# Tarawih di Masjid Santun: Ustadz Upang Ibrahim Ajak Wujudkan Kesalehan Kolektif untuk Meraih Keberkahan

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/tarawih-di-masjid-santun-ustadz-upang-ibrahim-ajak-wujudkan-kesalehan-kolektif-untuk-meraih-keberkahan/
- Published: 2026-02-20T20:53:20+07:00
- Author: Arofah Firdaus

**CIREBON, 20 Februari 2026** – [Masjid Santun](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-reboan-masjid-santun-muhammadiyah-cirebon-ustadz-dr-maman-rusman-tekankan-larangan-membela-pengkhianat/)
Muhammadiyah [Kota Cirebon](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-editorial/) kembali
dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam keempat Ramadhan 1447 H, Jumat(
20/2/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, **Ustadz Upang Ibrahim**, menyampaikan
kultum yang menginspirasi dengan tema **“Mewujudkan Kesalehan Kolektif untuk Meraih
Keberkahan Allah”** .

Jamaah yang hadir tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengupas tentang pentingnya
membangun kesalehan tidak hanya secara individu, tetapi juga secara kolektif dalam
keluarga, masyarakat, dan bangsa.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/02/img-20260220-
wa00415438876986250181784.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

---

## Janji Allah tentang Keberkahan bagi Orang Beriman

Ustadz Upang Ibrahim mengawali kultum dengan mengutip firman Allah dalam QS. Al-
A’raf ayat 96:

**وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ
مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ**

_“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan
kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat
Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”_ (QS. Al-A’raf: 96)

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan tegas menjanjikan keberkahan dari langit dan bumi
bagi suatu negeri yang penduduknya beriman dan bertakwa. Ini adalah janji Allah 
yang tidak pernah diingkari. Maka, cita-cita kita bersama adalah mewujudkan negeri
yang **baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur** (negeri yang baik dan mendapat ampunan
Allah),” papar Ustadz Upang.

Beliau menjelaskan bahwa cita-cita Muhammadiyah sejak awal adalah menginginkan Indonesia
menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, sebuah negeri yang makmur,
sejahtera, dan mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/02/img-20260220-
wa00424688294024468420303.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

---

## Kesalehan Kolektif: Kunci Keberkahan

Memasuki inti pembahasan, Ustadz Upang menekankan bahwa keberkahan Allah tidak akan
turun hanya dengan kesalehan individu semata, tetapi membutuhkan **kesalehan kolektif**.
Adanya ketakwaan, keimanan, dan kesalehan yang dibangun bersama oleh seluruh elemen
masyarakat.

“Allah tidak hanya melihat kesalehan seseorang secara pribadi, tetapi juga melihat
bagaimana kesalehan itu terwujud dalam kehidupan bersama. Inilah yang disebut dengan
kesalehan kolektif,” jelasnya.

Beliau memberikan contoh konkret dalam lingkup terkecil, yaitu keluarga. “Dalam 
sebuah keluarga, ayah, ibu, dan anak harus memiliki ketakwaan kolektif. Jika hanya
ayah yang saleh, sementara ibu dan anak tidak, maka sulit bagi keluarga itu untuk
meraih keberkahan secara utuh. Tetapi jika seluruh anggota keluarga bersama-sama
membangun ketakwaan, insya Allah keberkahan akan turun dalam rumah tangga mereka.”

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/02/img-20260220-
wa00374394589283526715974.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

---

## Tanggung Jawab Kepemimpinan dalam Membangun Kesalehan

Ustadz Upang kemudian mengingatkan hadis Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam tentang
tanggung jawab [kepemimpinan](https://muhammadiyahciko.or.id/membangun-etika-komunikasi-pemimpin-islam-meneladani-sifat-rasulullah-dan-piagam-madinah-dalam-menghadapi-fitnah-digital/):

**كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ**

_“Setiap dari kalian adalah [pemimpin](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-reboan-masjid-santun-muhammadiyah-cirebon-ustadz-dr-maman-rusman-tekankan-larangan-membela-pengkhianat/),
dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”_ (HR.
Bukhari & Muslim)

“Hadis ini mengajarkan bahwa setiap kita memiliki tanggung jawab. Ayah adalah pemimpin
dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban. Ibu adalah pemimpin dalam
rumah tangganya. Seorang pejabat adalah pemimpin bagi rakyatnya. Semua akan dimintai
pertanggungjawaban. Maka, mari kita bangun kesalehan kolektif ini dengan kesadaran
bahwa kita semua adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban,” ajaknya.

