# Sekularisme, Materialisme, dan Ateisme; (Dampak Ideologi Tersebut pada Arah Riset Sains; Tantangan Post-Truth; serta Strategi Penguatan Akidah di Tengah Arus Modernitas Keilmuan)

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/sekularisme-materialisme-dan-ateisme-dampak-ideologi-tersebut-pada-arah-riset-sains-tantangan-post-truth-serta-strategi-penguatan-akidah-di-tengah-arus-modernitas-keilmuan/
- Published: 2026-07-08T16:32:03+07:00
- Author: Arofah Firdaus

## Abstrak

ARTIKEL ini membahas secara komprehensif tantangan ideologis dan epistemologis yang
dihadapi umat [Islam](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/)
dalam pengembangan keilmuan kontemporer, dengan fokus pada tiga paham besar yaitu
sekularisme, materialisme, dan ateisme. Melalui pendekatan filsafat ilmu dan teologi
Islam, kajian ini menganalisis dampak ideologi-ideologi tersebut terhadap arah [riset](https://muhammadiyahciko.or.id/prospek-web-muhammadiyah-kota-cirebon/)
sains, khususnya kecenderungan sains sekuler yang membatasi realitas pada aspek 
fisik semata dan mengabaikan dimensi metafisik. Artikel ini juga mengkaji fenomena
_post-truth_ sebagai tantangan baru bagi keilmuan akidah di era digital, di mana
emosi dan keyakinan personal sering kali mengesampingkan fakta objektif. Sebagai
respons, dirumuskan strategi penguatan akidah yang terintegrasi dengan kemajuan 
sains, sebagaimana ditawarkan oleh paradigma Islam [Berkemajuan](https://muhammadiyahciko.or.id/prof-dadang-kahmad-tekankan-jurnalistik-sebagai-dakwah-berkemajuan-di-akademi-jurnalistik-muhammadiyah-4-malang/)
dan epistemologi _iqra’ bismirabbik_. Dengan merujuk pada sumber-sumber primer Islam—
Al-Qur’an dan Hadis—serta khazanah pemikiran Muhammadiyah, artikel ini menegaskan
bahwa tauhid bukan sekadar doktrin teologis, melainkan fondasi etis bagi pengembangan
ilmu pengetahuan dan peradaban yang berkemajuan.

**Kata Kunci:** Sekularisme, Materialisme, Ateisme, Sains, Post-Truth, Akidah, Islam
Berkemajuan

---

## A. Pendahuluan

Perjalanan peradaban manusia modern tidak terlepas dari pergumulan antara keyakinan
religius dan temuan-temuan ilmiah. Sejak era Pencerahan (_Enlightenment_) di Eropa
abad ke-18, terjadi pergeseran paradigma yang mendasar dalam cara manusia memahami
realitas. Positivisme Auguste Comte, dengan teori “tiga jenjang” (teologi, metafisika,
dan positif), menempatkan pengetahuan ilmiah sebagai puncak pencapaian intelektual
manusia, sekaligus mengesampingkan penjelasan-penjelasan metafisik dan religius.
Pergeseran ini melahirkan tiga ideologi besar yang saling terkait: sekularisme, 
materialisme, dan ateisme.

Bagi umat Islam, tantangan ini terasa semakin kompleks di era kontemporer. Arus 
modernitas keilmuan yang didominasi oleh paradigma sekuler-materialistik telah merasuki
hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia [pendidikan](https://muhammadiyahciko.or.id/menata-ulang-kompas-pendidikan-nasional-telaah-kritis-atas-rencana-penghapusan-kenaikan-kelas-otomatis-pada-2027/)
dan riset. Sains dipandang sebagai aktivitas yang “bebas nilai” (_value-free_), 
terpisah dari pertimbangan etis dan [spiritual](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/).
Akibatnya, terjadi dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, antara iman dan pengetahuan.

