# PCM Kesambi Gelar Pengajian Ahad Pagi, Ustadz Upang Ibrahim Kupas Makna Al-Fasadu dalam Surat Ar-Rum

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/pcm-kesambi-gelar-pengajian-ahad-pagi-ustadz-upang-ibrahim-kupas-makna-al-fasadu-dalam-surat-ar-rum/
- Published: 2026-07-19T08:35:13+07:00
- Author: Arofah Firdaus

**CIREBON**, **muhammadiyahciko** – Suasana khidmat dan penuh keberkahan menyelimuti
Balai Pengajian Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kesambi, Jalan Simaja, [Kota Cirebon](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-editorial/),
pada Ahad pagi, 19 Juli 2026. Puluhan jamaah dari berbagai wilayah memadati lokasi
untuk mengikuti pengajian rutin yang kali ini menghadirkan penceramah kondang, **
Ustadz Upang Ibrahim**. Acara berlangsung tertib dan lancar, diawali dengan ucapan
syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Pengajian pagi ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan [PCM Kesambi](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-ahad-pagi-pcm-kesambi-ustadz-agus-wahid-ulas-tafsir-al-asr-ingatkan-pentingnya-manajemen-waktu/).
Tampak hadir secara langsung **Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kesambi, H. Digyono**,
beserta para wakil ketua dan pengurus harian lainnya. Kehadiran para pimpinan ini
menambah semarak kegiatan sekaligus menjadi bentuk dukungan nyata terhadap [program](https://muhammadiyahciko.or.id/pentingnya-website-di-era-ai/)
[dakwah](https://muhammadiyahciko.or.id/prof-dadang-kahmad-tekankan-jurnalistik-sebagai-dakwah-berkemajuan-di-akademi-jurnalistik-muhammadiyah-4-malang/)
dan pembinaan umat di wilayah Kesambi.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/07/muhciko-
pcm-kesambi-gelar-pengajian-ahad-pagi-ustadz-upang-ibrahim-kupas-makna-al-fasadu-
dalam-surat-ar-rum-1.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

Dalam tausiyah utamanya, Ustadz Upang Ibrahim mengangkat tema mendalam tentang makna
_al-fasadu_ (kerusakan) yang bersumber dari **Surat Ar-Rum ayat 41**. Beliau menjelaskan
bahwa kerusakan yang dimaksud dalam ayat ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi 
juga menyentuh aspek moral dan [sosial](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/)
yang lebih luas.

Ustadz Upang mengawali penjelasannya dengan membacakan firman Allah Subhanahu Wa
Ta’ala :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

**Artinya:** _“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan
tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”_

Beliau menegaskan bahwa inti ayat ini adalah peringatan keras bahwa _al-fasadu_ 
adalah kondisi yang telah melebihi batas kerusakan. Bukan hanya fisik yang rusak,
tetapi seluruh sumber daya alam dan nilai-nilai kehidupan juga ikut tergerus. Ada
dua dimensi besar kerusakan yang diuraikan: **pertama**, kerusakan [lingkungan](https://muhammadiyahciko.or.id/muhammadiyah-karhutla-bukan-bencana-tahunan/)
darat dan laut yang nyata terlihat seperti polusi, kekeringan, dan [bencana](https://muhammadiyahciko.or.id/muhammadiyah-karhutla-bukan-bencana-tahunan/)
ekologi; **kedua**, kerusakan moral dan sosial yang tercermin dalam perilaku zalim
dan maksiat.

Mengutip **Surat Al-A’raf ayat 56**, Ustadz Upang mengingatkan agar umat manusia
tidak menjadi pelaku kerusakan. Beliau membacakan firman Allah:
وَلَا تُفْسِدُوا
فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ 
اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ

**Artinya:** _“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan
baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat
Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.”_

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/07/muhciko-
pcm-kesambi-gelar-pengajian-ahad-pagi-ustadz-upang-ibrahim-kupas-makna-al-fasadu-
dalam-surat-ar-rum.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

Penceramah menekankan bahwa kerusakan dapat berbentuk berbagai perbuatan dosa, seperti
kemaksiatan, kezaliman, korupsi, dan perusakan alam. Dalam konteks ini, Allah Subhanahu
Wa Ta’ala mengajarkan tiga keseimbangan fundamental bagi kehidupan manusia, yaitu:

 1. **Manusia dengan alam**: dilarang merusak, diperintahkan merawat,
 2. **Manusia dengan Allah**: berdoa dengan rasa takut dan harap akan rahmat-Nya,
 3. **Manusia dengan sesama**: berlaku baik dan menjadi _muhsinin_ (orang-orang yang
    berbuat kebaikan).

Lebih lanjut, Ustadz Upang menyampaikan peringatan Allah tentang _fasadu_ melalui**
Surat Al-Fathir Ayat 45**. Beliau membacakan ayat tersebut sebagai pengingat akan
kasih sayang Allah yang masih memberi kesempatan bagi manusia untuk bertaubat:
وَلَوْ
يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ
وَلَٰكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ
اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا

**Artinya:** _“Dan sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka
perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu pun makhluk bergerak yang bernyawa
di bumi ini, tetapi Dia menangguhkan (hukuman)-nya, sampai waktu yang sudah ditentukan.
Nanti apabila ajal mereka tiba, maka Allah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.”_

Ustadz Upang menjelaskan bahwa ayat ini merupakan bentuk kasih sayang Allah yang
tidak menyegerakan azab atas kesalahan manusia. Penundaan hukuman ini adalah kesempatan
emas bagi manusia untuk kembali (_taubat_) dan memperbaiki diri serta lingkungannya.

Di sela-sela tausiyah, beliau juga menegaskan bahwa barometer keimanan seseorang
dapat tergambar dari pelaksanaan perintah Allah dengan ikhlas, baik yang bersifat
wajib maupun sunah. Ketika seorang hamba istiqamah menjalankan kewajiban dan memperbanyak
amalan sunah, maka itu pertanda imannya sedang dalam kondisi baik. Sebaliknya, jika
mulai melalaikan perintah dan bergelimang dalam kemaksiatan, maka itu adalah sinyal
iman yang sedang menurun dan perlu segera diperbaiki.

Acara pengajian yang berlangsung hingga menjelang siang ini ditutup dengan doa dan
ramah tamah. Para jamaah terlihat antusias dan mendapatkan pencerahan baru mengenai
tanggung jawab moral sebagai khalifah di muka bumi, serta pentingnya menjaga keimanan
sebagai barometer kehidupan yang baik.

Ketua PCM Kesambi, **H. Digyono**, dalam sambutan singkatnya menyampaikan apresiasi
yang tinggi kepada Ustadz Upang Ibrahim atas ilmu yang disampaikan serta kepada 
seluruh jamaah yang telah meluangkan waktu untuk hadir. Beliau berharap kegiatan
serupa dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi warga Muhammadiyah serta
masyarakat luas di Kota Cirebon, khususnya dalam meningkatkan kualitas keimanan 
dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

**Peliput : Muryanto dan Tim Media PCM Kesambi Kota Cirebon **

**Editor : Arofah Firdaus **
