# Filosofi Daun Kelor di Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/muhammadiyah-luncurkan-logo-tanwir-dan-milad-ke-114-daun-kelor-simbol-ketangguhan-dan-persatuan-bangsa/
- Published: 2026-09-15T11:13:14+07:00
- Author: Redaksi-AF

Pimpinan Pusat Muhammadiyah meluncurkan logo [Tanwir](https://muhammadiyahciko.or.id/kepanduan-hizbul-wathan-tetapkan-paradigma-modern-scout-dan-enam-program-strategis-dalam-tanwir-ke-1-2026/)
dan Milad ke-114 yang mengusung elemen daun kelor. Simbol ini mencerminkan kesederhanaan,
ketangguhan, keluasan wawasan, dan kesejahteraan. Mengusung tema “Bersama Satukan
Bangsa,” Tanwir Muhammadiyah dijadwalkan berlangsung pada 19–21 November 2026 di
Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Pemilihan Palu melambangkan semangat bangkit dari [bencana](https://muhammadiyahciko.or.id/muhammadiyah-karhutla-bukan-bencana-tahunan/)
menuju ketangguhan nasional melalui persatuan. Berdasarkan ajaran Al-Qur’an dan 
Hadis, Tanwir 2026 menjadi forum strategis terakhir sebelum Muktamar ke-49 untuk
merumuskan peta perjalanan dan [program](https://muhammadiyahciko.or.id/pentingnya-website-di-era-ai/)
pengembangan gerakan Muhammadiyah selama 25 tahun ke depan.

PIMPINAN Pusat Muhammadiyah resmi meluncurkan Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah
dalam acara yang digelar di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta pada Sabtu, 12 September
2026. Logo tersebut mengusung daun kelor sebagai elemen utama, tanaman sederhana
yang kaya manfaat dan lekat dengan kehidupan masyarakat Palu, Sulawesi Tengah — 
lokasi penyelenggaraan Tanwir Muhammadiyah 2026.

Peluncuran logo dipimpin langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar 
Nashir, yang menyampaikan bahwa pemilihan daun kelor tidak sekadar pertimbangan 
estetika, melainkan mengandung filosofi mendalam yang merepresentasikan karakter
gerakan Muhammadiyah.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/09/muhciko-
muhammadiyah-luncurkan-logo-tanwir-dan-milad-ke-114-daun-kelor-simbol-ketangguhan-
dan-persatuan-bangsa.jpeg?resize=720%2C478&ssl=1)

## Filosofi Daun Kelor: Sederhana, Tangguh, dan Bermanfaat

Haedar Nashir menjelaskan tiga makna utama di balik pemilihan daun kelor sebagai
simbol logo. **Pertama**, kelor melambangkan kesederhanaan dan ketangguhan. Tanaman
ini mampu tumbuh di berbagai kondisi tanpa membutuhkan perawatan rumit, mencerminkan
semangat gerakan Muhammadiyah yang bersahaja namun tetap kuat dan adaptif.

“Dalam konteks pergerakan kita maupun di Tanwir dan Milad ini harus mampu menjadi
momentum kita memperkuat kesederhanaan yang punya value, punya tema. Bukan kesederhanaan
sebagai populisme,” jelas Haedar.

**Kedua**, daun kelor dimaknai sebagai simbol keluasan wawasan dan pergerakan. Haedar
memaknai ulang pepatah lama “dunia tak selebar daun kelor” justru sebagai pertanda
luasnya jangkauan [dakwah](https://muhammadiyahciko.or.id/prof-dadang-kahmad-tekankan-jurnalistik-sebagai-dakwah-berkemajuan-di-akademi-jurnalistik-muhammadiyah-4-malang/)
dan pemikiran Muhammadiyah. “Daun kelor memiliki arti keluasan yang bermakna akan
keluasan wawasan, keluasan pikiran, keluasan pergaulan, dan keluasan jelajah pergerakan
kita,” terangnya.

**Ketiga**, kelor menjadi lambang kesejahteraan dan kemakmuran karena kaya akan 
manfaat gizi serta diolah menjadi beragam kuliner Nusantara. “Pohon kelor adalah
pohon keajaiban karena dia adalah lambang kesejahteraan dan memakmurkan,” ucap Haedar.

Dalam rancangan visualnya, helai-helai daun kelor dipadukan secara dinamis dengan
angka 114 yang menandai usia Muhammadiyah. Angka tersebut seolah tumbuh dari satu
kesatuan daun, sementara pada bagian puncaknya ditempatkan kaligrafi nama Muhammadiyah.