Beliau mencontohkan para pendiri [organisasi](https://muhammadiyahciko.or.id/pentingnya-website-di-era-ai/)
[Islam](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/)
di Indonesia, termasuk para pendiri Muhammadiyah. “Mereka mampu menciptakan kesalehan
kolektif sehingga diberikan keberkahan oleh Allah. Organisasi yang mereka dirikan
terus eksis hingga sekarang, memberikan manfaat bagi jutaan umat. Inilah bukti keberkahan
yang lahir dari kesalehan kolektif.”

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/02/img-20260220-
wa00382687666079115114843.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

---

## Tujuh Golongan yang Mendapat Naungan Allah

Ustadz Upang juga mengingatkan hadis tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan
Allah pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, salah satunya adalah 
pemimpin yang adil:

**سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ
عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ،
وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ
دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ
تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ،
وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ**

_“Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak
ada naungan selain naungan-Nya: (1) pemimpin yang adil; (2) pemuda yang tumbuh dalam
ibadah kepada Allah; (3) seseorang yang hatinya terikat dengan masjid; (4) dua orang
yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu dan berpisah karena Allah; (5)
seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang [perempuan](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-aisyiyah-kota-cirebon-bahas-kepemimpinan-perempuan/)
yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut
kepada Allah’; (6) seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan
kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya; (7) seseorang yang
mengingat Allah dalam kesendirian lalu berlinang air matanya.”_ (HR. Bukhari & Muslim)

“Perhatikan, golongan pertama yang disebutkan adalah pemimpin yang adil. Ini menunjukkan
betapa pentingnya peran pemimpin dalam membangun kesalehan kolektif. Seorang pemimpin
yang adil akan membawa rakyatnya kepada kebaikan dan keberkahan,” jelas Ustadz Upang.

---

## Ramadhan: Momentum Memperbaiki Diri

Di penghujung kultum, Ustadz Upang Ibrahim mengajak jamaah untuk memanfaatkan bulan
Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri sendiri sebagai langkah awal membangun
kesalehan kolektif.

“Ramadhan adalah bulan latihan. Mari kita perbaiki diri kita masing-masing. Perbaiki
shalat kita, perbaiki puasa kita, perbaiki akhlak kita. Jika setiap individu saleh,
insya Allah akan lahir keluarga yang saleh. Jika setiap keluarga saleh, akan lahir
masyarakat yang saleh. Jika masyarakat saleh, akan lahir bangsa yang saleh, dan 
akhirnya kita akan meraih predikat **baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur**, negeri
yang baik dan diridhai Allah,” pungkasnya.

Beliau juga mengingatkan bahwa perbaikan diri harus dimulai dari sekarang. “Jangan
tunda-tunda. Mulai detik ini, perbaiki niat kita, perbaiki ibadah kita, perbaiki
hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama manusia. Semoga Allah menerima amal
ibadah kita dan memberikan keberkahan di dunia dan akhirat. Aamiin.”

---

## Penutup: Semangat Berjamaah di Masjid Santun

Salat Tarawih malam kelima berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir
tampak antusias mengikuti setiap rangkaian ibadah hingga selesai. Suasana kebersamaan
dan semangat berjamaah terlihat jelas di Masjid Santun, membuktikan bahwa Ramadhan
benar-benar menjadi momentum untuk membangun kesalehan kolektif.

Dengan pencerahan dari Ustadz Upang Ibrahim, jamaah diajak untuk tidak hanya fokus
pada kesalehan individual, tetapi juga berkontribusi dalam membangun kesalehan bersama
demi meraih keberkahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, baik di dunia maupun di akhirat.
