# Kajian Reboan Masjid Santun: Ustadz Sunarya Urai Persiapan Ramadhan dengan Memperbaiki Kualitas Shalat

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/kajian-reboan-masjid-santun-ustadz-dr-maman-rusman-urai-persiapan-ramadhan-dengan-memperbaiki-kualitas-shalat/
- Published: 2026-02-11T20:10:15+07:00
- Author: Arofah Firdaus

**CIREBON, 11 Februari 2026** – Suasana khidmat menyelimuti [Masjid Santun](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-reboan-masjid-santun-muhammadiyah-cirebon-ustadz-dr-maman-rusman-tekankan-larangan-membela-pengkhianat/)
Muhammadiyah [Kota Cirebon](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-editorial/) pada
Kajian Reboan malam ini. Mengusung tema **“Persiapan Ramadhan: Memperbaiki Shalat”**,
Ustadz Sunarya, S.Pd.I., MM. menyampaikan kajian mendalam yang mengupas tuntas dua
tipologi shalat: shalatnya orang munafik dan shalat yang diterima Allah Subhanahu
Wa Ta’ala. Kajian yang berlangsung dari ba’da Maghrib hingga Isya ini dihadiri oleh
jamaah yang antusias mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadhan.

---

## Tipologi Pertama: Shalatnya Orang Munafik

Mengawali kajian, Ustadz Sunarya menjelaskan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam
Al-Qur’an telah memberikan peringatan tegas mengenai ciri-ciri shalat yang dilakukan
oleh orang-orang munafik. Beliau mengutip firman Allah dalam QS. An-Nisa’ ayat 142:

**إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا 
إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ
إِلَّا قَلِيلًا**

_“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan
mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka
bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut 
Allah kecuali sedikit sekali.”_

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/02/img-20260211-
wa00256499264722832955797.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

Pemateri menjelaskan tiga ciri utama shalatnya orang munafik berdasarkan ayat ini
dan dikuatkan oleh hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam :

**1. Shalat dengan Malas dan Tidak Sungguh-Sungguh**

“Mereka melaksanakan shalat sekadar menggugurkan kewajiban, tanpa kehadiran hati
dan tanpa kekhusyukan. Shalat dilakukan dengan tergesa-gesa, seperti burung mematuk
makanan,” jelas Ustadz Sunarya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 
Alaihi Wasallam :

**تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ
قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَ أَرْبَعًا لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلَّا
قَلِيلًا**

_“Itulah shalat orang munafik. Ia duduk mengintai matahari hingga ketika matahari
berada di antara dua tanduk setan, ia berdiri dan mematuk empat kali (shalat dengan
cepat), tidak mengingat Allah kecuali sedikit.”_ (HR. Muslim)

**2. Riya’ atau Ingin Dilihat Orang**

Ciri kedua, tegas beliau, adalah riya’ yaitu shalat karena ingin dipuji atau dilihat
manusia, bukan karena Allah. Ayat QS. Al-Ma’un ayat 6 dengan tegas menyebutkan:

**الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ**

_“(Yaitu) orang-orang yang berbuat riya’.”_

**3. Jarang Berdzikir dan Mengingat Allah**

“Lisan mereka basah dengan bacaan shalat, namun hati mereka lalai. Mereka hanya 
menyebut Allah sedikit sekali, baik dalam shalat maupun di luar shalat,” tambahnya.
Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam QS. An-Nisa’: 142 bahwa mereka _“tidak menyebut
Allah kecuali sedikit sekali.”_

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/02/img-20260211-
wa00279142790178106714887.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

Ustadz Sunarya mengingatkan bahwa ciri-ciri ini bukan untuk menghakimi orang lain,
melainkan untuk introspeksi diri. “Barangkali kita masih sering malas dan berat.
Mulai sekaranglah saatnya kita bertaubat. Mudah-mudahan Allah memudahkan dan meringankan
langkah kita untuk shalat,” pesannya .