## Palu: Dari Bencana Menuju Ketangguhan

Pemilihan daun kelor tidak lepas dari keterkaitannya dengan Palu sebagai tuan rumah
Tanwir 2026. Palu dan sejumlah daerah di Sulawesi Tengah pernah menghadapi gempa
bumi, tsunami, dan likuefaksi pada 2018. Bencana itu meninggalkan kerusakan besar,
tetapi kemudian juga melahirkan pengalaman panjang tentang pemulihan, daya tahan,
dan kerja bersama.

Muhammadiyah turut hadir dalam proses pemulihan melalui [pendidikan](https://muhammadiyahciko.or.id/menata-ulang-kompas-pendidikan-nasional-telaah-kritis-atas-rencana-penghapusan-kenaikan-kelas-otomatis-pada-2027/),
[kesehatan](https://muhammadiyahciko.or.id/rs-muhammadiyah-ini-hadirkan-wisata-kesehatan-berkemajuan/),
pemberdayaan ekonomi, serta berbagai kegiatan kemanusiaan. Universitas Muhammadiyah
Palu dan sejumlah [Amal Usaha](https://muhammadiyahciko.or.id/prospek-web-muhammadiyah-kota-cirebon/)
Muhammadiyah menjadi bagian dari perjalanan itu. Pengalaman bangkit dari bencana
itulah yang menjadikan Palu sebagai latar yang kuat bagi pesan persatuan yang dibawa
Muhammadiyah.

## Tema “Bersama Satukan Bangsa” dan Pesan Al-Qur’an

Tema Tanwir 2026, “Bersama Satukan Bangsa,” berakar pada nilai-nilai persaudaraan
dan keberagaman yang diajarkan dalam Al-Qur’an. Dokumen resmi Muhammadiyah menjelaskan
tema tersebut sebagai seruan untuk membangun kebersamaan, persatuan, serta kemajuan
bangsa di tengah keragaman dan perbedaan.

Salah satu landasan utama tema ini adalah **Surah Al-Hujurat ayat 10**:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ
لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

_Innamal-mu’minūna ikhwatun fa ashliḥū baina akhawaikum wattaqullāha la’allakum 
turḥamūn._

**Artinya:** “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah
kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.”

Ayat ini menegaskan bahwa seluruh mukmin terikat dalam ikatan persaudaraan yang 
kokoh, sehingga setiap upaya untuk mendamaikan dan menyatukan menjadi bagian dari
ketakwaan kepada Allah.

Selain itu, **Surah Al-Hujurat ayat 13** menjadi fondasi penting dalam memahami 
semangat keberagaman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ 
شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ
اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

_Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja’alnākum syu’ūbaw wa 
qabā’ila lita’ārafū, inna akramakum ‘indallāhi atqākum, innallāha ‘alīmun khabīr._

**Artinya:** “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan [perempuan](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-aisyiyah-kota-cirebon-bahas-kepemimpinan-perempuan/).
Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling
mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang
yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”

Kedua ayat tersebut menegaskan bahwa keberagaman bukan penghalang persatuan, melainkan
sarana untuk saling mengenal dan bekerja sama dalam kebaikan.

## Hadis tentang Persatuan dan Kebersamaan

Semangat persatuan yang diusung Muhammadiyah juga dikuatkan oleh sabda Rasulullah
Shalallahu Alaihi Wasallam yang menggambarkan ikatan antarmukmin seperti bangunan
yang saling menguatkan:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

_Al-mu’minu lil-mu’mini kal-bunyāni yasyuddu ba’ḍuhu ba’ḍan._

**Artinya:** “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti sebuah bangunan, sebagian
menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari)

Dalam hadis lain, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga menggambarkan persaudaraan
mukmin seperti satu tubuh yang saling merasakan:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ

_Matsalul-mu’minīna fī tawāddihim wa tarāḥumihim wa ta’āṭufihim matsalul-jasad._

**Artinya:** “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, saling 
menyayangi, dan saling mengasihi adalah seperti satu tubuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua hadis ini menegaskan bahwa persatuan dan kebersamaan bukan sekadar anjuran,
melainkan bagian dari hakikat keimanan seorang Muslim. Inilah spirit yang diusung
Muhammadiyah melalui tema “Bersama Satukan Bangsa” dalam Tanwir 2026.

