# Kiprah Muhammadiyah di Masyarakat

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/kiprah-muhammadiyah-di-masyarakat/
- Published: 2026-07-08T15:40:17+07:00
- Author: Arofah Firdaus

**Pendidikan, Sosial-Budaya, Ekonomi, Politik, dan Tantangan Ghazwul Fikri**
_(Materi
AIK-3 Universitas Muhammadiyah Cirebon)_

---

### ABSTRAK

Mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK-3) di Universitas Muhammadiyah Cirebon
memiliki fokus pada pemahaman ideologis, manajerial, dan kiprah persyarikatan dalam
kehidupan bermasyarakat. Artikel ini membahas secara komprehensif kiprah Muhammadiyah
dalam lima ranah strategis: [pendidikan](https://muhammadiyahciko.or.id/menata-ulang-kompas-pendidikan-nasional-telaah-kritis-atas-rencana-penghapusan-kenaikan-kelas-otomatis-pada-2027/),
sosial-budaya, ekonomi, dan politik, serta tantangan kontemporer berupa Ghazwul 
Fikri. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif berbasis kajian pustaka, artikel
ini mengintegrasikan nilai-nilai Ilahiyah berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan
praktik gerakan sosial-keagamaan. Pembahasan dimulai dari landasan teologis gerakan
Muhammadiyah, kontribusi nyata di bidang pendidikan dan [sosial](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/),
peran sebagai _civil society_ dalam politik kebangsaan, serta respons strategis 
terhadap serangan pemikiran asing yang destruktif. Kesimpulannya, kiprah Muhammadiyah
yang multidimensional merupakan manifestasi dari [dakwah](https://muhammadiyahciko.or.id/prof-dadang-kahmad-tekankan-jurnalistik-sebagai-dakwah-berkemajuan-di-akademi-jurnalistik-muhammadiyah-4-malang/)
_amar ma’ruf nahi munkar_ dan _tajdid_ yang tetap relevan menghadapi dinamika zaman.

**Kata Kunci:** AIK-3, Ekonomi, Ghazwul Fikri, Kiprah Muhammadiyah, Pendidikan, 
Politik, Sosial-Budaya

---

### A. PENDAHULUAN

Muhammadiyah, sebagai gerakan [Islam](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/)
pembaruan yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada 18 November 1912, telah melampaui
usia satu abad dalam mengabdikan diri bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan universal.
Kelahirannya merupakan respons kritis terhadap kondisi umat Islam Hindia-Belanda
yang terbelenggu oleh kebodohan, kemiskinan, dan praktik [keagamaan](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-editorial/)
yang bercampur dengan khurafat, bid’ah, dan takhayul (TBC). Berbeda dengan gerakan
Islam lainnya, Muhammadiyah sejak awal mengusung pendekatan modern, terorganisasi,
dan berbasis [amal usaha](https://muhammadiyahciko.or.id/prospek-web-muhammadiyah-kota-cirebon/)
nyata sebagai manifestasi ajaran Islam yang [berkemajuan](https://muhammadiyahciko.or.id/prof-dadang-kahmad-tekankan-jurnalistik-sebagai-dakwah-berkemajuan-di-akademi-jurnalistik-muhammadiyah-4-malang/).

Mata kuliah AIK-3 di Universitas Muhammadiyah Cirebon tidak hanya mentransmisikan
pengetahuan tentang [organisasi](https://muhammadiyahciko.or.id/pentingnya-website-di-era-ai/),
tetapi juga membentuk kesadaran kritis mahasiswa agar menjadi kader persyarikatan
yang paham akan peran strategis Muhammadiyah di tengah masyarakat. Memahami kiprah
Muhammadiyah di berbagai bidang merupakan keniscayaan bagi setiap kader untuk melanjutkan
estafet perjuangan menuju terwujudnya _Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur_ (masyarakat
utama yang diridhai Allah).

Artikel ini akan mengurai secara akademis kiprah Muhammadiyah dalam lima pilar utama:
pendidikan, sosial-budaya, ekonomi, politik, serta tantangan _Ghazwul Fikri_ yang
mengancam sendi-sendi keislaman dan kebangsaan.

