# Pengajian PCM Kesambi Bedah 5 Ciri Umat Rasulullah dalam Al-Fath Ayat 29

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/tafsir-surah-al-fath-ayat-29/
- Published: 2026-09-06T09:12:52+07:00
- Author: Redaksi-AF

SUASANA khidmat menyelimuti Balai Pengajian Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kesambi,
Jalan Simaja, [Kota Cirebon](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-editorial/),
pada Ahad pagi, 6 September 2026. Jamaah dari berbagai ranting dan warga Muhammadiyah
se-Kota Cirebon memenuhi ruang pengajian untuk mengikuti kajian rutin Ahad pagi 
yang digelar [PCM Kesambi](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-ahad-pagi-pcm-kesambi-ustadz-agus-wahid-ulas-tafsir-al-asr-ingatkan-pentingnya-manajemen-waktu/).

Pengajian yang berlangsung khidmat ini menghadirkan penceramah **Ustadz Agus Wahid,
S.Ag.,** yang menyampaikan tausiyah dengan tema utama [tafsir](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-ahad-pagi-pcm-kesambi-ustadz-agus-wahid-ulas-tafsir-al-asr-ingatkan-pentingnya-manajemen-waktu/)
Surat Al-Fath ayat 29 tentang ciri-ciri umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tampak hadir dalam acara tersebut Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota 
Cirebon, **Drs. Puji Nirmo,** beserta jajaran pimpinan PCM Kesambi dan undangan 
lainnya.

Dalam sambutannya, Drs. Puji Nirmo menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya 
pengajian rutin ini sebagai sarana peningkatan keimanan dan penguatan ukhuwah Islamiyah
di kalangan warga Muhammadiyah. Beliau menekankan pentingnya kegiatan seperti ini
untuk terus digalakkan sebagai bentuk komitmen persyarikatan dalam menebarkan [dakwah](https://muhammadiyahciko.or.id/prof-dadang-kahmad-tekankan-jurnalistik-sebagai-dakwah-berkemajuan-di-akademi-jurnalistik-muhammadiyah-4-malang/)
amar ma’ruf nahi munkar.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/09/muhciko-
pcm-kesambi-gelar-pengajian-ahad-pagi-tafsir-surat-al-fath-ayat-29-tentang-ciri-
umat-rasulullah-1.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

## Tafsir Surat Al-Fath Ayat 29: Lima Ciri Umat Rasulullah

Mengawali tausiyahnya, Ustadz Agus Wahid, S.Ag., membacakan firman Allah Subhanahu
wa Ta’ala dalam Surat Al-Fath ayat 29:

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ ۗوَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ 
رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ تَرٰىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ
وَرِضْوَانًا ۖ سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِ ۗذٰلِكَ مَثَلُهُمْ
فِى التَّوْرٰىةِ ۖوَمَثَلُهُمْ فِى الْاِنْجِيْلِۚ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْـَٔهٗ فَاٰزَرَهٗ
فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوٰى عَلٰى سُوْقِهٖ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ
 ۗوَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً
وَّاَجْرًا عَظِيْمًا ࣖ ٢٩

**Artinya:** _“Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya
bersikap keras terhadap orang-orang kafir (yang bersikap memusuhi), tetapi berkasih
sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah 
dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud (bercahaya). 
Itu adalah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti
benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu makin kuat, lalu menjadi besar
dan tumbuh di atas batangnya. Tanaman itu menyenangkan hati orang yang menanamnya.(
Keadaan mereka diumpamakan seperti itu) karena Allah hendak membuat marah orang-
orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan
di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”_

Ustadz Agus Wahid menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan lima ciri utama umat 
[Islam](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/)
yang menjadi pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ciri-ciri ini menjadi
tolok ukur bagi seorang Muslim sejati dalam menjalani kehidupannya di dunia.

### 1. Asyidda’u ‘alal Kuffar (Tegas kepada Orang Kafir)

Ciri pertama yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah _asyidda’u ‘alal kuffar_,
yang berarti bersikap tegas dan keras terhadap orang-orang kafir yang memusuhi. 
Ustadz Agus Wahid menegaskan bahwa ketegasan ini terutama berkaitan dengan masalah
akidah dan keyakinan. Seorang Muslim tidak boleh berkompromi dalam hal keimanannya
dan harus tegas dalam menolak segala bentuk pengaruh yang bertentangan dengan ajaran
Islam.

“Ketegasan ini bukan berarti kita berlaku zalim atau kejam kepada non-Muslim yang
tidak memerangi kita. Islam mengajarkan keadilan dan kebijaksanaan dalam bergaul
dengan siapa pun. Namun, dalam perkara akidah dan ibadah, kita harus teguh pendirian
dan tidak mudah terpengaruh oleh budaya atau perilaku yang bertentangan dengan syariat,”
jelas Ustadz Agus Wahid.

