# Khutbah Jumat di Masjid Ad-Dien UMMADA Kalitanjung: Renungan Ujian Tahunan dan Pelajaran dari QS. At-Taubah: 126

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/khutbah-jumat-di-masjid-ad-dien-ummada-kalitanjung-renungan-ujian-tahunan-dan-pelajaran-dari-qs-at-taubah-126/
- Published: 2026-08-07T13:41:43+07:00
- Author: Arofah Firdaus

SUASANA khusyuk dan penuh makna menyelimuti pelaksanaan salat Jumat di Masjid Ad-
Dien UMMADA, Kalitanjung, [Kota Cirebon](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-editorial/),
pada Jumat, 7 Agustus 2026. Bertindak sebagai imam dan khatib, **Ustadz Ahmad, S.
Ag., M.Pd.,** menyampaikan khutbah dengan tema yang menggugah kesadaran umat, mengangkat
firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 126 tentang ujian tahunan yang senantiasa 
menimpa manusia.

Ustadz Ahmad mengawali khutbah dengan membacakan ayat suci Al-Qur’an:

> **أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ
> ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ**
> _“Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji satu kali atau dua kali
> setiap tahun, kemudian mereka tidak juga bertobat dan tidak pula mengambil pelajaran?”_(
> QS. At-Taubah: 126)

## Memahami Makna “Satu Kali atau Dua Kali Setiap Tahun”

Dalam khutbahnya, Ustadz Ahmad menjelaskan bahwa ayat ini sering menimbulkan pertanyaan
di kalangan umat, apakah benar ujian itu hanya datang satu atau dua kali dalam setahun.
Beliau memaparkan penafsiran para ulama yang memberikan pemahaman mendalam tentang
maksud angka tersebut.

**Ibnu Katsir** menjelaskan bahwa angka “satu atau dua” dalam ayat ini bukanlah 
pembatasan matematis, melainkan menunjukkan makna _sedikit atau banyak_. Dalam bahasa
Arab, penggunaan angka kecil sering dimaksudkan untuk menunjukkan “beberapa kali”.
Hakikatnya, Allah terus-menerus menguji hamba-Nya, entah itu sering atau jarang,
dengan tujuan agar manusia senantiasa sadar dan kembali kepada-Nya.

**As-Sa’di** menambahkan bahwa ujian itu datang secara bergantian. Ada tahun yang
ujiannya besar dan hanya satu kali, ada pula tahun yang ujiannya datang dua kali.
Pola ini sengaja dirancang agar manusia menyadari bahwa hidup ini penuh dengan cobaan,
dan setiap cobaan adalah panggilan untuk introspeksi. Contohnya, tahun ini seseorang
diuji dengan sakit, tahun berikutnya diuji dengan kehilangan, dan seterusnya.

**Al-Qurthubi** mengaitkan turunnya ayat ini dengan peristiwa Perang Tabuk, di mana
orang-orang munafik diuji dengan dua hal sekaligus, yaitu (1) perintah untuk berjihad
dan (2) terbongkarnya kemunafikan mereka. Maka “satu atau dua” bisa dimaknai sebagai
jenis ujian yang berbeda, yaitu ujian iman dan ujian amal.

Dari ketiga penafsiran ini, Ustadz Ahmad menarik kesimpulan bahwa Allah tidak menghitung
secara matematis “pas satu atau dua”. Ayat ini adalah teguran halus sekaligus peringatan:_“
Setiap tahun pasti ada ujian. Masa iya tidak sadar-sadar juga?”_

## Emat Tujuan Ujian dalam Kehidupan Manusia

Khatib melanjutkan dengan menguraikan empat tujuan utama Allah menurunkan ujian 
kepada hamba-Nya:

**Pertama, Ujian Nikmat.** Ini adalah tes rasa syukur. Ketika gaji naik, [kesehatan](https://muhammadiyahciko.or.id/rs-muhammadiyah-ini-hadirkan-wisata-kesehatan-berkemajuan/)
terjaga, atau kehidupan membaik, apakah seseorang menjadi semakin sombong atau justru
semakin gemar bersedekah dan berbagi?

**Kedua, Ujian Musibah.** Ini adalah tes kesabaran. Ketika sakit, rugi, atau ditinggal
orang yang dicintai, apakah seseorang semakin mendekat kepada Allah atau justru 
menjauh dan berputus asa?