---

### B. LANDASAN TEOLOGIS GERAKAN MUHAMMADIYAH

Kiprah Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari fondasi teologis yang kokoh. Dua
ayat Al-Qur’an menjadi ruh dan [panduan](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-editorial/)
gerakannya:

Pertama, QS. Ali ‘Imran (3): 104 yang menjadi inspirasi berdirinya organisasi:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌۭ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ
وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Latin: _Waltakun minkum ummatun yad’ūna ilā al-khayri wa ya’murūna bi al-ma’rūfi
wa yanhawna ‘an al-munkar, wa ulā’ika hum al-muflihūn_

Artinya: _“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka
itulah orang-orang yang beruntung.”_

Ayat ini menjadi landasan kolektivitas dakwah. KH. Ahmad Dahlan menyadari bahwa 
_amar ma’ruf nahi munkar_ tidak bisa dilakukan secara individual, melainkan memerlukan
sistem, manajemen, dan organisasi yang teratur. Muhammadiyah hadir sebagai “segolongan
orang” (_ummatun_) yang terorganisasi untuk menjalankan misi dakwah secara kolektif
dan terencana.

Kedua, QS. Al-Ma’un (107): 2-3 yang menginspirasi pendirian amal sosial seperti 
PKU (Penolong Kesengsaraan Umum):

فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ ۙ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ

Latin: _Fa dhālika alladhī yadu”u al-yatīm, wa lā yahuddu ‘alā tha’āmi al-miskīn_

Artinya: _“Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan 
memberi makan orang miskin.”_

KH. Ahmad Dahlan memaknai ayat ini secara transformatif: mendustakan agama bukan
hanya soal meninggalkan salat, tetapi mengabaikan kepedulian sosial. Atas dasar 
inilah ia mendirikan lembaga-lembaga sosial seperti rumah sakit, panti asuhan, dan
sekolah sebagai bentuk “penafsiran” nyata atas surat Al-Ma’un.

---

### C. KIPRAH MUHAMMADIYAH DI BIDANG PENDIDIKAN

Pendidikan merupakan sektor paling monumental dalam kiprah Muhammadiyah. KH. Ahmad
Dahlan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah pada 1911—sebelum Muhammadiyah
resmi berdiri—yang mengajarkan ilmu agama dan ilmu umum secara terintegrasi. Ini
merupakan terobosan radikal di saat pesantren hanya fokus pada kitab kuning dan 
sekolah kolonial mengabaikan pendidikan agama.

Prinsip integrasi ilmu ini bersumber dari perintah _iqra’_ (bacalah) dalam QS. Al-‘
Alaq (96): 1-5:

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ ۞ خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ ۞ ٱقْرَأْ
وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ ۞ ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ ۞ عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ
يَعْلَمْ

Latin: _Iqra’ bismi rabbika alladhī khalaq, khalaqa al-insāna min ‘alaq, iqra’ wa
rabbuka al-akram, alladhī ‘allama bi al-qalam, ‘allama al-insāna mā lam ya’lam_

Artinya: _“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan
manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar(
manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”_

Perintah membaca tidak dimaknai terbatas pada teks keagamaan, tetapi meliputi membaca
alam, realitas sosial, dan menguasai ilmu pengetahuan umum. Inilah akar dari ribuan
lembaga pendidikan Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari taman
kanak-kanak hingga perguruan tinggi, dengan total mencapai lebih dari 19.000 sekolah
dan 176 universitas.

Hadits Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam juga menjadi motivasi pendirian lembaga pendidikan:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Latin: _Thalabu al-‘ilmi farīḍatun ‘alā kulli muslim_

Artinya: _“Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.”_ (HR. Ibnu Majah)

Dengan semangat ini, Muhammadiyah tidak sekadar mendirikan sekolah, tetapi membangun
peradaban. Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) sendiri adalah bagian dari rantai
panjang amal usaha pendidikan ini, yang bertujuan mencetak kader _ulul albab_ yang
unggul dalam sains dan teknologi sekaligus mendalam dalam pemahaman keislaman.

---

### D. KIPRAH MUHAMMADIYAH DI BIDANG SOSIAL-BUDAYA

Kiprah sosial Muhammadiyah tidak dapat dipisahkan dari spirit _al-Ma’un_ dan kepedulian
terhadap kaum _mustad’afin_ (kelompok lemah). PKU (Penolong Kesengsaraan Umum) yang
didirikan pada masa awal persyarikatan telah berkembang menjadi jaringan pelayanan
[kesehatan](https://muhammadiyahciko.or.id/rs-muhammadiyah-ini-hadirkan-wisata-kesehatan-berkemajuan/)
dan sosial yang luas: 457 rumah sakit dan klinik, 240 panti asuhan, serta ribuan
[program](https://muhammadiyahciko.or.id/pentingnya-website-di-era-ai/) penanggulangan
[bencana](https://muhammadiyahciko.or.id/muhammadiyah-karhutla-bukan-bencana-tahunan/)
melalui MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center).

