# Khutbah Jumat di Masjid Santun Muhammadiyah Cirebon: Menjaga Keutuhan Negara dengan Meneladani Akhlak Rasulullah

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/khutbah-jumat-di-masjid-santun-muhammadiyah-cirebon-menjaga-keutuhan-negara-dengan-meneladani-akhlak-rasulullah/
- Published: 2026-11-06T12:31:33+07:00
- Author: Redaksi-AF

MASJID Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali menggelar salat Jumat berjamaah 
pada Jumat (6/11/2026). Bertindak sebagai imam dan khatib, Ustadz **Indra Sudrajat,
M.E.Sy.,** menyampaikan khutbah bertema upaya menjadikan Indonesia sebagai _baldatun
thayyibatun wa rabbun ghafur_ (negeri yang baik dan Tuhan yang Maha Pengampun).

Dalam khutbahnya, Ustadz Indra mengawali dengan mengutip firman Allah Subhanahu 
Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an Surah Muhammad ayat 22:

**فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا
أَرْحَامَكُمْ**

**Artinya:** _“Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan 
di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?”_ (QS. Muhammad: 22)

Ayat tersebut, menurut Ustadz Indra, menjadi peringatan bagi setiap Muslim agar 
tidak menyebarkan kerusakan ketika diberikan amanah kekuasaan. Ia menekankan pentingnya
menjaga persatuan dan silaturahmi demi terwujudnya negara yang baldatun thayyibatun
wa rabbun ghafur.

**Nasihat dengan Cara yang Baik**

Dalam khutbahnya, Ustadz Indra juga mengutip pesan Imam Ahmad bin Hanbal tentang
adab dalam menasihati. “Jika kalian hendak menasihati dengan cara diam-diam, duduklah
bersama dan sampaikan dengan baik-baik. Jika ditolak, kamu telah berbuat kebaikan,”
ujarnya, menirukan pesan Imam Ahmad.

Ia kemudian menceritakan kisah pada zaman Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam
tentang seorang Muslim bernama Hajat bin Yusuf yang dikenal sebagai pembunuh para
sahabat Nabi. Namun, para sahabat tidak membalasnya dengan peperangan. Hal ini lantaran
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah menasihati agar umat Islam bersabar 
ketika dipimpin oleh pemimpin yang zalim.

**Larangan Pemberontakan dan Bahaya Risywah**

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, lanjut Ustadz Indra, juga menyampaikan bahwa
awal kerusakan suatu negara adalah ketika masyarakatnya menghalalkan _risywah_ (
suap-menyuap) dan riba. Oleh karena itu, beliau melarang umatnya melakukan pemberontakan
terhadap pemimpin, selama pemimpin tersebut masih menjalankan syariat Islam.

“Untuk mengembalikan keadaan ini, kita harus mengembalikan ajaran Rasulullah Shalallahu
Alaihi Wasallam seperti pada awal masa Islam,” tegas Ustadz Indra.

Ia mengingatkan bahwa Islam sangat menekankan pentingnya menegakkan keadilan dan
menjauhi segala bentuk korupsi, termasuk suap-menyuap. Allah Subhanahu Wa Ta’ala
berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 188:

**وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ
لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ**

Melalui khutbah ini, Ustadz Indra berharap jamaah dapat mengambil pelajaran dan 
menjadikan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sebagai teladan dalam kehidupan
sehari-hari, termasuk dalam menjaga integritas dan menjauhi praktik korupsi serta
riba. Dengan demikian, cita-cita menjadikan Indonesia sebagai negeri yang baldatun
thayyibatun wa rabbun ghafur dapat terwujud. (*)

**Artinya:** _“Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang
batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat
memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal
kamu mengetahui.”_ (QS. Al-Baqarah: 188)

Selain itu, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga melaknat tindakan suap-menyuap.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, beliau bersabda:

**لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ**

**Artinya:** _“Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam melaknat orang yang menyuap
dan orang yang menerima suap.”_ (HR. Ahmad)

**Peliput : Dakum**
