# Pengorbanan Tanpa Batas: Sebuah Renungan di Tengah Hujan Cirebon

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/pengorbanan-tanpa-batas-sebuah-renungan-di-tengah-hujan-cirebon/
- Published: 2025-12-08T17:26:49+07:00
- Author: Kontributor Web

**CIREBON, 8 Desember 2025** – Kesibukan pasar Jagasatru pada siang hari itu seperti
biasa. Suara tawar-menawar, aroma rempah, dan lalu-lalang orang membentuk simfoni
keseharian kota. Tangan saya memegang tas belanjaan yang berisi sayuran, bawang 
merah, dan bawang putih. Bahan-bahan sederhana ini nantinya akan diolah ibu menjadi
lauk-pauk untuk keluarga dan menjadi bawang goreng renyah yang dijualnya kepada 
tetangga dan langganan tetap. Hari ini, seperti beberapa hari dalam seminggu, saya
menemani ibu berbelanja.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2025/12/muhciko-
pengorbanan-tanpa-batas-sebuah-renungan-di-tengah-hujan-cirebon.jpg?resize=580%2C1024&
ssl=1)

Momen menemani ibu ini selalu menjadi ruang renung. Di tengah kesibukan sebagai 
seorang pelatih bela diri di [organisasi](https://muhammadiyahciko.or.id/pentingnya-website-di-era-ai/)
Tapak Suci, waktu untuk mendampingi orang tua adalah prioritas yang tidak bisa ditawar.
Saat memilih tomat atau menimbang bawang, pikiran saya sering melayang pada betapa
besarnya pengorbanan dua orang yang telah membesarkan saya.

Seorang ibu, dengan keberanian yang tak terukur, telah mempertaruhkan nyawanya di
ambang pintu kehidupan untuk melahirkan anak-anaknya. Kasihnya tidak pernah berhenti
mengalir, dari buaian hingga kita dewasa. Seorang ayah, dengan keteguhan yang tak
kenal lelah, bekerja dari pagi buta hingga larut malam, mengorbankan kenyamanan 
pribadi demi sesuap nasi dan masa depan anak-anaknya. Bahkan, tidak jarang, seorang
ayah rela mempertaruhkan segalanya, termasuk nyawa, sebagai tameng bagi keluarganya.
Pengorbanan mereka adalah mahakarya cinta yang tak ternilai harganya.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2025/12/muhciko-
pengorbanan-tanpa-batas-sebuah-renungan-di-tengah-hujan-cirebon-6.jpg?resize=771%
2C1024&ssl=1)

Pukul 14.12, setelah dari pasar, ibu mengajak saya ke toko Sanitas di jalan Pemuda.
Tujuannya: membeli botol plastik berbagai ukuran untuk wadah bawang goreng produksinya.
Saya mengangkat kardus-kardus berisi botol, mengatur agar muat di motor dengan baik.
Ibu hanya tersenyum kecil. Bagi saya, sebagai anak laki-laki, membantu dan menemani
orang tua bukanlah kewajiban yang memiliki batas waktu. Ia adalah panggilan hati
yang berlangsung seumur hidup. Dalam ajaran agama yang saya anut, berbakti kepada
orang tua, khususnya bagi seorang anak laki-laki, adalah kewajiban yang terus berlangsung,
tak peduli apakah ia sudah berkeluarga atau belum.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2025/12/muhciko-
pengorbanan-tanpa-batas-sebuah-renungan-di-tengah-hujan-cirebon-5.jpg?resize=1024%
2C771&ssl=1)

Dalam perjalanan pulang, langit Cirebon yang cerah tiba-tiba berubah kelam. Baru
sampai di pertengahan Jalan Pemuda, hujan turun dengan derasnya, membasahi kami 
berdua dalam sekejap. Kami bergegas, menerobos rintik hujan yang terasa seperti 
pengingar akan betapa rentannya manusia. Pukul 15.16, kami akhirnya tiba di rumah
dengan badan basah kuyup, tetapi hati merasa lengkap karena telah menyelesaikan 
tugas bersama.

Pengalaman sederhana ini menguatkan pesan yang selalu digaungkan oleh Guru Besar
Tapak Suci, KH. Ahmad Kasuwi Thorif. Beliau kerap berpesan kepada kami, para kader,
bahwa membantu orang tua adalah ladang pahala dan pembuka pintu rezeki. “Jangan 
pernah membantah perintah orang tua,” nasihatnya selalu terngiang. “Ketika mereka
membutuhkan, segeralah membantu. Saat mereka menasihati, dengarkanlah dengan hormat
hingga mereka selesai.” Pesan ini selaras dengan ajaran [Islam](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/)
yang menempatkan birrul walidain (berbakti kepada orang tua) pada kedudukan sangat
mulia, bahkan terus dianjurkan setelah orang tua meninggal dunia. Ini

Terkadang saya bertanya dalam hati: apa susahnya meluangkan waktu untuk orang tua?
Di era yang serba cepat ini, kita sering kali mengukur segala sesuatu dengan materi.
Ustadz Adi Hidayat pernah mengingatkan, “Dua kunci surga yang masih ada adalah bapak
dan ibu.” Pintu surga itu terbuka lebar melalui ridha mereka. Pengorbanan orang 
tua tidak akan pernah bisa terlunasi dengan harta benda. Ia hanya bisa dibalas dengan
bakti, waktu, perhatian, dan doa tulus seorang anak.

Hari ini, di tengah gerimis Cirebon, saya diingatkan kembali. Jangan sampai penyesalan
itu datang terlambat, saat panggilan “Ibu” atau “Ayah” tak lagi terjawab, dan tangan
mereka tak lagi bisa kita pegang. Sebab, tanpa pengorbanan mereka, kita tak akan
pernah ada di dunia ini untuk merasakan dinginnya hujan dan hangatnya sebuah bakti.
Marilah kita perhatikan mereka, saat kesempatan itu masih ada.

#### Kontributor

**Zia Rahman**
([PCM Kesambi](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-ahad-pagi-pcm-kesambi-ustadz-agus-wahid-ulas-tafsir-al-asr-ingatkan-pentingnya-manajemen-waktu/))
Tim [Media](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-editorial/) Muhammadiyah [Kota Cirebon](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-editorial/)
