# Khutbah Jumat di Masjid Umar bin Khattab: Ustadz Upang Ibrahim Peringatkan Bahaya Cinta Dunia yang Melupakan Akhirat

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/khutbah-jumat-di-masjid-umar-bin-khattab-ustadz-upang-ibrahim-peringatkan-bahaya-cinta-dunia-yang-melupakan-akhirat/
- Published: 2026-07-24T18:40:31+07:00
- Author: Arofah Firdaus

PELAKSANAAN Salat Jumat di Masjid Umar bin Khattab yang terletak di kompleks SMK
Farmasi Muhammadiyah/UMMADA Cirebon berlangsung dengan penuh kekhidmatan pada hari
Jumat, 24 Juli 2026. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Upang Ibrahim
menyampaikan khutbah dengan tema kritis menyoroti fenomena degradasi moral di era
modern.

Jamaah yang terdiri dari para pendidik, tenaga kependidikan, siswa, dan masyarakat
sekitar tampak menyimak dengan saksama setiap rangkaian khutbah yang disampaikan
dengan gaya bahasa lugas namun menusuk kalbu.

---

## Era Modern dan Krisis Akhlak

Mengawali khutbahnya, Ustadz Upang Ibrahim mengangkat keprihatinan mendalam terhadap
realitas yang terjadi di tengah masyarakat dewasa ini. Beliau menyatakan bahwa di
era modern yang serba canggih dan gemerlap ini, justru terjadi penurunan nilai-nilai
budi pekerti yang signifikan. Moral dan [etika](https://muhammadiyahciko.or.id/membangun-etika-komunikasi-pemimpin-islam-meneladani-sifat-rasulullah-dan-piagam-madinah-dalam-menghadapi-fitnah-digital/)
semakin terkikis digantikan oleh gaya hidup konsumtif, hedonisme, dan sikap individualistis.

“Padahal, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus ke muka bumi ini dengan
misi mulia, yaitu untuk menyempurnakan akhlak umat manusia,” tegas Ustadz Upang 
di hadapan jamaah.

Beliau mengutip sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang menjadi landasan
utama risalah kenabian:

> إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Artinya: _“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”_(
HR. Al-Baihaqi)

Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak umat [Islam](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/)
yang justru meninggalkan akhlak mulia dan terjebak dalam gaya hidup yang melalaikan.
Ustadz Upang pun mengajak jamaah untuk merenungkan penyebab utama dari krisis moral
yang melanda umat saat ini.

---

## Lima Cinta yang Melenyapkan Lima Kesadaran

Memasuki bagian inti khutbah, Ustadz Upang Ibrahim mengutip sebuah hadits yang sangat
relevan dengan kondisi kekinian, sebagaimana dinukil dalam kitab _Nashoihul ‘Ibad_
karya Imam Nawawi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

> سَيَأْتِي عَلَى أُمَّتِي زَمَانٌ يُحِبُّونَ خَمْسًا وَيَنْسَوْنَ خَمْسًا: يُحِبُّونَ
> الدُّنْيَا وَيَنْسَوْنَ الْآخِرَةَ، وَيُحِبُّونَ الْحَيَاةَ وَيَنْسَوْنَ الْمَوْتَ،
> وَيُحِبُّونَ الْقُصُورَ وَيَنْسَوْنَ الْقُبُورَ، وَيُحِبُّونَ الْمَالَ وَيَنْسَوْنَ
> الْحِسَابَ، وَيُحِبُّونَ الْمَخْلُوقَ وَيَنْسَوْنَ الْخَالِقَ

Artinya: _“Akan datang suatu masa yang menimpa umatku, mereka mencintai lima perkara
dan melupakan lima perkara yang lain: (1) mereka mencintai dunia dan melupakan akhirat,(
2) mencintai hidup dan melupakan mati, (3) mencintai istana-istana (tempat tinggal
megah) dan melupakan kuburan, (4) mencintai harta dan melupakan hisab (perhitungan
amal), serta (5) mencintai makhluk dan melupakan Sang Khaliq (Allah).”_

Ustadz Upang kemudian menguraikan satu per satu lima pasangan kontras tersebut dengan
penjelasan mendalam:

### 1. Mencintai Dunia, Melupakan Akhirat

Beliau menjelaskan bahwa kecintaan berlebihan kepada dunia—dalam bentuk mengejar
jabatan, popularitas, dan kemewahan—telah membuat banyak orang lupa bahwa kehidupan
akhirat adalah tujuan sejati. Dunia hanyalah ladang untuk memanen bekal bagi keabadian
di akhirat.

### 2. Mencintai Hidup, Melupakan Mati

Ustadz Upang mengingatkan bahwa banyak manusia berpura-pura lupa bahwa kematian 
adalah kepastian yang tidak bisa ditawar. Mereka sibuk merencanakan masa depan duniawi
yang panjang, tetapi lupa mempersiapkan perjalanan menuju alam barzakh yang kekal.

### 3. Mencintai Tempat Tinggal yang Megah, Melupakan Kuburan

Fenomena berlomba-lomba membangun rumah mewah, istana, dan gedung pencakar langit
menjadi simbol status semata. Namun, sedikit sekali yang mengingat bahwa pada akhirnya
tempat peristirahatan terakhir manusia hanyalah liang lahat yang sempit dan gelap.

### 4. Mencintai Harta, Melupakan Hisab

Beliau mengkritik budaya mengumpulkan harta tanpa memedulikan halal haramnya. Harta
yang ditumpuk dan tidak dikeluarkan haknya akan menjadi saksi di hadapan Allah kelak.
Setiap rupiah akan dimintai pertanggungjawaban: dari mana diperoleh dan untuk apa
dibelanjakan.

### 5. Mencintai Makhluk, Melupakan Sang Khaliq

Fenomena terakhir yang paling menyedihkan adalah ketika manusia lebih mencintai 
sesama makhluk—baik itu selebritas, [pemimpin](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-reboan-masjid-santun-muhammadiyah-cirebon-ustadz-dr-maman-rusman-tekankan-larangan-membela-pengkhianat/),
pasangan, atau bahkan hewan peliharaan—hingga melupakan kewajiban mencintai Allah
di atas segalanya. Mereka lebih takut pada omongan manusia daripada murka Allah.

---

## Solusi: Kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah

Pada penutup khutbahnya, Ustadz Upang Ibrahim mengajak seluruh jamaah untuk melakukan
introspeksi diri. Beliau mengingatkan bahwa perubahan harus dimulai dari kesadaran
individu. Perbaikan akhlak tidak akan terwujud tanpa adanya tekad kuat untuk meninggalkan
cinta dunia yang berlebihan dan mengembalikan prioritas hidup pada keridhaan Allah.

Beliau menutup dengan firman Allah dalam Surah Al-Kahfi ayat 46:

> ٱلْمَالُ وَٱلْبَنُونَ زِينَةُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱلْبَٰقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ
> خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًۭا وَخَيْرٌ أَمَلًۭا

Artinya: _“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal-amal
saleh yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih
baik untuk menjadi harapan.”_ (QS. Al-Kahfi [18]: 46)

Salat Jumat berlangsung tertib dan diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Ustadz
Upang Ibrahim, memohon perlindungan Allah agar umat Islam di Cirebon terhindar dari
lima godaan duniawi dan senantiasa diberi kekuatan untuk mengutamakan akhirat.

Suasana haru dan kesadaran baru tampak terpancar dari wajah-wajah jamaah usai mendengarkan
khutbah yang menggetarkan jiwa tersebut.

**Peliput : Tim Media Masjid Umar bin Khattab **