Seperti tercermin dalam perayaan Milad Muhammadiyah ke-113 di Papua Timur, amal 
sosial Muhammadiyah menjangkau hingga pelosok negeri. Di Sarmi, Papua, pembagian
paket makanan dan peringatan milad di Masjid An-Nur Kelapa Satu menjadi bukti bahwa“
denyut jantung Muhammadiyah berdetak di sudut terjauh Indonesia Timur”. Di Kendari,
Sulawesi Tenggara, Dewan [Lingkungan](https://muhammadiyahciko.or.id/muhammadiyah-karhutla-bukan-bencana-tahunan/)
Hidup (MLH) meluncurkan _Green Mining Watch_ sebagai wujud kepedulian ekologi yang
merupakan amanat agama.

Di bidang budaya, Muhammadiyah memiliki kepedulian terhadap pengembangan seni budaya
yang profetik dan religius. Pada Muktamar ke-42 di Yogyakarta (1990), Muhammadiyah
membentuk Majelis Kebudayaan untuk merespons perkembangan seni dan budaya kontemporer,
sekaligus menjawab kritik bahwa Muhammadiyah tidak apresiatif terhadap kesenian.
Saat ini, program-program berbasis [komunitas](https://muhammadiyahciko.or.id/inovasi-dakwah-komunitas-muhammadiyah/)
seperti program _waste charity_ (sedekah sampah) yang digagas di Bangunjiwo Barat
menunjukkan bagaimana nilai-nilai keislaman diintegrasikan dengan kesadaran ekologi
dan pemberdayaan masyarakat.

Prinsip dakiah _bil-hal_ (dakwah melalui tindakan nyata) menjadi ciri khas gerakan
sosial Muhammadiyah. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Latin: _Khairu al-nāsi anfa’uhum li al-nās_

Artinya: _“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”_ (
HR. Ahmad, Thabrani, Daruquthni)

Hadits ini menjadi pegangan bahwa iman harus termanifestasi dalam aksi nyata yang
menyentuh hajat hidup orang banyak.

---

### E. KIPRAH MUHAMMADIYAH DI BIDANG EKONOMI

Gerakan ekonomi Muhammadiyah memiliki akar historis dari para pendiri persyarikatan
yang berasal dari kalangan pedagang dan ekonomi menengah. Mereka memobilisasi dana
melalui wakaf, zakat, dan sedekah sehingga persyarikatan dapat bergerak cepat di
berbagai daerah.

Dalam perkembangannya, Muhammadiyah mendirikan berbagai unit usaha: percetakan, 
penerbitan, koperasi, hingga bank perkreditan rakyat syariah. LAZISMU (Lembaga Amil
Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah) menjadi salah satu pilar ekonomi umat yang
memberikan sumbangsih luar biasa bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah.

Spirit ekonomi Muhammadiyah adalah _ta’awun_ (tolong-menolong) dan _filantropi_,
bukan akumulasi kapital. Hal ini sejalan dengan perintah Allah dalam QS. Al-Hasyr(
59): 7:

… وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا …

Latin: _… Wa mā ātākumu al-rasūlu fa khudhūhu wa mā nahākum ‘anhu fa intahū …_

Artinya: _“… Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang
dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah …”_

Ketaatan pada ajaran Rasul dalam konteks ekonomi berarti menjauhi riba, gharar, 
dan praktik eksploitasi, serta mengedepankan keadilan dan kemaslahatan bersama. 
Muhammadiyah konsisten membangun ekonomi kerakyatan yang berpihak pada _du’afa_ (
kaum lemah) dan _mustad’afin_ (kelompok tertindas).

---

### F. KIPRAH MUHAMMADIYAH DI BIDANG POLITIK

Salah satu ciri khas Muhammadiyah adalah sikapnya yang independen dari politik praktis,
namun aktif dalam politik kebangsaan sebagai _moral force_ (kekuatan moral). Melalui
Khittah Perjuangan yang ditegaskan pada Muktamar ke-37 di Ujung Pandang (1971), 
Muhammadiyah memilih untuk kembali pada “kepribadiannya” sebagai gerakan dakwah 
dan tajdid, tidak berafiliasi struktural dengan partai politik tertentu.