---

## Tipologi Kedua: Shalat yang Diterima Allah

Memasuki inti kajian, pemateri menjelaskan kriteria shalat yang diterima di sisi
Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Beliau merujuk pada sebuah hadits qudsi yang panjang 
dan sarat makna. Hadits qudsi adalah firman Allah yang disampaikan kepada Rasulullah
Shalallahu Alaihi Wasallam dengan lafal dari beliau, yang maknanya dari Allah Ta’ala.

**عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّمَا أَتَقَبَّلُ الصَّلَاةَ
مِمَّنْ تَوَاضَعَ بِهَا لِعَظَمَتِي، وَلَمْ يَسْتَكْبِرْ عَلَى عِبَادِي، وَأَطْعَمَ
الْجَائِعَ، وَكَسَا الْعَارِيَ، وَرَحِمَ الْمُصَابَ، وَآوَى الْغَرِيبَ، وَتَرَكَ
الشَّهْوَةَ مِنْ أَجْلِي، وَأَظْلَمَ عَلَيْهِ اللَّيْلُ فَقَامَ يَنْشُدُنِي، فَوَعِزَّتِي
وَجَلَالِي إِنِّي لَأُجِيلُ نُورَهُ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ، وَأَجْعَلُهُ يَتَقَلَّبُ
فِي نُورٍ، وَأَحْفَظُهُ فِي الْأَرْضِ كَمَا أَحْفَظُهُ فِي السَّمَاءِ، وَأَكَالَؤُهُ
مِنَ الْمَلَائِكَةِ كَمَا يَكَالَؤُونَ أَهْلَ السَّمَاءِ، وَإِنَّ مَثَلَهُ عِنْدِي
كَمَثَلِ الْفِرْدَوْسِ لَا يَغْبَى ثَمَرُهَا وَلَا يَتَغَيَّرُ حَالُهَا**

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda, Allah Ta’ala
berfirman:
_“Sesungguhnya Aku hanya akan menerima shalat orang-orang yang merendahkan
dirinya karena kebesaran-Ku, tidak sombong terhadap hamba-hamba-Ku, memberi makan
orang yang lapar, memberi pakaian kepada yang telanjang, menyayangi orang yang terkena
musibah, memberikan perlindungan kepada orang yang terasing, meninggalkan syahwat
karena Aku, dan malam yang gelap tidak menghalanginya untuk berdiri memohon kepada-
Ku. Maka demi keagungan dan kemuliaan-Ku, sungguh Aku akan menerangi cahayanya di
tengah kegelapan malam, Aku jadikan ia bergelimang dalam cahaya, Aku menjaganya 
di bumi sebagaimana Aku menjaganya di langit, Aku tugaskan malaikat menjaganya sebagaimana
mereka menjaga penghuni langit. Sungguh perumpamaannya di sisi-Ku seperti surga 
Firdaus yang buahnya tidak pernah habis dan keadaannya tidak pernah berubah.”_ (
HR. Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’)

Dari hadits qudsi yang agung ini, Ustadz Sunarya merinci **enam kriteria shalat 
yang diterima Allah** sebagai berikut:

### 1. Merendahkan Diri di Hadapan Allah (At-Tawadhu’)

“Kriteria pertama adalah tawadhu’, merendahkan diri karena kebesaran Allah. Shalat
yang diterima adalah shalat yang lahir dari hati yang hancur, sadar betul sedang
berdiri di hadapan Rabbul ‘Alamin,” ujarnya.