Lebih jauh lagi, munculnya era _post-truth_—di mana fakta objektif kehilangan pengaruhnya
dalam membentuk opini publik dan digantikan oleh emosi serta keyakinan personal—
menambah derajat keruwetan problematika ini. Kebenaran menjadi komoditas yang dapat
dikonstruksi sesuai kepentingan kelompok tertentu, termasuk dalam hal-hal yang berkaitan
dengan akidah.

Artikel ini bertujuan untuk menguraikan secara sistematis pengertian sekularisme,
materialisme, dan ateisme; menganalisis dampaknya terhadap arah riset sains; menjelaskan
tantangan post-truth bagi keilmuan akidah; serta merumuskan strategi penguatan akidah
di tengah modernitas keilmuan berdasarkan perspektif Islam dan gagasan Islam Berkemajuan
yang diusung oleh Muhammadiyah.

---

## B. Pengertian Sekularisme, Materialisme, dan Ateisme

### 1. Sekularisme: Pemisahan Agama dari Kehidupan Publik

Secara etimologis, sekularisme berasal dari kata Latin _saeculum_ yang berarti “
zaman” atau “dunia”. Dalam pengertian modern, sekularisme adalah paham yang memisahkan
urusan duniawi dari urusan agama, atau menempatkan agama hanya pada ranah privat
tanpa pengaruh dalam kehidupan publik dan [kebijakan](https://muhammadiyahciko.or.id/menata-ulang-kompas-pendidikan-nasional-telaah-kritis-atas-rencana-penghapusan-kenaikan-kelas-otomatis-pada-2027/)
negara. Dr. Usman Syihab menjelaskan bahwa sekularisme dalam konteks sains berarti
pembatasan penjelasan ilmiah hanya pada sebab-sebab efisien dan material, tanpa 
menyerahkan penjelasan kepada sebab-sebab epistemologis lainnya seperti sebab formal
dan final yang berkaitan dengan agama . Paul Bond, seorang pengamat peradaban, mengakui
bahwa revolusi sekularisme telah melahirkan kebebasan dan kepuasan, namun ia juga
memperingatkan bahwa “Sekularisasi yang lengkap dalam ilmu pengetahuan, pendidikan,
industri dan masyarakat di Barat dan Timur akan membawa kepada puncak kehancuran”.

Dalam perspektif Islam, sekularisme ekstrem ditolak karena agama (Islam) adalah 
sistem yang menyeluruh (_syumuliyyah_), mengatur hubungan0 manusia dengan Allah (
_habl min Allah_) dan hubungan antar manusia serta dengan alam (_habl min al-nas
wa al-‘alam_). Firman Allah:

۞ قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

_“Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk 
Allah, Tuhan seluruh alam”_ (QS. Al-An’am [6]: 162).

Ayat ini menegaskan bahwa seluruh aspek kehidupan, termasuk aktivitas ilmiah, tidak
dapat dipisahkan dari pengabdian kepada Allah.

### 2. Materialisme: Pengutamaan Materi di Atas Segalanya

Materialisme adalah paham yang meyakini bahwa realitas fundamental hanyalah materi(
benda) dan segala fenomena—termasuk kesadaran, pikiran, dan nilai—dapat dijelaskan
melalui interaksi material. Dalam epistemologi sains sekuler, materialisme melahirkan
reduksionisme, yaitu kecenderungan untuk menjelaskan realitas kompleks hanya melalui
komponen-komponen fisiknya . Materialisme menolak eksistensi realitas non-fisik 
seperti ruh, jiwa, atau entitas metafisik lainnya.

Francis Saunderaraj mengamati bahwa materialisme telah menimbulkan budaya fragmentatif
dan individualisme yang mengakibatkan erosi tradisi, [komunitas](https://muhammadiyahciko.or.id/inovasi-dakwah-komunitas-muhammadiyah/),
dan kehidupan keluarga. Manusia hanya bertumpu pada rasionalitas yang dianggap sebagai
sentral kehidupan, sementara kebenaran dan kondisi kehidupan manusia menjadi relatif,
pluralistis, dan tidak konstan .

