# Menyelami Asbabun Nuzul Surat At-Tahrim Ayat 1: Salat Jumat di Masjid Ad-Dien UMMADA Kalitanjung

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/menyelami-asbabun-nuzul-surat-at-tahrim-ayat-1-salat-jumat-di-masjid-ad-dien-ummada-kalitanjung/
- Published: 2026-09-11T13:52:55+07:00
- Author: Redaksi-AF

SUASANA khidmat menyelimuti Masjid Ad-Dien Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan(
UMMADA) Kalitanjung, [Kota Cirebon](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-editorial/),
pada pelaksanaan Salat Jumat, Jumat (11/9/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus
khatib, Ustadz Drs. H. Otong Hasanudin, yang menyampaikan khutbah bertema _asbabun
nuzul_ (sebab-sebab turunnya) Surat At-Tahrim ayat 1. Jamaah yang memadati masjid
kampus tersebut mengikuti rangkaian ibadah dengan penuh kekhusyukan.

Dalam khutbahnya, Ustadz Otong Hasanudin mengupas secara mendalam latar belakang
turunnya Surat At-Tahrim ayat 1, sebuah ayat yang mengandung teguran halus Allah
kepada Nabi Muhammad ﷺ. Beliau menjelaskan bahwa pemahaman terhadap _asbabun nuzul_
sangat penting agar umat [Islam](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/)
dapat menangkap pesan moral dan hikmah di balik setiap firman Allah.

## Bacaan Ayat dan Terjemah

Khatib membacakan firman Allah dalam Surat At-Tahrim ayat 1 dengan tartil:

**يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكَۚ تَبْتَغِيْ مَرْضَاتَ
اَزْوَاجِكَۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ**

Artinya: _“Wahai Nabi (Muhammad), mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan
Allah bagimu? Engkau bermaksud menyenangkan hati istri-istrimu. Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.”_

## Asbabun Nuzul: Latar Belakang Turunnya Ayat

Ustadz Otong Hasanudin menjelaskan bahwa para ulama [tafsir](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-ahad-pagi-pcm-kesambi-ustadz-agus-wahid-ulas-tafsir-al-asr-ingatkan-pentingnya-manajemen-waktu/)
berbeda pendapat mengenai _asbabun nuzul_ ayat ini, namun terdapat beberapa riwayat
yang saling melengkapi. Menurut suatu pendapat yang dikutip dari Tafsir Ibnu Katsir,
ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa Mariyah al-Qibtiyyah. Rasulullah 
ﷺ mengharamkan Mariyah bagi dirinya, lalu turunlah ayat ini sebagai teguran halus
Allah.

Riwayat lain menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah meminum madu di rumah Zainab 
binti Jahsy, salah seorang istrinya. Aisyah dan Hafsah kemudian bersepakat untuk
mengatakan bahwa Nabi ﷺ berbau _maghafir_ (getah pohon) setelah meminum madu tersebut.
Mendengar hal itu, Nabi ﷺ bersumpah tidak akan meminum madu lagi, dan mengharamkan
madu atas dirinya. Maka turunlah Surat At-Tahrim ayat 1 sebagai teguran.

“Peristiwa ini menunjukkan betapa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, bahkan yang
tersembunyi dalam hati manusia. Allah menegur Nabi-Nya dengan bahasa yang penuh 
kasih sayang, bukan dengan celaan yang keras,” jelas Ustadz Otong di hadapan jamaah.

## Hikmah dan Pelajaran

Khatib menyampaikan beberapa hikmah penting dari ayat ini. _Pertama_, bahwa mengharamkan
sesuatu yang halal bukanlah hak manusia, melainkan hak Allah semata. Imam Syafi‘i
dalam kitab _Al-Umm_ meriwayatkan bahwa para ulama salaf sangat berhati-hati dalam
berfatwa tentang halal dan haram, mereka tidak mau mengatakan “ini haram” kecuali
setelah diketahui dengan pasti.

_Kedua_, ayat ini mengajarkan tentang pentingnya menjaga keseimbangan dalam berumah
tangga. Nabi ﷺ berusaha menyenangkan hati istri-istrinya, namun dalam upaya tersebut
beliau sampai mengharamkan sesuatu yang halal. Allah kemudian mengingatkan bahwa
menyenangkan hati manusia tidak boleh mengorbankan syariat.

_Ketiga_, ayat ini menegaskan sifat Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Meskipun Nabi ﷺ melakukan _ijtihad_ yang keliru dengan mengharamkan yang halal, 
Allah tidak serta-merta menghukum, melainkan menegur dengan kasih sayang dan memberikan
jalan keluar .

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan kepada umatnya tentang kehati-hatian dalam menentukan
halal dan haram. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Thabrani, beliau bersabda:

**مَنْ حَرَّمَ الْحَلَالَ فَهُوَ كَمَنْ أَحَلَّ الْحَرَامَ**

Artinya: _“Siapa yang mengharamkan yang halal, maka dia seperti orang yang menghalalkan
yang haram.”_

## Etika Menegur dalam Islam

Ustadz Otong Hasanudin juga mengaitkan ayat ini dengan [etika](https://muhammadiyahciko.or.id/membangun-etika-komunikasi-pemimpin-islam-meneladani-sifat-rasulullah-dan-piagam-madinah-dalam-menghadapi-fitnah-digital/)
menegur kesalahan orang lain. Allah menegur Nabi ﷺ secara langsung dan penuh kelembutan,
tanpa mempermalukan beliau di hadapan manusia. Ini menjadi teladan bagi umat Islam
dalam memberikan nasihat dan teguran.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

**الدِّينُ النَّصِيحَةُ**

Artinya: _“Agama itu adalah nasihat.”_ Para sahabat bertanya, “Untuk siapa?” Beliau
menjawab, _“Bagi Allah, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin-pemimpin umat Islam,
dan masyarakat umumnya.”_

Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa makna nasihat untuk [pemimpin](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-reboan-masjid-santun-muhammadiyah-cirebon-ustadz-dr-maman-rusman-tekankan-larangan-membela-pengkhianat/)
umat Islam adalah tolong-menolong bersama mereka dalam urusan kebenaran, menegur
dan mengingatkan mereka dengan cara lemah-lembut, serta tidak menjadi pembangkang
terhadap mereka.

## Penutup

Mengakhiri khutbahnya, Ustadz Drs. H. Otong Hasanudin mengajak seluruh jamaah untuk
senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta‘ala. Beliau mengingatkan
bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, dan hendaknya
umat Islam senantiasa berhati-hati dalam menentukan sikap, terutama dalam hal halal
dan haram.

“Mari kita jadikan Surat At-Tahrim ayat 1 ini sebagai pelajaran berharga. Jangan
pernah mengharamkan apa yang Allah halalkan, dan jangan pula menghalalkan apa yang
Allah haramkan. Sesungguhnya, ketaatan kepada Allah adalah kunci kebahagiaan hidup
di dunia dan akhirat,” pesan beliau.

Salat Jumat di Masjid Ad-Dien UMMADA Kalitanjung berlangsung dengan lancar dan penuh
kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak antusias mengikuti setiap rangkaian ibadah,
mulai dari azan, khutbah, hingga salat berjamaah. Masjid kampus ini memang dikenal
aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan keislaman, termasuk kajian dan salat Jumat
rutin yang selalu menghadirkan penceramah-penceramah kompeten dari berbagai latar
belakang keilmuan. (*)

**Peliput : Tim Media masjid Ad-Dien UMMADA Kalitanjung **
