah, ia adalah hati.”_ (HR. Bukhari dan Muslim)

Potensi hati inilah yang harus dilatih melalui keimanan dan ketakwaan.

---

## Implikasi dalam Kehidupan Mahasiswa

Pemahaman tentang hakikat manusia di Universitas Muhammadiyah Cirebon memiliki implikasi
praktis:

 1. **Menumbuhkan rasa syukur** atas nikmat fisik, akal, dan ruh.
 2. **Menghindari kesombongan** karena manusia berasal dari tanah.
 3. **Mengembangkan potensi** secara seimbang (intelektual, spiritual, sosial).
 4. **Menjadi khalifah yang amanah** di kampus, keluarga, dan masyarakat.
 5. **Memahami bahwa tujuan hidup** bukan sekadar sukses duniawi, tetapi _ridha Allah_.

---

## Penutup

Hakikat manusia dalam pandangan Islam adalah makhluk ciptaan Allah yang paling mulia,
berasal dari tanah dan proses biologis yang bertahap, serta diberi potensi fisik,
akal, dan spiritual. Potensi ini harus diaktualisasikan dalam kerangka _‘ubudiyah_
dan _khilafah_. Mata kuliah AIK1 di Universitas Muhammadiyah Cirebon menjadi wadah
strategis untuk menanamkan pemahaman ini sejak dini, sehingga lahir generasi yang_
[berkemajuan](https://muhammadiyahciko.or.id/prof-dadang-kahmad-tekankan-jurnalistik-sebagai-dakwah-berkemajuan-di-akademi-jurnalistik-muhammadiyah-4-malang/)_
dan berakhlak mulia.

**Wallahu a’lam biṣ-ṣawāb.**

---

**Daftar Pustaka**

Al-Qur’an al-Karim dan Terjemahannya. (2019). Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf
Al-Qur’an.

Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. _Shahih al-Bukhari_.

Muslim bin al-Hajjaj. _Shahih Muslim_.

Tim Dosen AIK Universitas Muhammadiyah Cirebon. (2023). _Buku Ajar AIK1: Pengantar
Studi Islam_. Cirebon: UM Cirebon Press.

Shihab, M. Quraish. (2013). _[Tafsir](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-ahad-pagi-pcm-kesambi-ustadz-agus-wahid-ulas-tafsir-al-asr-ingatkan-pentingnya-manajemen-waktu/)
al-Misbah_. Jakarta: Lentera Hati.

---