Islam memandang alam semesta tidak sekadar kumpulan materi, melainkan ciptaan Allah
yang sarat makna dan tujuan. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ

_“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya
dengan bermain-main”_ (QS. Al-Anbiya’ [21]: 16).

Prinsip ini menegaskan bahwa alam semesta memiliki tujuan penciptaan yang bersifat
spiritual, sehingga ilmuwan yang mempelajarinya tidak boleh terjerumus pada pandangan
materialistik yang sempit .

### 3. Ateisme: Penolakan terhadap Eksistensi Tuhan

Ateisme adalah paham yang menolak atau tidak meyakini eksistensi Tuhan atau entitas
ilahi apa pun. Menurut penelitian dalam [sejarah](https://muhammadiyahciko.or.id/prospek-web-muhammadiyah-kota-cirebon/)
agama, pada hakikatnya manusia adalah _homo religious_—makhluk yang bertuhan—sehingga
ateisme bukanlah bakat alamiah manusia . Namun, gerakan Renaissance dan humanisme
di Eropa membuka pintu bagi pemikiran yang mengutamakan kebebasan manusia dan mengesampingkan
lembaga [keagamaan](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-editorial/), yang akhirnya
melahirkan paham-paham ateistik .

Perkembangan sains sekuler juga turut mendorong ateisme. Mulyadhi Kartanegara mencatat
bahwa lebih dari 60% fisikawan dunia adalah ateis, dan tokoh evolusionis Charles
Darwin mengakui bahwa ketidakpercayaannya pada agama Kristen “merayap perlahan-lahan
di atas dadaku, tapi sempurna” .

Islam dengan tegas menolak ateisme. Konsep ketuhanan dalam Islam sangat jelas dan
kokoh. Dalam Surah Al-Ikhlas ditegaskan:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۝ اللَّهُ الصَّمَدُ ۝ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ۝ وَلَمْ
يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

_“Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah tempat bergantung segala
sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang
setara dengan Dia”_ (QS. Al-Ikhlas [112]: 1-4).

---

## C. Dampak Ideologi Sekularisme, Materialisme, dan Ateisme Terhadap Arah Riset Sains

### 1. Reduksionisme dan Fragmentasi Ilmu

Ideologi sekularisme dan materialisme telah melahirkan epistemologi positivisme 
yang membatasi sumber pengetahuan pada indra dan akal semata, serta menganggap pengetahuan
yang bersumber dari wahyu tidak ilmiah . Akibatnya, sains berkembang tanpa _wisdom_(
kearifan). Ilmu dipecah-pecah ke dalam spesialisasi yang sempit, tanpa pandangan
holistik tentang realitas. Mehdi Golshani, dalam tulisannya tentang _Science and
the Sacred_, menyebutkan bahwa sains sekuler senang dengan spesialisasi yang berbuntut
pada fragmentasi sains, sementara sains sakral mencari kesatuan yang mendasari tatanan
penciptaan .

### 2. Penghilangan Dimensi Spiritual dan Etis

Sains sekuler menganggap alam fisik sebagai satu-satunya realitas yang ada dan tidak
menyisakan tempat bagi Tuhan dalam tatanan alamiah . Hal ini menyebabkan pengabaian
dimensi spiritual dan etis dalam riset ilmiah. Ilmu pengetahuan dijalankan tanpa
pertimbangan nilai-nilai moral, yang pada gilirannya melahirkan krisis ekologi, 
krisis kemanusiaan, dan disorientasi etis. Sebagaimana diungkapkan Paul Bond, “Ilmu
berkembang tanpa _wisdom_” .

