# Krisis Akhlak di Era Medsos, Ustadz Upang Ibrahim Ingatkan Pentingnya Menjaga Kebersihan Hati

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/krisis-akhlak-di-era-medsos-ustadz-upang-ibrahim-ingatkan-pentingnya-menjaga-kebersihan-hati/
- Published: 2026-09-11T13:18:30+07:00
- Author: Redaksi-AF

MASJID Umar bin Khattab yang berlokasi di Komplek SMK Farmasi Muhammadiyah, Kabupaten
Cirebon, menggelar salat Jumat (11/9/26) dengan penuh kekhidmatan. Bertindak sebagai
imam sekaligus khatib, **Ustadz Upang Ibrahim** menyampaikan khutbah yang menyentuh
nurani, mengangkat tema besar tentang krisis akhlak di era modern serta pentingnya
menjaga kebersihan hati.

Dalam khutbahnya, Ustadz Upang menyoroti fenomena degradasi moral yang kian marak,
baik di dunia nyata maupun di ruang digital. [Media sosial](https://muhammadiyahciko.or.id/membangun-etika-komunikasi-pemimpin-islam-meneladani-sifat-rasulullah-dan-piagam-madinah-dalam-menghadapi-fitnah-digital/),
yang seharusnya menjadi sarana silaturahmi dan berbagi kebaikan, sering kali menjadi
ladang subur bagi ujaran kebencian, adu domba, dan perilaku tidak santun. “Kita 
miris melihat kondisi akhlak saat ini. Di medsos maupun di dunia nyata, banyak orang
dengan mudahnya melontarkan kata-kata kasar, memfitnah, dan mengumbar aurat tanpa
rasa malu,” ujarnya di hadapan jamaah yang terdiri dari pendidik, tenaga kependidikan,
siswa, serta masyarakat sekitar.

### **Misi Rasulullah: Menyempurnakan Akhlak**

Ustadz Upang menegaskan bahwa inti dari diutusnya Nabi Muhammad ﷺ ke muka bumi ini
adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia. Beliau membacakan hadis
yang sangat masyhur sebagai landasan utama risalah kenabian:

**إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ**

_“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”_ (HR.
Al-Baihaqi)

Menurutnya, hadis ini menjadi cambuk bagi umat [Islam](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/)
yang saat ini banyak meninggalkan esensi ajaran Nabi. Islam tidak hanya berbicara
tentang ritual ibadah vertikal kepada Allah, tetapi juga bagaimana membangun hubungan
horizontal yang harmonis dengan sesama manusia melalui akhlak yang terpuji.

### **Akhlak Bermuara pada Hati**

Lebih dalam, Ustadz Upang menjelaskan bahwa akhlak seseorang bukanlah sekadar perilaku
lahiriah yang bisa dibuat-buat, melainkan cerminan dari kondisi batinnya. Muara 
dari baik buruknya akhlak seseorang terletak pada **hati**. Jika hati seseorang 
bersih dan sehat, maka seluruh anggota jasadnya akan menampilkan perilaku yang baik.
Sebaliknya, jika hati telah rusak, maka rusak pula seluruh perilakunya.

Beliau kemudian mengutip sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari 
dan Muslim:

**أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ،
وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ**

_“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik
pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa
ia adalah hati.”_ (HR. Bukhari dan Muslim)

### **Menjaga Hati dari Penyakit**

Mengakhiri khutbahnya, Ustadz Upang mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa menjaga
hati dari berbagai **penyakit hati** yang dapat merusak akhlak. Penyakit-penyakit
tersebut seperti hasad (kedengkian), ujub (bangga diri), riya (pamer), dan cinta
dunia yang berlebihan harus dibersihkan. Hati yang kotor, ibarat cermin yang berdebu,
tidak akan mampu memantulkan cahaya kebenaran dan petunjuk Allah.

Ia mengingatkan bahwa hati bisa berkarat sebagaimana besi yang terkena air. Cara
membersihkannya adalah dengan memperbanyak mengingat kematian dan membaca Al-Qur’an,
sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:

**إِنَّ هَذِهِ الْقُلُوبَ تَصْدَأُ كَمَا يَصْدَأُ الْحَدِيدُ إِذَا أَصَابَهُ الْمَاءُ،
قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا جِلَاؤُهَا؟ قَالَ: كَثْرَةُ ذِكْرِ الْمَوْتِ وَتِلَاوَةُ
الْقُرْآنِ**

_“Sesungguhnya hati ini dapat berkarat sebagaimana besi berkarat bila terkena air.”
Beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara membersihkannya?” Beliau menjawab,“
Memperbanyak mengingat maut dan membaca Al-Qur’an.”_ (HR. Baihaqi)

Salat Jumat di Masjid Umar bin Khattab berlangsung tertib dan lancar. Para jamaah
tampak khusyuk mendengarkan pesan-pesan [spiritual](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/)
yang disampaikan, dengan harapan dapat menjadi bahan introspeksi untuk memperbaiki
kualitas akhlak dan kebersihan hati dalam kehidupan sehari-hari. (*)
