# Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kesambi Kota Cirebon “Memahami Bid’ah, Sunnah Hasanah, dan Sunnah Sayyiah dalam Bingkai Syariat”

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-ahad-pagi-pimpinan-cabang-muhammadiyah-kesambi-kota-cirebonmemahami-bidah-sunnah-hasanah-dan-sunnah-sayyiah-dalam-bingkai-syariat/
- Published: 2026-07-26T09:14:14+07:00
- Author: Arofah Firdaus

**CIREBON, 26 Juli 2026** – Balai Pengajian Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kesambi
yang terletak di Jalan Simaja, [Kota Cirebon](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-editorial/),
dipadati jamaah pada Ahad pagi ini. Pengajian rutin yang digelar [PCM Kesambi](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-ahad-pagi-pcm-kesambi-ustadz-agus-wahid-ulas-tafsir-al-asr-ingatkan-pentingnya-manajemen-waktu/)
berlangsung khidmat dengan menghadirkan penceramah **Ustadz H. Yandi Heryandi, M.
Pd.**, yang menyampaikan materi krusial seputar **“Bid’ah, Sunnah Hasanah, dan Sunnah
Sayyiah”**.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/07/muhciko-
pengajian-ahad-pagi-pimpinan-cabang-muhammadiyah-kesambi-kota-cirebon-memahami-bidah-
sunnah-hasanah-dan-sunnah-sayyiah-dalam-bingkai-syariat-4.jpg?resize=1024%2C851&
ssl=1)

Acara pengajian yang berlangsung mulai pukul 07.00 WIB hingga selesai ini turut 
dihadiri oleh **Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kesambi Kota Cirebon, H. Digyono**,
beserta jajaran pimpinan dan pengurus PCM Kesambi lainnya. Kehadiran para tokoh 
Muhammadiyah ini semakin menambah semarak dan khidmatnya suasana pengajian.

---

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/07/muhciko-
pengajian-ahad-pagi-pimpinan-cabang-muhammadiyah-kesambi-kota-cirebon-memahami-bidah-
sunnah-hasanah-dan-sunnah-sayyiah-dalam-bingkai-syariat-2.jpg?resize=768%2C1024&
ssl=1)

## Materi Pengajian

Dalam ceramahnya, Ustadz H. Yandi Heryandi, M.Pd., memaparkan materi secara sistematis
dengan mengupas tuntas tiga pokok bahasan utama, yaitu:

### A. Pengertian Bid’ah

Ustadz Yandi mengawali ceramah dengan menjelaskan pengertian bid’ah secara bahasa
dan istilah. Secara bahasa, bid’ah berasal dari kata **بَدْعَة** yang berarti mengadakan
sesuatu yang baru tanpa ada contoh sebelumnya. Beliau mengutip firman Allah dalam
Al-Qur’an:

**QS Al-Baqarah (2): 117**

> بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Artinya: _“Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi.”_

Secara istilah syara’, bid’ah adalah cara baru dalam perkara agama yang menyerupai
syariat, dilakukan dengan maksud beribadah atau mendekatkan diri kepada Allah, tanpa
adanya dalil dari Al-Qur’an, sunnah, maupun contoh dari Rasulullah shallallahu ‘
alaihi wa sallam.

Untuk memperkuat penjelasannya, Ustadz Yandi membacakan hadis Rasulullah shallallahu‘
alaihi wa sallam:

> عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ 
> عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ، وَعَلَا صَوْتُهُ، وَاشْتَدَّ
> غَضَبُهُ، حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ: «صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ»،
> وَيَقُولُ: «بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ»، وَيَقُولُ: «أَمَّا بَعْدُ،
> فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ،
> وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»

Artinya: _“Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Apabila Rasulullah shallallahu ‘
alaihi wa sallam berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan semangatnya
berkobar, bagaikan panglima perang yang sedang memberi komando kepada bala tentaranya.
Beliau bersabda: ‘Hendaklah kalian selalu waspada di waktu pagi dan petang. Aku 
diutus sementara antara aku dan hari kiamat adalah seperti dua jari ini.’ Beliau
melanjutkan: ‘Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, 
sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan
seburuk-buruk perkara adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.'”_ (HR Muslim
no. 867)

Dalam riwayat An-Nasa’i disebutkan tambahan:

> وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

Artinya: _“…dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.”_ (HR An-Nasa’i no. 1550)