### 2. Ru’ama’u Bainahum (Saling Menyayangi Sesama Muslim)

Ciri kedua adalah _ru’ama’u bainahum_, yakni berkasih sayang dan saling menyayangi
di antara sesama orang beriman. Ustadz Agus Wahid mengutip sabda Rasulullah shallallahu‘
alaihi wa sallam:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ
الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ
وَالْحُمَّى

**Artinya:** _“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi,
dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada satu anggota tubuh yang sakit, maka
seluruh tubuh akan merasakan sakitnya dengan demam dan tidak bisa tidur.”_ (HR. 
Muslim)

Dalam konteks ini, Ustadz Agus Wahid memberikan contoh nyata yang dapat diaplikasikan
dalam kehidupan sehari-hari, yakni ketika terjadi musibah di daerah lain, umat Islam
hendaknya turut membantu meringankan beban saudara-saudara mereka yang tertimpa 
musibah, baik melalui doa, dukungan moral, maupun bantuan materi. Kepedulian [sosial](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/)
ini merupakan cerminan dari kasih sayang antar sesama Muslim yang diajarkan dalam
Islam.

### 3. Rukka’an Sujjadan (Rukuk dan Sujud)

Ciri ketiga adalah _tarahum rukka’an sujjadan_, yang menggambarkan kaum Muslimin
senantiasa terlihat dalam keadaan rukuk dan sujud. Ustadz Agus Wahid menjelaskan
bahwa rukuk merupakan bentuk penghormatan kepada Allah, sementara sujud adalah bentuk
ketawaduan dan kepasrahan total seorang hamba kepada Penciptanya.

“Seorang Muslim sejati tidak hanya pandai dalam ilmu dan debat, tetapi juga mantap
dalam ibadahnya. Rukuk dan sujud yang dilakukan dengan khusyuk menjadi bukti keimanan
dan ketundukan kita kepada Allah. Ibadah ini bukan sekadar gerakan fisik, tetapi
juga mengandung makna penghambaan yang mendalam,” paparnya.

### 4. Yabtaghuna Fadlan Minallah (Mencari Anugerah Allah)

Ciri keempat adalah _yabtaghuna fadlan minallah_, yakni senantiasa mencari karunia
dan anugerah dari Allah. Setelah menunaikan rukuk dan sujud, seorang Muslim tidak
berhenti begitu saja, melainkan terus berupaya mencari keutamaan dari Allah berupa
pahala dan surga-Nya.

“Orang yang beriman, apapun yang diperbuatnya, tujuannya hanya untuk mencari ridha
Allah dan karunia-Nya, baik dalam beribadah maupun dalam bekerja mencari rezeki,”
ujar Ustadz Agus Wahid. “Hidup ini harus memiliki orientasi yang jelas, yaitu mengabdi
kepada Allah dan meraih kebahagiaan hakiki di akhirat.”

### 5. Simahum fi Wujuhihim min Atsaris Sujud (Bekas Sujud di Wajah)

Ciri kelima adalah adanya tanda-tanda bekas sujud pada wajah mereka. Ustadz Agus
Wahid menjelaskan bahwa tanda ini bukan sekadar bekas fisik di dahi, melainkan cahaya
keimanan yang memancar dari wajah seorang mukmin sebagai akibat dari rutinitas ibadahnya.
Di akhirat kelak, cahaya ini akan menjadi penerang bagi pemiliknya.

“Di dunia, bekas sujud ini diwujudkan dengan sikap tawadhu dan rendah hati. Orang
yang rajin bersujud kepada Allah akan terpancar aura ketenangan dan kerendahan hati
dalam kesehariannya. Ia tidak sombong, tidak angkuh, dan selalu berusaha menebarkan
kebaikan di sekitarnya,” jelasnya.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/09/muhciko-
pcm-kesambi-gelar-pengajian-ahad-pagi-tafsir-surat-al-fath-ayat-29-tentang-ciri-
umat-rasulullah.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

## Penutup: Meneladani Sifat Sahabat untuk Masa Kini

Mengakhiri tausiyahnya, Ustadz Agus Wahid mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan
lima ciri umat Rasulullah ini sebagai pedoman hidup, sebagaimana telah dicontohkan
oleh para sahabat Nabi. Meskipun umat Islam saat ini tidak merasakan didikan langsung
dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al-Qur’an telah mendeskripsikan karakter
mulia para sahabat yang dapat diteladani hingga masa kini.

“Karakter-karakter ini bukan sekadar teori, tetapi harus terwujud dalam perilaku
kita sehari-hari. Mari kita tingkatkan ketegasan dalam akidah, perkuat rasa kasih
sayang di antara sesama Muslim, mantapkan ibadah, selalu mencari karunia Allah, 
dan tunjukkan kerendahan hati sebagai buah dari ibadah kita,” pungkasnya.

Pengajian yang dimulai pada pukul 07.00 WIB ini berlangsung dengan khidmat hingga
selesai. Acara ditutup dengan doa bersama dan silaturahmi antarjamaah, menciptakan
suasana yang hangat dan religius di tengah-tengah keluarga besar Muhammadiyah Kota
Cirebon. (*)

---

**Peliput:** **Muryanto, dan Tim Media PCM Kesambi.**
