# Pengajian Reboan Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon: Memahami Keutamaan Shalat Tahajud

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-reboan-masjid-santun-muhammadiyah-kota-cirebon-memahami-keutamaan-shalat-tahajud/
- Published: 2026-10-28T21:07:51+07:00
- Author: Redaksi-AF

MASJID Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali menyelenggarakan Pengajian Reboan
pada hari Rabu, 28 Oktober 2026. Acara yang menjadi agenda rutin mingguan ini menghadirkan**
Ustadz Agus Wahid, S.Ag.** sebagai penceramah, dengan mengangkat tema mendalam mengenai
hakikat dan tata cara pelaksanaan Shalat Tahajud.

Dalam pemaparannya, Ustadz Agus Wahid mengupas secara komprehensif asal-usul kata“
Tahajud” dalam bahasa Arab. Beliau menjelaskan bahwa kata _hajada_ (هَجَدَ) bermakna
tidur, sedangkan _tahajjada_ (تَهَجَّدَ) bermakna orang yang bergegas bangun dari
tidurnya. Oleh karena itu, secara istilah, shalat Tahajud didefinisikan sebagai 
shalat yang dikerjakan setelah seseorang tidur terlebih dahulu. “Shalat sunnah yang
dikerjakan sebelum tidur tidak dinamakan shalat Tahajud,” tegasnya di hadapan jamaah.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261028-
WA0069.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

Penceramah yang aktif dalam berbagai kajian ini juga menjelaskan perbedaan mendasar
antara _Qiyamullail_ dan shalat Tahajud. Menurutnya, _Qiyamullail_ mencakup seluruh
aktivitas ibadah di malam hari, seperti berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan menuntut
ilmu, tanpa disyaratkan harus tidur terlebih dahulu. Sementara itu, shalat Tahajud
adalah bentuk khusus dari _Qiyamullail_ yang berupa shalat dan disyaratkan dilakukan
setelah tidur. “Setiap shalat Tahajud termasuk _Qiyamullail_, tetapi _Qiyamullail_
belum tentu merupakan shalat Tahajud,” jelas Ustadz Agus.

Menukil keterangan Imam Nawawi dalam _Syarah Shahih Muslim_, Ustadz Agus menyampaikan
bahwa shalat malam memiliki keutamaan yang lebih tinggi dibandingkan shalat sunnah
di siang hari. Hal ini dikarenakan shalat malam lebih dekat dengan keikhlasan, jauh
dari sifat riya, serta menjadi sarana penghapus dosa. Beliau juga menekankan bahwa
tidak ada batasan minimal durasi tidur sebelum melaksanakan Tahajud.

Terkait tuntunan Rasulullah, Ustadz Agus menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu
Alaihi Wasallam mencontohkan tidur di awal malam, kemudian bangun di pertengahan
malam untuk beribadah, dan tidur sebentar menjelang Subuh. Namun, beliau juga memberikan
solusi praktis bagi jamaah yang memiliki kondisi tertentu, misalnya tidur sebelum
masuk waktu Isya. “Jika seseorang tidur sebelum Isya, kemudian bangun dan melaksanakan
shalat Isya, maka ia tetap boleh melaksanakan shalat Tahajud karena patokannya adalah
telah tidur dan telah melaksanakan shalat Isya,” paparnya. Hal serupa berlaku bagi
yang menjamak taqdim shalat Maghrib dan Isya.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261028-
WA0071.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

Di akhir kajian, Ustadz Agus menyentuh perbandingan keutamaan antara shalat sunnah
Rawatib dan Tahajud. Mengutip pendapat Ibnu Hajar dan sebagian ulama, beliau menyampaikan
bahwa shalat Rawatib memiliki keutamaan yang lebih utama. “Shalat Rawatib berfungsi
melengkapi kekurangan yang ada pada shalat wajib, sehingga keutamaannya sangat besar
dalam konteks penyempurnaan ibadah fardhu,” tutupnya.

Acara yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan doa bersama, diharapkan dapat 
menambah wawasan jamaah dalam mengamalkan ibadah sunnah sesuai dengan tuntunan yang
shahih.

---

**Dalil Al-Qur’an**

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 79:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ 
مَقَامًا مَّحْمُودًا

**Artinya:** “Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah
tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS.
Al-Isra’: 79)

**Hadits**

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

أَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَأَحَبُّ 
الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ، وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَيَقُومُ
ثُلُثَهُ، وَيَنَامُ سُدُسَهُ

**Artinya:** “Shalat yang paling dicintai Allah adalah shalatnya Nabi Dawud AS, 
dan puasa yang paling dicintai Allah adalah puasanya Nabi Dawud AS. Beliau tidur
setengah malam, bangun sepertiga malam, dan tidur seperenam malam.” (HR. Bukhari
dan Muslim)

Hadits ini menjadi dalil bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mencontohkan
pembagian waktu tidur dan bangun di malam hari untuk beribadah, sebagaimana disampaikan
dalam kajian bahwa tidur di awal malam kemudian bangun di pertengahan malam merupakan
petunjuk yang utama. (*)

**Peliput : Dakum**