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/07/muhciko-
pengajian-ahad-pagi-pimpinan-cabang-muhammadiyah-kesambi-kota-cirebon-memahami-bidah-
sunnah-hasanah-dan-sunnah-sayyiah-dalam-bingkai-syariat-3.jpg?resize=1024%2C731&
ssl=1)

---

### B. Macam-Macam Bid’ah dan Pandangan Ulama

Ustadz Yandi menjelaskan bahwa di kalangan ulama terdapat perbedaan pandangan tentang
macam-macam bid’ah. Beliau mengutip pendapat Imam Al-Syathibi dalam kitab _Al-I’tisham_
yang menegaskan bahwa bid’ah hanya terkait dengan urusan agama, yaitu akidah dan
ibadah mahdhah (khusus). Segala bentuk tambahan dalam ibadah yang tidak bersumber
dari sunnah Nabi adalah bid’ah dan tercela.

Namun demikian, Imam Syafii juga membagi bid’ah menjadi dua: _bid’ah mahmudah_ (
terpuji) dan _bid’ah madzmumah_ (tercela). Jika hal baru tidak bertentangan dengan
Al-Qur’an, sunnah, ijma, atau atsar sahabat, maka hal itu terpuji. Sebaliknya, jika
bertentangan, maka tercela. Pandangan ini kemudian dikutip oleh banyak ulama, di
antaranya Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam _Fath Al-Bari_.

Beliau menegaskan bahwa **Muhammadiyah dalam Manhaj Tarjih** berpandangan bahwa 
bid’ah hanya ada dalam masalah akidah dan ibadah mahdhah. Segala bentuk penambahan
atau pengurangan dalam ibadah, seperti tata cara shalat, jumlah rakaat, atau ritual
khusus yang tidak diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk bid’ah 
yang sesat.

Namun, dalam urusan muamalah ([sosial](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/),
budaya, [pendidikan](https://muhammadiyahciko.or.id/menata-ulang-kompas-pendidikan-nasional-telaah-kritis-atas-rencana-penghapusan-kenaikan-kelas-otomatis-pada-2027/),
teknologi, dan sebagainya), selama tidak bertentangan dengan syariat dan membawa
maslahat bagi kehidupan, maka hal itu dibolehkan, bahkan dianjurkan. Contohnya adalah
pendirian sekolah, rumah sakit, panti asuhan, atau penggunaan teknologi modern dalam
[dakwah](https://muhammadiyahciko.or.id/prof-dadang-kahmad-tekankan-jurnalistik-sebagai-dakwah-berkemajuan-di-akademi-jurnalistik-muhammadiyah-4-malang/).

Ustadz Yandi mengutip hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

> عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
> اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي»

Artinya: _“Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu‘
alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan
termasuk golonganku.'”_ (HR Al-Bukhari no. 5063)

Beliau juga mengingatkan jamaah dengan firman Allah:

**QS Al-Hajj (22): 77**

> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا
> الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: _“Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu,
dan lakukanlah kebaikan agar kamu beruntung.”_

Dengan memahami ayat ini, Ustadz Yandi menekankan bahwa orang beriman yang senantiasa
rukuk dan sujud, menyembah Allah, haruslah menghasilkan pribadi yang mampu berbuat
baik di kehidupan nyata. Iman tidak cukup hanya dengan shalat, tetapi harus diiringi
dengan amal saleh dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Allah selalu menyebut kata“
iman” dikaitkan dengan “amal saleh”.

---

### C. Sunnah Hasanah dan Sunnah Sayyiah

Pada sesi terakhir, Ustadz Yandi menjelaskan istilah _sunnah hasanah_ dan _sunnah
sayyiah_ yang tidak bisa dilepaskan dari hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam:

> عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ
> اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَدْرِ النَّهَارِ، فَجَاءَ قَوْمٌ
> عُرَاةٌ مُجْتَابِي النِّمَارِ، أَوِ الْكِسَاءِ، مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ، مِنْ 
> مُضَرَ بَلْ مِنْ قَيْسٍ، فَتَغَيَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
> وَسَلَّمَ لِمَا رَأَى بِهِمْ مِنَ الْفَاقَةِ، ثُمَّ خَرَجَ فَأَمَرَ بِلَالًا فَأَذَّنَ
> وَأَقَامَ فَصَلَّى، ثُمَّ خَطَبَ، فَقَالَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ…»
> ثُمَّ قَالَ: «مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ
> مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ،
> وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ
> مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ 
> شَيْءٌ»