### 3. Pengaburan Tujuan Ilmu Pengetahuan

Dalam epistemologi sekuler, kebenaran ilmiah diukur berdasarkan manfaat (_utility_),
kemungkinan dapat dilakukan (_workability_), dan konsekuensi yang memuaskan (_satisfactory
result_) . Tujuan ilmu bergeser dari pencarian kebenaran dan pengabdian kepada Tuhan,
menjadi sekadar kepentingan pragmatis dan materialistis. Ilmuwan tidak lagi mempertanyakan“
mengapa” (sebab final) dari realitas, melainkan hanya “bagaimana” (sebab efisien
dan material).

### 4. Dikotomi Ilmu Agama dan Sains

Salah satu dampak paling nyata dari sekularisasi sains adalah terjadinya dikotomi
antara ilmu agama dan ilmu umum. Ilmu agama dianggap sebagai urusan spiritual yang
subjektif, sementara sains dianggap sebagai pengetahuan objektif yang bebas nilai.
Dikotomi ini telah mengakibatkan keterbelakangan umat Islam dalam pengembangan sains
dan teknologi, karena ilmu pengetahuan tidak lagi dipandang sebagai bagian dari 
ibadah dan pengabdian kepada Allah.

---

## D. Tantangan Post-Truth bagi Keilmuan Akidah

### 1. Pengertian Post-Truth

_Post-truth_—yang terpilih sebagai _Word of the Year_ oleh Oxford English Dictionary
pada tahun 2016—merujuk pada kondisi di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam
membentuk opini publik dibandingkan dengan daya tarik emosi dan keyakinan personal.
McIntyre mendefinisikannya sebagai kondisi di mana kebenaran terancam, dan masyarakat
terancam kehilangan arti dan substansi dari kebenaran itu sendiri .

### 2. Dampak Post-Truth bagi Keilmuan Akidah

Fenomena _post-truth_ memberikan tantangan serius bagi keilmuan akidah karena beberapa
alasan. **Pertama**, akidah sangat berkaitan dengan emosi dan keyakinan personal,
sehingga rentan terhadap manipulasi [informasi](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-editorial/).
Ketika emosi bersinggungan dengan keyakinan pribadi, nalar kritis seseorang cenderung
dikesampingkan. **Kedua**, maraknya informasi “tidak bertuan” di [media sosial](https://muhammadiyahciko.or.id/membangun-etika-komunikasi-pemimpin-islam-meneladani-sifat-rasulullah-dan-piagam-madinah-dalam-menghadapi-fitnah-digital/)
membuat masyarakat kesulitan membedakan kebenaran ilmiah atau faktual dari hoaks
dan kabar bohong. **Ketiga**, terbentuknya “kebenaran alternatif” (_alternative 
facts_) yang dikonstruksi oleh kelompok-kelompok tertentu untuk kepentingan politik
dan ideologis mengancam kemurnian akidah.

### 3. Akidah di Tengah Banjir Informasi

Di era _post-truth_, pertanyaan tentang bagaimana menegakkan kebenaran akidah menjadi
kian mendesak. Badrul Munir Chair dan Zainul Adzfar mengemukakan bahwa _post-truth_
justru dapat dijadikan momentum untuk melakukan pengujian terbuka terhadap klaim
kebenaran yang dilakukan oleh masing-masing kelompok keagamaan. Dengan demikian,
keilmuan akidah dapat menjadi “teks yang terbuka” dan ditempatkan dalam konteks 
kehidupan masyarakat hari ini, sehingga dapat menyatu dengan realitas tanpa kehilangan
esensinya.

---

## E. Strategi

### Penguatan Akidah di Tengah Arus Modernitas Keilmuan

#### 1. Memperluas Paham Tauhid: Dari Ritual ke Transformasi Sosial

Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam yang lahir dari semangat tajdid dan ishlah, 
menawarkan posisi strategis dalam gagasan pembaruan akidah. Akidah Muhammadiyah 
tidak hanya purifikasi tauhid (penolakan terhadap takhayul, bidah, dan khurafat),
tetapi juga rasionalisasi akidah dan pengembangan amal sosial. Mohammad Nur Rianto
Al Arif menegaskan bahwa memperluas paham tauhid murni berarti menggeser orientasi
dari sekadar pembahasan “apa yang harus diimani” menuju “apa yang harus diperjuangkan”.