Namun, Muhammadiyah tidak apolitis. Kader-kader Muhammadiyah dibiarkan untuk aktif
dalam dunia politik, selama sejalan dengan visi dakwah dan konstitusi organisasi.
Dalam sejarahnya, tokoh-tokoh Muhammadiyah ikut membidani lahirnya Masyumi, Parmusi,
dan PAN, namun secara kelembagaan Muhammadiyah tidak menjadi partai politik.

Posisi politik Muhammadiyah ditegaskan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir:
aktivitas politik Muhammadiyah bukan untuk menduduki jabatan pemerintahan, melainkan
internalisasi nilai-nilai kebangsaan agar semangat nasionalisme terawat dengan baik
di tengah masyarakat.

Landasan sikap politik ini selaras dengan hadits Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam
tentang pentingnya menjaga kemurnian jamaah:

عن العرباض بن سارية رضي الله عنه قال: وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم موعظة بليغة
وجلت منها القلوب وذرفت منها العيون، فقلنا: يا رسول الله، كأنها موعظة مودع فأوصنا.
قال: أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبدا حبشيا، فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا
كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين، عضوا عليها بالنواجذ

Latin: _‘An al-‘Irbadh bin Sariyah RA, qāla: wa’aẓanā rasūlullāhi SAW mau’iẓatan
balīghatan, wajilat minhā al-qulūbu wa dharafat minhā al-‘uyūn… fa qulnā: yā rasūlallāhi,
ka-annahā mau’iẓatu mūaddi’in fa aushi-nā. Qāla: ūshīkum bi taqwā Allāhi wa al-sam’i
wa al-thā’ati wa in ‘abdan habashiyyan, fa innahu man ya’ish minkum fa sa-yarā ikhtilāfan
kathīran, fa ‘alaykum bi sunnatī wa sunnati al-khulafā’i al-rāshidīna al-mahdiyyīna,‘
adhdhū ‘alayhā bi al-nawājidh_

Artinya: _“Dari Al-‘Irbadh bin Sariyah RA, ia berkata: Rasulullah SAW memberi nasihat
yang menggugah hati hingga membuat hati gemetar dan air mata menetes… Kami berkata:‘
Wahai Rasulullah, sepertinya ini nasihat perpisahan, berilah kami wasiat.’ Beliau
bersabda: ‘Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (
kepada [pemimpin](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-reboan-masjid-santun-muhammadiyah-cirebon-ustadz-dr-maman-rusman-tekankan-larangan-membela-pengkhianat/)),
sekalipun yang memimpin adalah budak Habsyi. Sesungguhnya siapa yang hidup setelahku,
akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian berpegang pada sunnahku
dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah ia dengan gigi geraham
kalian.'”_ (HR. Abu Dawud & Tirmidzi)

Dalam konteks kekinian, Muhammadiyah tetap menjadi _civil society_ yang mengawal
[kebijakan](https://muhammadiyahciko.or.id/menata-ulang-kompas-pendidikan-nasional-telaah-kritis-atas-rencana-penghapusan-kenaikan-kelas-otomatis-pada-2027/)
pemerintah secara kritis, konstitusional, dan konstruktif. Muhammadiyah juga konsisten
memperjuangkan tegaknya keadilan, _rule of law_, [partisipasi](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-aisyiyah-kota-cirebon-bahas-kepemimpinan-perempuan/)
rakyat, kebebasan, dan persamaan di ruang [demokrasi](https://muhammadiyahciko.or.id/kepemimpinan-perempuan-menguatkan-demokrasi-inklusif/).

---

### G. TANTANGAN GHAZWUL FIKRI

_Ghazwul Fikri_ (perang pemikiran) merupakan tantangan serius yang dihadapi Muhammadiyah
di era globalisasi. Istilah ini merujuk pada upaya sistematis untuk merusak cara
pandang dan keyakinan umat Islam melalui penyebaran ide-ide, nilai-nilai, dan budaya
asing yang bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah.

