# Menatap Milad ke-114 Muhammadiyah: Belajar Merangkul dari Kesederhanaan “Ojo Dibanding-bandingke”

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/menatap-milad-ke-114-muhammadiyah-belajar-merangkul-dari-kesederhanaan-ojo-dibanding-bandingke/
- Published: 2026-11-08T18:26:23+07:00
- Author: Redaksi-AF

### **Oleh: Irfan Hasan D**

Di tengah riuh rendah percakapan publik yang kerap membanding-bandingkan gerak langkah
persyarikatan dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan lainnya, sebuah
pesan mendalam nan menyejukkan terpancar dalam Kajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang 
Muhammadiyah Kesambi Kota Cirebon pada Ahad (8/11/2026).

Prof. Dr. Ahmad Dahlan, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat, menyampaikan
refleksi bernas yang menyentuh sanubari. Menanggapi anggapan bahwa Muhammadiyah 
minim mubalig, kurang padat muatan panggung dakwahnya, atau minim media personal,
beliau merangkumnya bukan dengan apologi yang membela diri, melainkan dengan keteladanan
yang penuh rasa empati.

Para mubalig dan pimpinan Muhammadiyah, tegasnya, tidak sedang berburu popularitas
sorot kamera atau membangun riuh kepopuleran duniawi. Mereka memilih “turun gunung”,
menyapa pelosok-pelosok yang tak tersorot media, merawat manajemen persyarikatan,
dan mengulurkan tangan bagi sesama. Dakwah yang dibawakan tidak bermaksud memukau
dengan retorika berlebihan, melainkan menyampaikan nasihat yang menyentuh hati, 
menumbuhkan kesadaran, serta menghadirkan solusi riil bagi persoalan umat secara
bijaksana.

Hal ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa dakwah sejatinya adalah investasi
akhirat, bukan ajang mengumpul puji duniawi. Sebagaimana firman Allah SWT dalam 
QS. An-Nahl ayat 125 yang menjadi pegangan dakwah persyarikatan:

**ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم
بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ
وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ**

**Artinya:** _“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran
yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu,
Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”_ (QS. An-Nahl: 125)

Ayat ini menegaskan bahwa dakwah harus disampaikan dengan _hikmah_ (kebijaksanaan),
_mau’idhatil hasanah_ (pengajaran yang baik dan penuh kasih sayang), serta dialog
yang santun tanpa merendahkan sesama.

### Keikhlasan dan Keutamaan Manfaat

Semangat juang para mubalig Muhammadiyah yang memilih hening dalam kebaikan dan 
berfokus pada manfaat nyata bagi umat ini mencerminkan pesan luhur Rasulullah Shalallahu
Alaihi Wasallam Beliau bersabda:

**خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ**

**Artinya:** _“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”_(
HR. Thabrani dan Daraqutni)

Kehadiran dakwah yang membumi melalui pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial
menegaskan bahwa ukuran kebaikan suatu gerakan bukanlah seberapa bising ia dibicarakan,
melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh umat dan bangsa.

Selain itu, keteguhan untuk tidak mengejar kemewahan panggung duniawi juga sejalan
dengan hadis tentang keikhlasan niat:

**إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ
إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ**

**Artinya:** _“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk tubuhmu dan rupa wujudmu,
tetapi Allah melihat kepada hatimu dan amal perbuatanmu.”_ (HR. Muslim)

### Bersama Menyatukan Bangsa

Mengusung tema Milad ke-114 “Bersama Menyatukan Bangsa”, Muhammadiyah mengajak seluruh
warganya untuk tidak terjebak dalam perbandingan yang merenggangkan persaudaraan.
Mari perbanyak muhasabah (introspeksi diri), memperdalam ilmu, dan memelihara keikhlasan
dalam berkontribusi.

Dengan terus merajut sinergi bersama seluruh elemen bangsa, langkah nyata ini menjadi
cerminan kontribusi warga negara yang baik demi mewujudkan cita-cita bersama: _baldatun
thayyibatun wa rabbun ghafur_—negeri yang tenteram, makmur, dan berada dalam ampunan
Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (*)
