# Menakar Kadar Takwa Pasca Ramadhan, Ustadz Drs. Sukardi, ME.Sy: Akhlak Mulia Jadi Ukuran Utama

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/menakar-kadar-takwa-pasca-ramadhan-ustadz-drs-sukardi-me-sy-akhlak-mulia-jadi-ukuran-utama/
- Published: 2026-04-03T14:55:14+07:00
- Author: Arofah Firdaus

**CIREBON, 3 April 2026** – Suasana khidmat menyelimuti [Masjid Santun](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-reboan-masjid-santun-muhammadiyah-cirebon-ustadz-dr-maman-rusman-tekankan-larangan-membela-pengkhianat/)
Muhammadiyah [Kota Cirebon](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-editorial/) pada
pelaksanaan salat Jum’at, 3 April 2026 bertepatan dengan 15 Syawal 1447 H. Jamaah
tampak khusyuk mengikuti rangkaian ibadah dari awal hingga akhir. Bertindak sebagai
imam sekaligus khatib, Ustadz Drs. Sukardi, ME.Sy, menyampaikan khotbah bertajuk**“
Menakar Kadar Takwa Pasca Ramadhan”**.

Dalam khotbahnya, Ustadz Sukardi mengajak seluruh jamaah untuk melakukan muhasabah
diri di pertengahan bulan Syawal ini. Beliau menegaskan bahwa Ramadhan yang telah
berlalu merupakan madrasah pelatihan [spiritual](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/)
selama sebulan penuh. Kini, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana takwa telah termanifestasi
dalam kehidupan keseharian setelah sebulan berpuasa.

“Takwa bukan sekadar perasaan, tetapi harus terukur dari perilaku nyata. Jika takwa
sejati, maka akhlak seseorang akan semakin mulia,” ujar Ustadz Sukardi di hadapan
ratusan jamaah.

Beliau mengawali hujjahnya dengan menyitir hadits Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi
Wasallam:

## إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

> _“Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlak.”_

Artinya: _“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”_(
HR. Ahmad, Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan Al-Baihaqi).

Dari hadits ini, Ustadz Sukardi menjelaskan bahwa ukuran takwa seseorang adalah 
semakin baiknya akhlaknya, meliputi empat ranah: akhlak kepada Allah, akhlak kepada
Rasulullah, akhlak kepada sesama muslim, dan akhlak kepada seluruh manusia.

## Empat Pilar Takwa Menurut Imam Nawawi

Lebih lanjut, Ustadz Sukardi mengupas pandangan Imam Nawawi yang menyatakan bahwa
takwa dapat diukur dari empat perilaku utama yang dalam bahasa Arabnya terdiri dari
huruf _Ta_, _Qaf_, _Waw_, dan _Ya_. Keempat huruf tersebut merupakan singkatan dari:

### 1. Tawadhu (Rendah Hati)

## تَوَاضُع

**Tawadhu** adalah sikap rendah hati di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Seorang
muslim yang bertakwa meyakini bahwa setiap ibadah ritual dan [sosial](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/)
yang ia lakukan terjadi semata-mata karena izin Allah, bukan karena kehebatan diri
sendiri. Kerendahan hati ini juga harus ditujukan dalam berinteraksi dengan sesama
manusia dan makhluk Allah lainnya.

### 2. Qonaah (Menerima dan Bersyukur)

## قَنَاعَة

**Qonaah** merupakan sikap menerima ketentuan Allah serta bersyukur secara optimal
atas limpahan karunia-Nya. Orang yang qonaah akan ridha dengan pemberian Allah dan
berusaha memanfaatkan pemberian tersebut untuk kesejahteraan orang lain, bukan untuk
bermewah-mewahan atau menyombongkan diri.

### 3. Wara’ (Berhati-hati)

## وَرَع

**Wara’** adalah sikap kehati-hatian dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi
larangan-Nya. Orang yang wara’ tidak hanya menjauhi yang haram, tetapi juga menjauhi
setiap hal yang berindikasi _syubhat_ (samar-samar, abu-abu antara halal dan haram)
demi menjaga kesucian agama dan dirinya.

### 4. Yakin (Keyakinan Penuh)

## يَقِين

**Yakin** berarti selalu mengedepankan ketentuan Allah dalam bersikap dan berperilaku.
Sikap ini meyakini bahwa tidak sesuatu pun bisa terjadi tanpa izin atau perkenan
Allah. Lebih jauh, yakin juga terkait dengan perilaku _ihsan_, yaitu beribadah seolah-
olah melihat Allah, dan jika tidak mampu, maka yakin bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala
senantiasa menyaksikan setiap ibadah ritual dan ibadah sosial yang dilakukan selama
hidup seseorang.

## Penutup Khotbah

Di akhir khotbah, Ustadz Drs. Sukardi, ME.Sy, mengingatkan bahwa Ramadhan telah 
mengajarkan disiplin, empati, dan pengendalian diri. Kini di bulan Syawal, tantangan
sebenarnya dimulai. “Jangan biarkan takwa hanya menjadi kenangan di bulan Ramadhan.
Jadikan ia karakter permanen. Mulailah dengan tawadhu, qonaah, wara’, dan yakin,”
pesannya.

Salat Jum’at dua rakaat yang dipimpin langsung oleh Ustadz Sukardi berlangsung lancar
dan tertib. Jamaah tampak terharu dan termotivasi untuk terus meningkatkan kualitas
ketakwaan pasca Ramadhan. Usai salat, sejumlah jamaah menyempatkan diri bersalaman
dan berdiskusi singkat dengan khatib.

Masjid Santun Muhammadiyah yang dikenal dengan program-program pemberdayaan umatnya
ini kembali menjadi pusat pencerahan rohani bagi masyarakat Kota Cirebon di hari
Jum’at penuh berkah.

**Redaksi:** Peliput Masjid Santun Muhammadiyah Cirebon

---