## Tanwir Digelar 19–21 November 2026 di Palu

Berdasarkan Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 19/EDR/I.0/B/2026 tentang Tuntunan
Penyelenggaraan Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah, Tanwir akan berlangsung pada**
19–21 November 2026 di Kota Palu, Sulawesi Tengah**.

Milad ke-114 Muhammadiyah jatuh pada 18 November 2026. Resepsi Milad akan digabung
dengan pembukaan Tanwir pada Kamis, 19 November 2026, pukul 09.00–11.30 WITA di 
Universitas Muhammadiyah Palu. Pimpinan Muhammadiyah, [organisasi](https://muhammadiyahciko.or.id/pentingnya-website-di-era-ai/)
otonom, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah di luar negeri, serta amal usaha Muhammadiyah
yang tidak hadir di Palu dapat mengikuti pembukaan melalui siaran langsung Muhammadiyah
Channel.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Tengah, Amin Parakkasi, mengatakan
amanah menjadi tuan rumah bukan semata persoalan penyelenggaraan acara. Tanwir dipandang
sebagai momentum untuk menghadirkan Muhammadiyah sebagai gerakan [Islam](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/)
[berkemajuan](https://muhammadiyahciko.or.id/prof-dadang-kahmad-tekankan-jurnalistik-sebagai-dakwah-berkemajuan-di-akademi-jurnalistik-muhammadiyah-4-malang/).

Sementara Rektor Universitas Muhammadiyah Palu sekaligus Ketua Panitia Penerima 
Tanwir 2026, Rajindra, mengatakan persiapan terus dimatangkan, mulai lokasi, sarana
dan prasarana, pelayanan peserta, akomodasi, hingga koordinasi teknis kepanitiaan.

## Agenda Strategis Menuju 25 Tahun Mendatang

Haedar Nashir menyatakan Tanwir 2026 merupakan tanwir terakhir dalam periode [kepemimpinan](https://muhammadiyahciko.or.id/membangun-etika-komunikasi-pemimpin-islam-meneladani-sifat-rasulullah-dan-piagam-madinah-dalam-menghadapi-fitnah-digital/)
Muhammadiyah 2022–2027 sebelum Muktamar Ke-49 di Medan pada 2027. Salah satu pembahasan
pentingnya adalah program Muhammadiyah untuk 25 tahun mendatang.

Artinya, pembicaraan di Palu tidak hanya diarahkan untuk menjawab persoalan satu
atau dua tahun ke depan, melainkan juga menyiapkan peta perjalanan Perserikatan 
sampai pertengahan abad ini. Tanwir merupakan forum permusyawaratan tertinggi kedua
di Muhammadiyah setelah Muktamar. Karena posisinya menjelang Muktamar Ke-49, keputusan
dan gagasan yang lahir dari Palu akan menjadi bagian penting dalam menyiapkan perjalanan
Muhammadiyah memasuki periode berikutnya.

Di titik itulah logo dengan daun kelor mendapatkan makna yang lebih utuh. Ia berangkat
dari tanaman yang akrab dengan masyarakat Palu, membawa simbol ketahanan dan kebermanfaatan,
lalu bertemu dengan angka 114 yang menggambarkan perjalanan panjang Muhammadiyah.
Dari kesederhanaan daun kelor, Muhammadiyah menegaskan komitmennya untuk terus bertumbuh,
bermanfaat, dan menyatukan bangsa.

## Comments

### By: Moch Sidik Sadali

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/muhammadiyah-luncurkan-logo-tanwir-dan-milad-ke-114-daun-kelor-simbol-ketangguhan-dan-persatuan-bangsa/comment-page-1/#comment-5309
- Published: 2026-09-15T12:02:17+07:00

Dengan diluncurkannya Logo Tanwir dan Milad Muhammadiyah Ke-114 bergambar Daun Kelor
yang merupakan simbol Ketangguhan, membuka lembaran baru untuk mengajak jamaah Muhammadiyah
khususnya dan ummat Islam pada umumnya untuk tegar berjuang membela keadilan dan
kebenaran, berlomba-lomba dalam kebajikan dan beramar ma’ruf nahi munkar di manapun
berada, demi negara tercinta serta dapat mengambil manfaat dan berkah dari kandungan
logo tersebut untuk kehidupan sehari-hari.

### By: Arofah Firdaus

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/muhammadiyah-luncurkan-logo-tanwir-dan-milad-ke-114-daun-kelor-simbol-ketangguhan-dan-persatuan-bangsa/comment-page-1/#comment-5310
- Published: 2026-09-15T12:15:09+07:00

Terimakasih Bah luar biasa komentarnya. Tetap semangat.