Tauhid dalam perspektif ini bukan sekadar doktrin teologis yang diyakini, melainkan
energi peradaban yang menggerakkan. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ
الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا
عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ
مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ 
هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

_“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka
dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka
membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam
Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah?
Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan
yang besar”_ (QS. At-Taubah [9]: 111).

Ayat ini menunjukkan bahwa tauhid melahirkan komitmen total untuk berjuang di jalan
Allah, termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban.

#### 2. Aktualisasi Epistemologi Iqra’ Bismirabbik

Salah satu strategi fundamental adalah mengaktualisasikan epistemologi _iqra’ bismirabbik_(
bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu). Sebagaimana disampaikan Muzakkir Usman,
pendidikan tinggi keagamaan Islam dituntut untuk menjadi episentrum pengembangan
sains, teknologi, dan adab berbasis tauhid. Hal ini dapat diwujudkan melalui tiga
langkah: (a) desain kurikulum holistik berbasis tauhid yang menempatkan tauhid sebagai
poros yang memayungi seluruh bidang pengetahuan; (b) penerapan metode pengajaran
heutagogy yang menumbuhkan kemandirian belajar; dan (c) penghidupan tradisi ilmiah
dalam literasi dan penelitian.

#### 3. Integrasi Ilmu dan Isu Kontemporer

Penguatan akidah di tengah modernitas keilmuan juga memerlukan integrasi antara 
khazanah turats (warisan klasik) dan isu-isu kontemporer. Prodi Aqidah dan Filsafat
Islam, misalnya, diarahkan untuk mendiskusikan konsep wujud, kausalitas, dan jiwa
dalam pemikiran Ibnu Sina atau Mulla Sadra, lalu ditarik ke isu-isu seperti kecerdasan
buatan ([AI](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-menulis-komentar-organik-dan-bermakna/)),
kesadaran digital, dan bioetika . Dengan demikian, akidah tidak dipahami sebagai
disiplin masa lalu, melainkan mitra dialog peradaban.

#### 4. Penguatan Tiga Level Nalar: Bayani, Burhani, dan Irfani

Di era _post-truth_, metodologi berpikir menjadi sangat penting. Orientasi keilmuan
akidah harus membentuk lulusan yang terampil dalam tiga level nalar: **nalar bayani**
untuk memahami teks (Al-Qur’an dan Hadis); **nalar burhani** untuk membangun argumen
logis yang rasional; dan **nalar irfani** untuk mengasah kepekaan batin. Ketiganya
diajarkan secara terintegrasi dan saling menguatkan, sehingga mahasiswa mampu melakukan
_critical reading_ terhadap literatur Barat dan Timur, membedakan argumen dan propaganda,
serta menyusun _counter-narasi_ terhadap paham yang merusak akidah.

#### 5. Menjadikan Akidah sebagai Fondasi Etos Kerja dan Amal Sosial

Salah satu karakteristik akidah Muhammadiyah yang membedakannya dari gerakan lain
adalah pemahaman akidah sebagai dasar etos kerja dan amal sosial . Tauhid tidak 
membuat umat terasing dari realitas modern, melainkan justru menjadi landasan etis
untuk mengelola modernitas. Dalam pandangan ini, tauhid mendorong lahirnya pendidikan
yang mencerdaskan, ekonomi yang berkeadilan, [kesehatan](https://muhammadiyahciko.or.id/rs-muhammadiyah-ini-hadirkan-wisata-kesehatan-berkemajuan/)
yang [inklusif](https://muhammadiyahciko.or.id/kepemimpinan-perempuan-menguatkan-demokrasi-inklusif/),
serta tata kelola pemerintahan yang amanah.

Sebagaimana firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي
نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ
بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ
ضَلَالًا بَعِيدًا

_“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan
kepada kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya.
Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-
rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh ia telah tersesat dengan kesesatan yang
jauh”_ (QS. An-Nisa’ [4]: 136).

