# Pengajian PCM Kesambi: Ustadz Dr. Maman Rusman Paparkan Konsep Kesalehan Spiritual dan Sosial Menyambut Ramadhan

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-pcm-kesambi-ustadz-dr-maman-rusman-paparkan-konsep-kesalehan-spiritual-dan-sosial-menyambut-ramadhan/
- Published: 2026-02-15T19:18:02+07:00
- Author: Arofah Firdaus

**CIREBON, 15 Februari 2026** – Menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H, Pimpinan Cabang
Muhammadiyah (PCM) Kesambi menggelar pengajian Ahad pagi yang berlangsung khidmat,
15 Februari 2026. Acara yang bertempat di balai pengajian [PCM Kesambi](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-ahad-pagi-pcm-kesambi-ustadz-agus-wahid-ulas-tafsir-al-asr-ingatkan-pentingnya-manajemen-waktu/)
ini menghadirkan penceramah **Ustadz Dr. Maman Rusman, M.Pd.**, mengambil tema **“
Dengan Saum Ramadhan Kita Tingkatkan Kesalehan Spiritual dan Sosial”**.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/02/img-20260215-
wa01092062062461215063066.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

Turut hadir dalam kesempatan tersebut **Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota 
Cirebon, Drs. Puji Nirmo**, serta **Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kesambi, 
H. Digyono** , beserta jajaran pimpinan dan warga Muhammadiyah se-Kecamatan Kesambi.
Suasana kebersamaan dan kerinduan menyambut Ramadhan tampak jelas terpancar dari
wajah para jamaah yang memadati lokasi pengajian.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/02/img-20260215-
wa01078421746146435209335.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

---

## Makna Kesalehan: Pelaku Kebaikan, Taat, dan Setia

Mengawali tausiyahnya, Ustadz Dr. Maman Rusman menjelaskan makna kata **“saleh”**
secara etimologis. “Kata saleh berasal dari bahasa Arab _shaluha_ yang berarti **
berbuat baik, taat, dan setia**. Dalam budaya kita, kata saleh dimaknai sebagai 
berbakti. Orang saleh adalah pelaku kebaikan, bukan sekadar pengaku,” paparnya.

Beliau kemudian membagi konsep kesalehan menjadi dua dimensi utama yang harus diperhatikan
seorang Muslim, terutama di bulan Ramadhan: **kesalehan spiritual** dan **kesalehan
sosial**.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/02/img-20260215-
wa01064749620810722083325.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

---

## Kesalehan Spiritual: Jiwa yang Terhubung dengan Allah

Kesalehan [spiritual](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/),
menurut Ustadz Dr. Maman, berkaitan dengan jiwa atau batin manusia. “Ini adalah 
hubungan vertikal kita dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bagaimana kita memohon 
pertolongan, mendekatkan diri, dan merasakan kehadiran-Nya dalam setiap langkah 
kehidupan,” jelasnya.

Landasan utama kesalehan spiritual ini terdapat dalam firman Allah QS. Al-Baqarah
ayat 45-46:

**وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى 
الْخَاشِعِينَ . الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ
رَاجِعُونَ**

_“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian
itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang
meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-
Nya.”_ (QS. Al-Baqarah: 45-46)

Ustadz Maman menguraikan beberapa faedah penting dari ayat ini:

### a. Sabar dan Shalat sebagai Penolong

“Sabar dan shalat adalah dua senjata utama seorang mukmin dalam menghadapi ujian
dunia. Keduanya menjadi sumber kekuatan dari Allah yang tidak akan pernah habis.
Di bulan Ramadhan, kita dilatih untuk bersabar menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu,
serta ditingkatkan kualitas shalat kita melalui tarawih dan qiyamullail,” terangnya.

### b. Ujian adalah Bukti Keimanan

Beliau mengingatkan bahwa kehadiran ujian dalam hidup justru menjadi bukti keimanan
seseorang. Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Ramadhan
adalah bulan ujian sekaligus bulan latihan untuk menghadapi berbagai ujian kehidupan
dengan kesabaran.

### c. Shalat sebagai Tolak Ukur Keimanan

“Shalat adalah tolok ukur keimanan. Jika shalat seseorang baik, maka baik pula seluruh
amalnya. Sebaliknya, jika shalatnya rusak, maka rusak pula seluruh amal perbuatannya,”
tegas Ustadz Maman mengutip hadis Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/02/img-20260215-
wa01021012075006387141471.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

---

## Khusyuk: Ruh dari Shalat

Memasuki pembahasan tentang khusyuk, Ustadz Dr. Maman menegaskan bahwa khusyuk adalah**
ruh dari shalat**. Tanpa kekhusyukan, shalat hanya menjadi gerakan fisik tanpa makna.

“Khusyuk adalah hadirnya hati bersama Allah, meresapi setiap bacaan, dan merasakan
kebesaran-Nya. Shalat yang khusyuk akan melahirkan rasa takut kepada Allah dan keyakinan
yang kuat akan pertemuan dengan-Nya,” paparnya.

