# Menggali Makna QS. Al-Muthaffifin: 1–18, Kajian Tajwid dan Tafsir Reboan di Musholah Al-Anwar Syechmagelung

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/menggali-makna-qs-al-muthaffifin-1-18-kajian-tajwid-dan-tafsir-reboan-di-musholah-al-anwar-syechmagelung/
- Published: 2026-05-06T15:45:48+07:00
- Author: Arofah Firdaus

**CIREBON** – Suasana khidmat menyelimuti Musholah Al-Anwar, Syechmagelung, Kejaksan,
pada Rabu sore (06/05/2026). Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah Kejaksan [Kota Cirebon](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-editorial/)
menggelar kajian rutin Reboan yang menghadirkan Ustaz Otang Misbah, M.Si. Kajian
yang berlangsung sejak waktu duhur hingga ashar ini membahas QS. Al-Muthaffifin (
83) ayat 1–18 dengan pendekatan tajwid dan [tafsir](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-ahad-pagi-pcm-kesambi-ustadz-agus-wahid-ulas-tafsir-al-asr-ingatkan-pentingnya-manajemen-waktu/)
tematik.

Sejak ba’da duhur pukul 13.30, jamaah yang sebagian besar adalah ibu-ibu dan remaja
putri tampak antusias memenuhi musholah. Ustaz Otang Misbah membuka kajian dengan
menekankan pentingnya membaca Al-Qur’an dengan tartil sesuai kaidah ilmu tajwid.

> **QS. Al-Muthaffifin ayat 1–3:**
> **وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ(
> 2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (3)**
> _Latin: Waylul lil-muthaffifīn (1), allażīna iżak-tālū ‘alan-nāsi yastaufūn (2),
> wa iżā kālūhum au wazanūhum yuksirūn (3)_
> Artinya: _“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang),(
> yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta 
> dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”_(
> QS. Al-Muthaffifin: 1-3)

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/05/muhciko-
menggali-makna-qs.-al-muthaffifin-118-kajian-tajwid-dan-tafsir-reboan-di-musholah-
al-anwar-syechmagelung.jpg?resize=1024%2C780&ssl=1)

Ustaz Otang menjelaskan bahwa kata _muthaffifīn_ berasal dari kata _thafaf_, artinya
mengurangi takaran atau timbangan. Meskipun konteks historis ayat ini adalah praktik
jual beli di Madinah, maknanya sangat luas hingga saat ini. “Setiap orang yang mengurangi
hak orang lain, baik dalam bentuk materi, waktu, tenaga, maupun janji, termasuk 
dalam ancaman _wayl_ – sebuah lembah di neraka,” jelasnya dengan tegas.

Kajian dilanjutkan dengan tafsir mendalam ayat 4 hingga 11 yang menggambarkan kebangkitan
manusia pada hari yang dahsyat. Pada ayat 7–11 ditegaskan bahwa catatan orang yang
curang (_sijjin_) akan menjadi saksi abadi.

> **QS. Al-Muthaffifin ayat 7–8:**
> **كَلَّآ إِنَّ كِتَـٰبَ ٱلۡفُجَّارِ لَفِى سِجِّينٍ۬ (7) وَمَآ أَدۡرَٮٰكَ مَا سِجِّينٌ۬(
> 8)**
> _Latin: Kallā inna kitābal-fujjāri lafī sijjīn (7), wa mā adrāka mā sijjīn (8)_
> 
> Artinya: _“Sekali-kali jangan curang! Sesungguhnya catatan orang-orang yang durhaka
> benar-benar tersimpan dalam Sijjin. Dan tahukah kamu apakah Sijjin itu?”_ (QS.
> Al-Muthaffifin: 7-8)

Dalam sesi tanya jawab, seorang jamaah bertanya tentang bagaimana menjaga lisan 
dari kecurangan dalam berbicara. Ustaz Otang menjawab dengan mengutip hadis Rasulullah
ﷺ:

> **مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ**
> _Latin: Man kāna yu’minu billāhi wal-yaumil-ākhiri falyaqul khairan aw liyasmut._
> Artinya: _“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata
> baik atau diam.”_ (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini, lanjutnya, selaras dengan penutup kajian QS. Al-Muthaffifin ayat 13–18
yang mengisahkan sikap orang kafir yang mendustakan ayat-ayat Allah. Mereka yang
terus-menerus curang dan mendustakan kebenaran akan terhalang dari rahmat-Nya.

Kajian ditutup dengan praktik membaca ayat 15–18 dengan makhraj dan sifat huruf 
yang benar. Ustaz Otang memandu jamaah melafalkan:

> **كَلَّآ إِنَّهُمۡ عَن رَّبِّهِمۡ يَوۡمَٮِٕذٍ۬ لَّمَحۡجُوبُونَ (15)**
> _Latin: Kallā innahum ‘ay rabbihim yauma’iżil lamahjūbūn_
> Artinya: _“Sekali-kali
> jangan! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat)
> Tuhan mereka.”_

Ketua Panitia Kajian Reboan, Ibu Ida Rosyad, menyampaikan terima kasih kepada Ustaz
Otang Misbah dan seluruh jamaah. “Semoga kajian ini menjadi bekal kita untuk lebih
jujur dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam takaran, timbangan, maupun janji dan
ucapan,” tuturnya.

Kegiatan berakhir tepat setelah adzan ashar berkumandang. Semangat jamaah untuk 
terus belajar tajwid dan tafsir semakin tinggi, menjadikan Musholah Al-Anwar sebagai
pusat literasi Al-Qur’an di [lingkungan](https://muhammadiyahciko.or.id/muhammadiyah-karhutla-bukan-bencana-tahunan/)
Kejaksan.

## Comments

### By: Fahyudin

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/menggali-makna-qs-al-muthaffifin-1-18-kajian-tajwid-dan-tafsir-reboan-di-musholah-al-anwar-syechmagelung/comment-page-1/#comment-3418
- Published: 2026-05-06T16:58:18+07:00

Penjelasan Ustaz Otang sangat komprehensif karena menggabungkan aspek tajwid dengan
implementasi akhlak sehari-hari.
 Semoga kita semua terhindar dari sifat curang 
dan tidak terhalang dari rahmat Allah.”

### By: Uung Qurochtul'ain

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/menggali-makna-qs-al-muthaffifin-1-18-kajian-tajwid-dan-tafsir-reboan-di-musholah-al-anwar-syechmagelung/comment-page-1/#comment-3417
- Published: 2026-05-06T16:12:58+07:00

Terima kasih pencerahannya pak Ustadz Otang jazakalloh khoyr.