Beliau menceritakan keteladanan Imam Ali Zainal Abidin RA. Suatu hari beliau berwudhu
dengan wajah pucat pasi dan tubuh gemetar. Ketika ditanya, beliau menjawab: _“Engkau
tidak mengetahui di hadapan siapa sebentar lagi aku akan berdiri.”_

### 2. Menahan Hawa Nafsu Karena Allah

“Shalat yang diterima akan melahirkan kemampuan mengendalikan syahwat. Bukan shalat
yang justru dibarengi dengan maksiat,” tegas Ustadz Sunarya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda tentang tujuh golongan yang dinaungi
Allah pada hari kiamat, di antaranya:

**وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ**

_“Seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang [perempuan](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-aisyiyah-kota-cirebon-bahas-kepemimpinan-perempuan/)
yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut
kepada Allah’.”_ (HR. Bukhari & Muslim)

### 3. Banyak Berdzikir dan Mengingat Allah

Kriteria ketiga adalah memperbanyak dzikir, karena shalat pada hakikatnya adalah
dzikir yang agung. Allah berfirman:

**وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي**

_“Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”_ (QS. Thaha: 14)

Ustadz Sunarya mengingatkan bahwa Allah tidak menilai siapa yang paling banyak amalnya(
_aksaru amalan_), tetapi siapa yang paling baik amalnya (_ahsan u amalan_) .

### 4. Munculnya Sifat Sosial dan Tidak Sombong

“Shalat yang baik akan melahirkan akhlak mulia. Salah satu indikasinya adalah tidak
sombong terhadap sesama makhluk Allah. Ia justru menjadi pribadi yang rendah hati
dan ringan membantu,” paparnya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

**التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ**

_“Pedagang yang jujur dan terpercaya (kelak akan dikumpulkan) bersama para nabi,
shiddiqin, dan syuhada.”_ (HR. Tirmidzi)

### 5. Memiliki Rasa Takut kepada Allah (Al-Khasyyah)

Rasa takut yang dimaksud bukan ketakutan yang membuat putus asa, melainkan _khasyyah_,
yaitu perasaan takut yang lahir dari pengagungan dan kecintaan kepada Allah.

“Orang yang shalatnya diterima akan selalu merasa diawasi oleh Allah. Ia akan menjaga
dirinya dari kemaksiatan, bukan hanya saat shalat, tetapi juga di luar shalat,” 
jelasnya.

### 6. Menyayangi Orang yang Terkena Musibah

Kriteria keenam adalah _rahmat_ atau kasih sayang kepada sesama, khususnya kepada
mereka yang sedang ditimpa musibah. Beliau mengutip hadits:

**مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ**

_“Barangsiapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”_ (HR. Bukhari & Muslim)

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/02/img-20260211-
wa00281591284872515262044.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

Ustadz Sunarya menegaskan bahwa shalat yang khusyuk seharusnya melahirkan solidaritas
[sosial](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/)
yang tinggi. “Jika shalat tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, serta 
tidak menumbuhkan kepedulian kepada fakir miskin dan anak yatim, maka shalat itu
patut dipertanyakan kualitasnya,” tegasnya .

---

## Persiapan Ramadhan: Membangun Shalat Berkualitas

Menutup kajian, Ustadz Sunarya Rusman mengajak jamaah untuk menjadikan momentum 
bulan Sya’ban ini sebagai sarana latihan memperbaiki shalat sebelum memasuki Ramadhan.
Beliau mengingatkan bahwa shalat adalah amal pertama yang akan dihisab pada hari
kiamat.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

**إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ
فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ**

_“Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba di hari kiamat 
adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, maka ia beruntung dan sukses. Apabila 
shalatnya rusak, maka ia merugi dan kecewa.”_ (HR. Tirmidzi, hasan)

“Ramadhan adalah syahrut tarbiyah, bulan [pendidikan](https://muhammadiyahciko.or.id/menata-ulang-kompas-pendidikan-nasional-telaah-kritis-atas-rencana-penghapusan-kenaikan-kelas-otomatis-pada-2027/).
Mari kita persiapkan diri dengan memperbaiki shalat kita. Dari shalat yang berkualitas,
akan lahir pribadi-pribadi yang bertakwa, jujur, dermawan, penyayang, dan istiqamah
dalam kebaikan,” pungkasnya.

Kajian ditutup dengan doa bersama, memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar
diterima segala amal ibadah dan dipertemukan dengan bulan Ramadhan dalam keadaan
sehat wal ‘afiat.