Beliau mengutip firman Allah dalam QS. Al-Mu’minun ayat 1-2:

**قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ . الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ**

_“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam
shalatnya.”_ (QS. Al-Mu’minun: 1-2)

“Orang yang khusyuk dalam shalatnya akan merasakan manisnya iman. Shalatnya akan
mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah dalam QS. 
Al-‘Ankabut ayat 45:

**إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ**

_“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”_ (QS. Al-‘
Ankabut: 45)

Namun, Ustadz Maman mengingatkan bahwa shalat yang tidak khusyuk tidak akan mampu
mencegah pelakunya dari kemaksiatan. “Shalat yang hanya gerakan tanpa hati, tidak
akan berdampak pada perilaku [sosial](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/)
seseorang. Inilah sebabnya kita melihat orang shalat tetapi masih berbuat curang,
korupsi, atau menyakiti sesama,” tegasnya.

---

## Kesalehan Sosial dalam Surat Al-Ma’un

Setelah membahas kesalehan spiritual, Ustadz Dr. Maman beralih pada **kesalehan 
sosial** yang menjadi ciri khas gerakan Muhammadiyah. Beliau mengutip Surat Al-Ma’un
ayat 1-7 yang menjadi spirit [amal usaha](https://muhammadiyahciko.or.id/prospek-web-muhammadiyah-kota-cirebon/)
Muhammadiyah:

**أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ . فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ.
وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ . فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ . الَّذِينَ
هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ . الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ . وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ**

_“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik
anak yatim. Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang
yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat ria,
dan enggan (memberikan) bantuan.”_ (QS. Al-Ma’un: 1-7)

Ustadz Maman menjelaskan bahwa surat Al-Ma’un memberikan kritik sosial yang sangat
tajam. “Ada orang yang shalat, tetapi karena shalatnya tidak khusyuk dan tidak berkualitas,
ia tetap menghardik anak yatim, tidak peduli pada orang miskin, dan enggan memberi
bantuan sosial. Inilah gambaran orang yang shalatnya tidak melahirkan kesalehan 
sosial,” paparnya.

Beliau mengingatkan bahwa Kyai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, berulang kali
mengajarkan surat ini kepada para muridnya. “Bukan tanpa alasan Kyai Dahlan terus-
menerus mengulang surat Al-Ma’un. Beliau ingin menanamkan pemahaman bahwa iman harus
dibuktikan dengan amal sosial yang nyata. Iman tidak boleh hanya menjadi wacana 
di mulut, tetapi harus menjelma menjadi tindakan membela anak yatim, memberi makan
fakir miskin, dan membantu sesama,” tegasnya.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/02/img-20260215-
wa01037923442777473363454.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

---

## Integrasi Kesalehan Spiritual dan Sosial di Bulan Ramadhan

Memasuki penghujung tausiyah, Ustadz Dr. Maman mengajak jamaah untuk mengintegrasikan
dua dimensi kesalehan ini dalam mengisi bulan Ramadhan.

“Ramadhan adalah madrasah (sekolah) yang mendidik kita untuk menjadi pribadi yang
saleh secara spiritual dan sosial. Di siang hari kita berpuasa, melatih kesabaran
dan ketakwaan. Di malam hari kita shalat tarawih dan tadarus Al-Qur’an, mendekatkan
diri kepada Allah. Namun, jangan lupa bahwa Ramadhan juga mengajarkan kita untuk
peduli kepada sesama melalui zakat fitrah, infak, sedekah, dan memberi makan orang
yang berpuasa,” paparnya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

**مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ
أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا**

_“Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang
yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit 
pun.”_ (HR. Tirmidzi)

“Ramadhan yang berkualitas adalah Ramadhan yang melahirkan dua kesalehan sekaligus:**
saleh spiritual** yang ditandai dengan meningkatnya kualitas ibadah mahdhah seperti
shalat, puasa, dan tilawah; serta **saleh sosial** yang ditandai dengan meningkatnya
kepedulian, empati, dan kontribusi nyata kepada masyarakat, terutama kepada mereka
yang lemah dan membutuhkan,” pungkas Ustadz Maman.

---

## Penutup: Menjemput Ramadhan dengan Kesiapan Utuh

Acara pengajian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustadz Dr. Maman Rusman.
Dalam pesan terakhirnya, beliau mengajak seluruh jamaah untuk mempersiapkan diri
menyambut Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

“Marhaban ya Ramadhan. Sambutlah kedatangannya dengan hati yang bersih, dengan semangat
memperbaiki kualitas spiritual dan meningkatkan kepedulian sosial. Jadikan puasa
kita tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Semoga kita semua dipertemukan
dengan Lailatul Qadar dan meraih derajat takwa. Aamiin ya Rabbal ‘alamin,” tutupnya.

Ketua PCM Kesambi, H. Digyono, dalam sambutan singkatnya menyampaikan apresiasi 
kepada seluruh jamaah yang hadir dan berharap pengajian ini menjadi bekal berharga
dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan.
