# Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kesambi Gelar Pengajian Ahad Pagi: Ustadz Dr. Muchlis, M.Ag Paparkan Tema “Islam Berkemajuan”

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/pimpinan-cabang-muhammadiyah-kesambi-gelar-pengajian-ahad-pagi-ustadz-dr-muchlis-m-ag-paparkan-tema-islam-berkemajuan/
- Published: 2026-07-12T09:11:44+07:00
- Author: Arofah Firdaus

**CIREBON, muhammadiyahciko** – Suasana khidmat menyelimuti Balai Pengajian Pimpinan
Cabang Muhammadiyah (PCM) Kesambi, [Kota Cirebon](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-editorial/),
pada Ahad pagi (12/7/2026). Jamaah dari berbagai ranting dan warga sekitar tampak
antusias mengikuti pengajian rutin Ahad pagi yang kali ini menghadirkan penceramah
utama, Ustadz Dr. Muchlis, M.Ag. Dengan tema besar _“Islam Berkemajuan”_, pengajian
ini menjadi momentum refleksi kolektif bagi warga persyarikatan dalam menyambut 
dinamika zaman tanpa kehilangan pijakan fundamental ajaran [Islam](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/).

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/07/img-20260712-
wa00112882449442606498012.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

Ketua [PCM Kesambi](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-ahad-pagi-pcm-kesambi-ustadz-agus-wahid-ulas-tafsir-al-asr-ingatkan-pentingnya-manajemen-waktu/),
H. Digyono., dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengajian Ahad pagi merupakan 
[program](https://muhammadiyahciko.or.id/pentingnya-website-di-era-ai/) unggulan
pembinaan mental-spiritual yang berkelanjutan. “Kami berharap kehadiran jamaah yang
padat ini menjadi energi baru bagi gerakan [dakwah](https://muhammadiyahciko.or.id/prof-dadang-kahmad-tekankan-jurnalistik-sebagai-dakwah-berkemajuan-di-akademi-jurnalistik-muhammadiyah-4-malang/)
di Kecamatan Kesambi. Tema yang diangkat hari ini sangat relevan, mengingat tantangan
umat ke depan semakin kompleks,” ujarnya.

**Tafsir Surat Al-An’am Ayat 125 sebagai Landasan**

Mengawali tausiyahnya, Ustadz Dr. Muchlis, M.Ag mengajak seluruh jamaah untuk merenungi
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat Al-An’am ayat 125:

**فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ
يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي
السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ**

_Artinya: “Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk memberinya petunjuk, niscaya Dia
melapangkan dadanya untuk (menerima agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki
Allah kesesatannya, niscaya Dia menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah
ia sedang mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang
yang tidak beriman.”_ (QS. Al-An’am: 125)

Menurut Ustadz Muchlis, ayat ini menegaskan bahwa kelapangan dada dalam menerima
Islam adalah anugerah sekaligus tanda hidayah dari Allah. “Hidayah tidak datang 
dengan sendirinya. Ada tiga tingkatan hidayah yang harus kita pahami secara berurutan,”
jelasnya di hadapan jamaah yang menyimak dengan seksama.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/07/muhciko-
pimpinan-cabang-muhammadiyah-kesambi-gelar-pengajian-ahad-pagi-ustadz-dr.-muchlis-
m.ag-paparkan-tema-islam-berkemajuan-1.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

Beliau memaparkan tiga jenis hidayah yang menjadi kunci pemahaman Islam yang [berkemajuan](https://muhammadiyahciko.or.id/prof-dadang-kahmad-tekankan-jurnalistik-sebagai-dakwah-berkemajuan-di-akademi-jurnalistik-muhammadiyah-4-malang/):

 1. **Hidayah Fitriyah** – yaitu hidayah bawaan sejak lahir, berupa potensi dasar manusia
    untuk mengenali Tuhan. Potensi ini bersifat universal dan melekat pada setiap insan.
 2. **Hidayah ‘Aqliyah** – yaitu hidayah yang diperoleh melalui akal sehat. Akal adalah
    anugerah agung yang memampukan manusia membedakan yang benar dan yang salah, serta
    mendorongnya untuk mencari kebenaran.
 3. **Hidayah Taufiq** – yaitu hidayah khusus dari Allah berupa pertolongan dan bimbingan-
    Nya kepada hamba yang dikehendaki. Inilah hidayah yang paling tinggi, yang menjadikan
    seseorang tidak sekadar tahu, tetapi juga mengamalkan dan istiqamah di jalan-Nya.