Dampak globalisasi yang bersifat destruktif melahirkan sifat individualisme, pragmatisme,
dan hedonisme yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Perbenturan antara kebudayaan
Barat dan Islam dapat memicu _clash of civilization_ atau _clash of world view_,
yaitu benturan cara pandang individu atau masyarakat. Dalam tingkat sosial, hal 
ini dapat mengakibatkan _cultural shock_ (kekagetan budaya), karena pengaruh Barat
sering kali tidak sesuai dengan apa yang telah dipelajari dan dipahami oleh masyarakat
pada umumnya.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan tentang bahaya mengikuti langkah-langkah
setan yang menyesatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا
خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Latin: _Yā ayyuhā alladhīna āmanū udkhulū fī al-silmi kāffah, wa lā tattabi’ū khuṭuwāti
al-syayṭān, innahu lakum ‘aduwwun mubīn_

Artinya: _“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan,
dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata
bagimu.”_ (QS. Al-Baqarah [2]: 208)

Ayat ini menegaskan bahwa umat Islam harus menginternalisasi nilai-nilai Islam secara
utuh (_kāffah_) dalam seluruh aspek kehidupan, tidak terpecah-pecah atau parsial,
sehingga kokoh menghadapi serangan pemikiran asing.

Muhammadiyah, sebagai organisasi dakwah dan tajdid, dituntut untuk selalu bersikap
kritis terhadap masalah sosial yang timbul di masyarakat. Revitalisasi ideologi 
menjadi keniscayaan agar warga Muhammadiyah tidak terbawa arus zaman yang tidak 
sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Penguatan kader melalui pendidikan ideologis
seperti mata kuliah AIK menjadi benteng strategis melawan _Ghazwul Fikri_.

---

### H. PENUTUP

Kiprah Muhammadiyah di masyarakat merupakan manifestasi nyata dari dakwah _amar 
ma’ruf nahi munkar_ yang dijalankan secara terorganisasi, modern, dan berbasis amal
usaha. Dalam bidang pendidikan, Muhammadiyah membangun ribuan sekolah dan universitas
yang mengintegrasikan iman dan ilmu. Dalam ranah sosial-budaya, amal usaha seperti
rumah sakit, panti asuhan, dan program pemberdayaan masyarakat menjadi bukti kepedulian
terhadap kaum _mustad’afin_. Dalam ekonomi, koperasi dan lembaga filantropi seperti
LAZISMU menggerakkan ekonomi umat yang berpihak pada keadilan. Dalam politik, Muhammadiyah
konsisten sebagai _moral force_ dan _civil society_ yang mengawal kebijakan negara
tanpa terlibat dalam politik praktis.

Tantangan _Ghazwul Fikri_ di era globalisasi menuntut Muhammadiyah untuk terus merevitalisasi
ideologi dan memperkuat kader agar tidak terjerumus pada arus pemikiran yang destruktif.
Semangat tajdid yang diwariskan KH. Ahmad Dahlan harus terus dijaga dan dikembangkan
agar Muhammadiyah tetap menjadi gerakan Islam berkemajuan yang membawa rahmat bagi
seluruh alam (_rahmatan lil ‘alamin_).

---

### DAFTAR PUSTAKA

Junaidi, M., & Jannah, R. (2018). Revitalisasi Ideologi Muhammadiyah dalam Penguatan
Kader Persyarikatan. _Tajdida: Jurnal Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah_, 16(2),
101-112.

Muhammadiyah [Kota Cirebon](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-penulisan-menurut-jenis-tulisan/).(
2026). Memahami Landasan Operasional Organisasi Muhammadiyah: Telaah atas AD/ART,
Khittah, Visi-Misi, dan Keputusan Persyarikatan dalam Mata Kuliah AIK 3. _Muhammadiyah
Ciko_.

Muhammadiyah Kota Cirebon. (2026). Sintesis Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan: Genealogi
Pembaruan Islam Berkemajuan dalam Mata Kuliah AIK III. _Muhammadiyah Ciko_.

Muhammadiyah Solo. (2019). Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Membangun Civil Society.
_Muhammadiyah Solo_.

Muhammadiyah. (2025). Spreading Light in the Land of Cendrawasih: Reflections on
Muhammadiyah’s 113th Anniversary in Eastern Indonesia. _Muhammadiyah.or.id_.

Paksi, A. K., Wibisana, D. L., Adam, R., & Ridho, Z. (2026). Initiation of the Waste
Charity Program for the Administrators of the Muhammadiyah and Aisyiyah Branch Leadership
in Bangunjiwo Barat. _Proceedings of the International Conference on Community Service_,
3(1).

Qodir, Z. (2025). Muhammadiyah Tegaskan Netralitas Politik, Peran Anggota Dinilai
Dinamis. _LLDIKTI Wilayah V_.

Sadikin. (2019). Gerakan Muhammadiyah dari Perspektif Pendidikan Kewarganegaraan.
_Jurnal Penelitian Pendidikan_, 19(1), 100-112.

Shobron, S. (2008). _Studi Kemuhammadiyahan_. Surakarta: LPID-UMS.