Ayat ini mengajarkan bahwa keimanan yang sejati adalah keimanan yang terus-menerus
diperbaharui dan diperdalam, tidak hanya dalam ranah teoretis tetapi juga dalam 
praktik kehidupan sehari-hari.

---

## F. Kesimpulan

Sekularisme, materialisme, dan ateisme merupakan tiga ideologi besar yang saling
terkait dan telah memberikan dampak signifikan terhadap arah riset sains modern.
Melalui epistemologi positivisme, sains sekuler membatasi realitas pada aspek fisik
semata, mengabaikan dimensi metafisik dan spiritual, serta menghasilkan fragmentasi
ilmu dan pengaburan tujuan pengetahuan.

Di sisi lain, era _post-truth_ menghadirkan tantangan baru bagi keilmuan akidah,
di mana kebenaran objektif sering kali dikalahkan oleh emosi dan keyakinan personal.
Namun, kondisi ini juga dapat menjadi momentum untuk melakukan pengujian terbuka
terhadap klaim kebenaran, sehingga keilmuan akidah menjadi lebih kontekstual dan
relevan dengan kehidupan masyarakat kontemporer.

Sebagai respons, strategi penguatan akidah di tengah arus modernitas keilmuan harus
diarahkan pada: (a) perluasan paham tauhid dari sekadar doktrin teologis menjadi
energi transformasi sosial; (b) aktualisasi epistemologi _iqra’ bismirabbik_ dalam
pendidikan dan riset; (c) integrasi khazanah klasik dengan isu-isu kontemporer; (
d) penguatan nalar bayani, burhani, dan irfani; serta (e) pemahaman akidah sebagai
fondasi etos kerja dan amal sosial. Dengan strategi ini, tauhid bukan hanya menjadi
keyakinan yang dihafal, tetapi menjadi kekuatan yang menggerakkan peradaban, sebagaimana
diusung oleh gagasan Islam Berkemajuan.

## Wallahu ‘alam bish shawab.

---

### Daftar Pustaka

Syihab, Usman. _Sekitar Epistemologi Islam_. Jakarta: UIN Jakarta Press, 2016.

Chair, Badrul Munir, dan Zainul Adzfar. “Kebenaran di Era Post-Truth dan Dampaknya
bagi Keilmuan Akidah.” _Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan_ 9, no. 2(
2021): 265-282.

Taufiqurrohman, Cecep. “Muhammadiyah dalam Peta Pembaruan Akidah: Memadukan Tauhid
Murni dan Ijtihad Modern.” Seminar Sehari Risalah Akidah Islam, Majelis [Tarjih](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-penulisan-menurut-jenis-tulisan/)
dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 27 
September 2025.

Akil, Muhammad Anshar. “Alam Semesta Menurut Al-Qur’an.” UIN Alauddin Makassar, 
2023.

“Kebenaran di Era Post-Truth dan Dampaknya bagi Keilmuan Akidah.” _Directory of 
Open Access Journals_, 2021.

Hermanto, Agus. “Orientasi Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Dalam Menjawab Tantangan
Dunia Modern.” _Majelis Ulama Indonesia Lampung_, 2026.

Zain, Mohammad Damami. “Islam Menolak Ateisme.” _Suara Muhammadiyah_, 15 Oktober
2025.

Chair, Badrul Munir, dan Zainul Adzfar. “Kebenaran di Era Post-Truth dan Dampaknya
bagi Keilmuan Akidah.” _Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan_ 9, no. 2(
2021): 265-282.

Al Arif, Mohammad Nur Rianto. “Mewujudkan Akidah Islam Berkemajuan.” _Suara Muhammadiyah_,
25 Februari 2026.

Usman, Muzakkir. “Perguruan Tinggi Keagamaan Islam sebagai Episentrum Keilmuan Berbasis
Tauhid.” Studium General STIT Hidayatullah Samarinda, 15 September 2025.
