# Khutbah Jumat di Masjid Raya Ad-Dien UMMADA: “Orang Bertakwa, Apakah Bebas dari Dosa?”

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/khutbah-jumat-di-masjid-raya-ad-dien-ummada-orang-bertakwa-apakah-bebas-dari-dosa/
- Published: 2026-07-24T17:09:19+07:00
- Author: Arofah Firdaus

**CIREBON**, **24 Juli 2026** — Suasana khusyuk dan penuh kebersamaan menyelimuti
pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Raya Ad-Dien UMMADA (Universitas Muhammadiyah 
Ahmad Dahlan Cirebon) pada hari Jumat, 24 Juli 2026. Bertindak sebagai imam sekaligus
khatib, Assocc. Prof. Dr. KH. Toto Santi Aji, M.Ag., Dosen Universitas Muhammadiyah
Cirebon, menyampaikan khutbah dengan tema mendalam: **“Orang yang Bertakwa, Apakah
Orang yang Bebas dari Dosa?”**

Jamaah dari berbagai kalangan termasuk dosen dan masyarakat sekitarnya tampak larut
dalam renungan saat mendengar paparan ilmiah dan [spiritual](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/)
dari khatib. Ustadz Toto Santi Aji mengajak seluruh hadirin untuk memahami hakikat
takwa secara utuh—bukan sekadar label kesalehan, melainkan kesadaran batin yang 
terus-menerus terhubung dengan Allah.

---

## Takwa: Puncak Keimanan dan Jaminan Surga

Mengawali khutbahnya, Ustadz Toto menjelaskan bahwa manusia yang sempurna imannya
di hadapan Allah adalah orang yang bertakwa. Orang bertakwa adalah hamba Allah yang
akan mendapat jaminan surga penuh kenikmatan. Beliau menyitir sabda Rasulullah Shallallahu‘
Alaihi Wasallam:

> إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِي الْمُتَّقُونَ مَنْ كَانُوا وَحَيْثُ كَانُوا

Artinya: _“Sesungguhnya orang-orang yang paling utama bagiku adalah orang-orang 
yang bertakwa, siapa pun dan di mana pun mereka berada.”_ (HR. Ahmad)

Dalam [tafsir](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-ahad-pagi-pcm-kesambi-ustadz-agus-wahid-ulas-tafsir-al-asr-ingatkan-pentingnya-manajemen-waktu/)
_Fii Zhilalil Qur’an_, Sayyid Qutb menyatakan bahwa takwa adalah puncak dari keimanan.
Hal ini menunjukkan bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang terbaik dan sempurna
imannya. Namun, pertanyaan penting kemudian muncul: **Apakah orang yang bertakwa
atau sempurna imannya adalah orang yang bebas dari kesalahan, kekurangan, dan dosa?**

---

## Orang Bertakwa Bukan Manusia Maksum

Dengan gaya penyampaian yang lugas dan menyejukkan, Ustadz Toto mengajak jamaah 
merenungkan firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 133:

> وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ
> وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: _“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang
luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”_(
QS. Ali Imran [3]: 133)

Ayat ini, menurut beliau, menunjukkan bahwa orang bertakwa yang mendapatkan jaminan
surga adalah orang yang bersegera kepada ampunan Allah. Mereka memohon ampun karena
merasa ada kesalahan, kekurangan, atau dosa yang telah dilakukan. Kesadaran inilah
yang membedakan mereka—bukan karena bebas dari dosa, melainkan karena cepat menyadari
lalu bertobat.

---

## Kepekaan Hati: Ciri Utama Orang Bertakwa

Pada bagian kedua khutbah, Ustadz Toto membacakan lanjutan firman Allah dalam Surah
Ali Imran ayat 135:

> وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ
> فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ
> يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Artinya: _“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi
diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya.
Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan
perbuatan dosa itu, sedangkan mereka mengetahui.”_ (QS. Ali Imran [3]: 135)

Khatib menegaskan bahwa orang bertakwa adalah mereka yang pada saat melakukan dosa
besar atau dosa kecil, segera menyadari dengan mengingat Allah, lalu memohon ampun
dengan taubat nasuha (sebenar-benarnya taubat). Mereka merasa bersalah, menyesal,
beriktikad tidak mengulangi, dan berjanji menebusnya dengan ibadah serta amal saleh
yang lebih baik.

“Yang membedakan antara orang bertakwa dan yang tidak bertakwa bukanlah ketiadaan
dosa, melainkan **kepekaan hati** terhadap dosa,” ujar Ustadz Toto dengan tegas.“
Orang bertakwa sangat sensitif hatinya. Begitu dosa dilakukan, ia gelisah, tidak
nyaman, tumbuh penyesalan, lalu bersegera bertobat. Inilah hakikat takwa.”

---

## Penutup: Takwa Adalah Kesadaran, Bukan Kesempurnaan Mutlak

Mengakhiri khutbahnya, Assocc. Prof. Dr. KH. Toto Santi Aji mengajak seluruh jamaah
untuk tidak pernah putus asa dari rahmat Allah. Manusia biasa pasti memiliki khilaf,
kekurangan, dan dosa. Namun, yang menjadikan seorang hamba mulia di sisi-Nya adalah
kemampuannya untuk bangkit, menyesali, dan kembali ke jalan yang diridai.

Beliau menutup dengan doa agar seluruh umat [Islam](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/)
di [Kota Cirebon](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-editorial/) diberikan hati
yang peka, istikamah dalam taubat, dan selalu berada dalam lindungan Allah. Salat
Jumat pun ditutup dengan doa khusyuk yang dipimpin langsung oleh khatib, disambut
dengan amin yang menggema dari ribuan jamaah.

Suasana haru dan syukur menyelimuti Masjid Raya Ad-Dien UMMADA, mengukuhkan bahwa
takwa adalah perjalanan panjang—bukan sekadar status, melainkan kesadaran jiwa yang
terus diperbarui setiap detiknya.

**Peliput : Fahyudin dan Tim Media Masjid Ad-Dien UMMADA **

**Editor : Arofah Firdaus **