Artinya: _“Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Kami bersama 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada pagi hari, lalu datanglah satu kaum
yang telanjang kaki dan telanjang dada, berpakaian kulit domba yang sobek-sobek,
dengan menyandang pedang dari kabilah Mudhar. Wajah Rasulullah berubah ketika melihat
kefakiran mereka. Kemudian beliau masuk, keluar, dan memerintahkan Bilal untuk adzan,
lalu Bilal adzan dan iqamat, kemudian beliau shalat. Setelah shalat beliau berkhutbah
seraya membaca ayat… kemudian beliau bersabda: ‘Barangsiapa yang membuat sunnah 
hasanah dalam [Islam](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/),
maka baginya pahala dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi
pahala-pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang membuat sunnah sayyiah (sunnah
yang buruk) dalam Islam, maka baginya dosa ditambah dosa orang yang mengamalkannya
setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.'”_ (HR Muslim no. 1017)

Ustadz Yandi menjelaskan bahwa hadis ini mengandung motivasi untuk menjadi perintis
dalam amal kebaikan dan sunnah hasanah, serta peringatan dari membuat-buat amalan
yang tercela. Istilah _sunnah hasanah_ dan _sunnah sayyiah_ sebenarnya tidak berdiri
sendiri, sebab jika berdiri sendiri, yang namanya sunnah (perilaku Nabi shallallahu‘
alaihi wa sallam) tidak ada yang sayyiah (buruk). Yang dimaksud adalah perbuatan
yang diriwayatkan atau dicontohkan oleh Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, 
maupun ketetapan.

Beliau juga mengutip hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:

> عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
> عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ
> رَدٌّ»

Artinya: _“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami (yaitu
dalam Islam) yang tidak ada asalnya, maka amalannya tertolak.”_ (HR Bukhari no. 
2967)

Selain itu, Ustadz Yandi mengingatkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

> عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
> اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ
> أَبَى» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: «مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ
> الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى»

Artinya: _“Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali orang yang enggan.” Beliau ditanya:“
Siapakah orang yang enggan itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang
taat kepadaku, maka ia masuk surga, dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku (menyalahi
ajaranku), maka ia orang yang enggan.”_ (HR Al-Bukhari)

---

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/07/muhciko-
pengajian-ahad-pagi-pimpinan-cabang-muhammadiyah-kesambi-kota-cirebon-memahami-bidah-
sunnah-hasanah-dan-sunnah-sayyiah-dalam-bingkai-syariat.jpg?resize=1024%2C768&ssl
=1)

## Suasana Pengajian

Pengajian Ahad pagi ini berlangsung dengan tertib dan penuh kekhusyukan. Jamaah 
yang memenuhi Balai Pengajian PCM Kesambi tampak antusias menyimak setiap penjelasan
yang disampaikan oleh Ustadz H. Yandi Heryandi, M.Pd. Materi yang disajikan secara
lugas dan mendalam ini mendapat sambutan hangat dari para jamaah, terlihat dari 
banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam sesi tanya jawab setelah ceramah.

Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan sambutan 
dari **Ketua PCM Kesambi, Bapak H. Digyono**, yang dalam sambutannya menyampaikan
apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya pengajian ini. Beliau juga mengingatkan
pentingnya menjaga kemurnian ibadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu‘
alaihi wa sallam dan menjauhi segala bentuk bid’ah dalam perkara agama.

Pengajian Ahad pagi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kesambi
ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang komprehensif kepada masyarakat tentang
perbedaan antara bid’ah, sunnah hasanah, dan sunnah sayyiah. Dengan pemahaman yang
benar, diharapkan umat Islam dapat menjalankan ibadah dengan tepat sesuai tuntunan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta tetap produktif dalam bermuamalah
dan berkontribusi bagi kemaslahatan umat dan bangsa.

Setelah ceramah inti, pengajian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ustadz H. 
Yandi Heryandi, memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar senantiasa memberikan
petunjuk dan hidayah-Nya kepada seluruh umat Islam untuk tetap istiqamah di jalan
yang lurus serta dijauhkan dari segala bentuk kesesatan. Acara kemudian diakhiri
dengan ramah tamah dan santap ringan bersama seluruh jamaah.

---

## Penutup

**Peliput :** **Humas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kesambi** **Kota Cirebon**

---

_“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu(
yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan
dia banyak menyebut Allah.”_ (QS Al-Ahzab: 21)

**Editor : Arofah Firdaus **