“Ketika ketiga hidayah ini bersatu dalam diri seorang muslim, maka ia akan merasakan
kelapangan dada sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-An’am. Ia tidak merasa berat
menjalankan syariat, justru merasakan ketenangan dan kebahagiaan,” tambahnya.

**Konsep Hijrah: Lebih dari Sekadar Perpindahan Fisik**

Pada bagian kedua tausiyahnya, Ustadz Dr. Muchlis mengupas konsep hijrah secara 
komprehensif. “Seringkali kita memaknai hijrah hanya sebagai perpindahan fisik dari
Mekah ke Madinah. Padahal, hijrah memiliki dimensi yang lebih luas dan mendalam,”
ungkapnya. Beliau lalu merinci lima jenis hijrah yang menjadi indikator kemajuan
Islam dalam diri seorang mukmin:

 1. **Hijrah Makaniyah** – hijrah secara fisik, sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad
    shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dari Mekah ke Madinah. Hijrah ini
    merupakan bukti kesiapan berkorban demi mempertahankan iman.
 2. **Hijrah Maknawiyah** – hijrah rohani, yaitu perpindahan kondisi jiwa dari kelalaian
    menuju kedekatan dengan Allah, dari hati yang keras menjadi lembut dan tunduk.
 3. **Hijrah Fikriyah** – hijrah pemikiran, yaitu perpindahan pola pikir dari kebodohan,
    takhayul, dan bid’ah menuju pemikiran yang rasional, bersih, dan berdasarkan dalil.
 4. **Hijrah Syukriyah** – hijrah dari kekufuran (ingkar nikmat) menjadi rasa syukur
    yang tulus. Ini adalah perubahan orientasi hidup dari selalu mengeluh menjadi senantiasa
    melihat anugerah Allah.
 5. **Hijrah Syirkiyah** – hijrah dari kesyirikan menuju kemurnian tauhid. Inilah hijrah
    paling fundamental, karena tauhid adalah inti dari seluruh ajaran Islam.

“Hijrah-hijrah ini harus berjalan simultan. Jangan hanya hijrah makaniyah, tetapi
fikriyah dan syirkiyahnya tidak berubah. Islam berkemajuan adalah Islam yang menggerakkan
seluruh potensi hijrah ini dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Ustadz Muchlis dengan
nada penuh semangat.

**Karakter Berkemajuan Berlandaskan Tauhid**

Mengakhiri tausiyahnya, Ustadz Dr. Muchlis menegaskan bahwa kata “Islam” disebutkan
kurang lebih delapan kali dalam Al-Qur’an dengan berbagai konteks, namun esensinya
selalu merujuk pada sikap pasrah dan tunduk total kepada Allah. “Karakter utama 
dari Islam yang berkemajuan adalah berlandaskan tauhid. Tanpa tauhid yang murni,
gerakan apapun akan kehilangan ruhnya,” ujarnya.

Beliau mengutip sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penguat:

**أَفْضَلُ الْعَمَلِ إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ**

_Artinya: “Amal yang paling utama adalah iman kepada Allah dan Rasul-Nya.”_ (HR.
Bukhari dan Muslim)

“Kemajuan dalam perspektif Islam bukanlah sekadar kemajuan teknologi atau ekonomi
semata, tetapi kemajuan yang berporos pada ketakwaan, kejujuran, dan keadilan. Inilah
yang disebut _Islam berkemajuan_ — sebuah Islam yang selalu dinamis, membawa rahmat
bagi semesta, namun tidak pernah mengkompromikan akidah tauhid,” pungkasnya.

Pengajian yang berlangsung dari pukul 07.00 hingga 08.00 WIB itu ditutup dengan 
doa dan sesi tanya jawab yang interaktif. Para jamaah terlihat antusias mengajukan
pertanyaan seputar implementasi hijrah fikriyah dalam kehidupan modern. Acara kemudian
diakhiri dengan santapan yang disediakan oleh pelaksana kegiatan, menambah kehangatan
ukhuwah di antara warga persyarikatan.

**Liputan: Muryanto dan Tim Media Dakwah PCM Kesambi**
**Editor: Arofah Firdaus **
