# Khatib Ingatkan Jamaah: Tawakal Bukan Pasif, Ada Ikhtiar dan Doa di Baliknya

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/khatib-ingatkan-jamaah-tawakal-bukan-pasif-ada-ikhtiar-dan-doa-di-baliknya/
- Published: 2026-10-30T14:11:27+07:00
- Author: Redaksi-AF

MASJID Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada hari Jumat ini (30/10) menggelar salat
Jumat dengan khidmat. Bertindak selaku imam sekaligus khatib, **Ustadz Dr. Alvien
Haerisma, S.E.I., M.S.I.,** menyampaikan khutbah bertema **“Tawakal”** yang dikaitkan
dengan momentum bulan Jumadil Awal serta tantangan adaptasi umat dalam segala musim
kehidupan.

Dalam muqaddimah khutbahnya, Ustadz Alvien menjelaskan makna etimologis Jumadil 
Awal. Menurutnya, kata “Jumadil” berasal dari akar kata yang berarti beku atau dingin,
sedangkan “Awal” berarti pertama. “Jadi, Jumadil Awal dapat dipahami sebagai awal
bulan memasuki musim dingin. Pada fase ini, masyarakat Arab dahulu mengalami musim
yang dingin dan beku,” ujarnya di hadapan jamaah.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261030-
WA0029.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

Dari realitas historis tersebut, khatib menarik sebuah pelajaran penting: **“Apapun
musimnya, kita harus bisa beradaptasi.”** Adaptasi ini bukan hanya dalam konteks
cuaca, melainkan juga dalam menghadapi dinamika kehidupan sosial dan ekonomi yang
terus berubah.

Memasuki inti khutbah, Ustadz Alvien mengutip pandangan **Sayyid Alawi al-Haddad**
mengenai makna tawakal secara istilah, yaitu berserah diri kepada Allah. Namun, 
ia menegaskan bahwa tawakal bukanlah sikap pasif. Setelah tawakal, terdapat fase
kedua yang harus dilalui seorang hamba, yakni **ikhtiar** (usaha maksimal) dan **
doa**.

Dalam paparannya, khatib merinci tiga tanda tawakal menurut Sayyid Alawi al-Haddad
yang harus tertanam dalam diri seorang mukmin:

**Pertama, tidak takut kepada siapa pun dan hanya takut kepada Allah.** Landasan
utamanya adalah firman Allah dalam Surah Al-Fatihah ayat 5:

> **اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ**
> _Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn_“
> Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon 
> pertolongan.”

**Kedua, tidak perlu risau berkaitan dengan rezeki.** Ustadz Alvien menekankan bahwa
rezeki tidak serta-merta identik dengan harta. Kesehatan, anak, dan keluarga yang
harmonis adalah bentuk rezeki yang tak ternilai. Ia merujuk pada Surah Al-An’am 
ayat 151:

> **نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَاِيَّاهُمْ**
> _Naḥnu narzuqukum wa iyyāhum_“Kamilah yang
> memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.”

Dalam konteks ini, jamaah diajak untuk tidak iri terhadap kekayaan, jabatan, atau
kelebihan orang lain, karena pembagian rezeki adalah hak prerogatif Allah.

**Ketiga, hatinya tidak pernah goncang atau gundah gulana saat menghadapi permasalahan.**
Keteguhan hati ini merupakan buah dari keyakinan bahwa Allah adalah sebaik-baik 
pelindung.

Sebagai penutup, khatib mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan tawakal sebagai
pijakan dalam menjalani kehidupan sehari-hari, terutama di tengah ketidakpastian
iklim dan ekonomi saat ini. “Dengan tawakal yang benar, disertai ikhtiar yang sungguh-
sungguh dan doa yang khusyuk, kita akan mampu melewati musim apa pun dengan hati
yang tenang,” pungkasnya.

Salat Jumat di Masjid Santun Muhammadiyah berlangsung tertib dan lancar. Jamaah 
yang hadir tampak antusias menyimak pemaparan khutbah hingga selesai. (*)

**Peliput : Dakum**