**Ketiga, Ujian Iman.** Ini adalah tes keyakinan. Di tengah maraknya hoaks dan fitnah,
apakah seseorang goyah atau justru semakin kokoh memegang prinsip kebenaran?

**Keempat, Ujian Keluarga dan Pekerjaan.** Ini adalah tes akhlak. Ketika disakiti
rekan kerja, dikhianati, atau diperlakukan tidak adil, apakah seseorang memilih 
memaafkan atau membalas dendam?

## Hikmah Neuroscience: Hormesis dan Kenaikan Level Iman

Mengangkat pendekatan ilmiah, Ustadz Ahmad menyampaikan hikmah dari perspektif _neuroscience_
bahwa otak manusia membutuhkan “stresor” kecil untuk dapat naik level. Fenomena 
ini dikenal dengan istilah _hormesis_, di mana paparan tekanan ringan justru membuat
sistem menjadi lebih kuat.

“Tanpa ujian, iman kita tidak akan naik. Sama seperti otot, kalau tidak pernah diangkat
beban, ia tidak akan pernah kuat,” ujar khatib di hadapan jamaah.

## Lanjutan Ayat: “Tetapi Mereka Tidak Bertobat dan Tidak Mengambil Pelajaran”

Ustadz Ahmad menegaskan bahwa inti pesan ayat ini bukanlah kemarahan Allah karena
manusia diuji, melainkan kesedihan-Nya karena setelah diuji, manusia tidak kunjung
berubah.

Beliau memaparkan pola manusia munafik yang digambarkan dalam ayat ini:

 1. Diberi ujian → panik, menangis, dan memohon kepada Allah.
 2. Ujian selesai → lupa lagi, kembali bermaksiat.
 3. Diulang tahun depan → kaget lagi, seolah-olah tidak pernah mendapat pelajaran.

Maka Allah bertanya dengan nada sindiran halus, _“Tidakkah mereka mengambil pelajaran?”_

## Kesimpulan: Ujian sebagai Sarana Pembersihan dan Kenaikan Derajat

Di akhir khutbah, Ustadz Ahmad menyimpulkan bahwa Allah menguji manusia setiap tahun
bukan untuk menyiksa, melainkan untuk dua tujuan mulia:

 1. **Membersihkan dosa-dosa**, sebagaimana api memurnikan emas dari kotorannya.
 2. **Menaikkan derajat**, sebagaimana seorang murid harus melalui ujian untuk naik
    kelas.

“Angka ‘satu atau dua’ itu adalah sindiran halus dari Allah: ‘Aku sudah kasih sinyal
setahun satu atau dua kali lho. Masa kamu masih tidak ngeh juga?'” pesan khatib 
dengan penuh hikmah.

Beliau mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan setiap ujian sebagai momentum taubat
dan pembelajaran. “Kalau tahun ini rasanya berat banget, mungkin itu ‘ujian tahunan’
kita. Luluskan dengan taubat dan belajar. Biar tahun depan naik level, bukan mengulang
ujian yang sama,” pungkasnya.

Salat Jumat berlangsung dengan tertib dan penuh kekhusyukan. Jamaah tampak merenungkan
pesan-pesan yang disampaikan, berharap dapat mengambil pelajaran dari setiap ujian
yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menjadikannya sebagai sarana peningkatan
kualitas iman dan ketakwaan. (*)

**Peliput : Fahyudin** dan Tim [Media](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-editorial/)
masjid Ad-Dien

**Editor : Arofah Firdaus **

## Comments

### By: Fahyudin

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/khutbah-jumat-di-masjid-ad-dien-ummada-kalitanjung-renungan-ujian-tahunan-dan-pelajaran-dari-qs-at-taubah-126/comment-page-1/#comment-5083
- Published: 2026-08-07T14:04:52+07:00

Semoga kita tidak termasuk golongan yang diberi ujian tapi lupa mengambil pelajaran,
dan semoga kita senantiasa dinikmati kelulusan dalam setiap ujian hidup. Amin.

### By: Yandi Heryandi

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/khutbah-jumat-di-masjid-ad-dien-ummada-kalitanjung-renungan-ujian-tahunan-dan-pelajaran-dari-qs-at-taubah-126/comment-page-1/#comment-5081
- Published: 2026-08-07T13:53:15+07:00

Semoga Kita mampu menghadapi segala ujian dari Allah SWT
