# Tauhid Perspektif Muhammadiyah: Konsep Uluhiyah, Asma wa Sifat, dan Af’al serta Implementasinya dalam Kehidupan Modern

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/tauhid-perspektif-muhammadiyah-konsep-uluhiyah-asma-wa-sifat-dan-afal-serta-implementasinya-dalam-kehidupan-modern/
- Published: 2026-06-04T07:07:28+07:00
- Author: Arofah Firdaus

## Abstrak

Tauhid merupakan fondasi utama dalam ajaran [Islam](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/)
yang menjadi landasan seluruh aktivitas [keagamaan](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-editorial/)
seorang Muslim. Perspektif Muhammadiyah tentang tauhid memiliki karakteristik khas
yang membedakannya dari aliran teologi lainnya, yaitu bersifat fungsional dan transformatif.
Artikel ini membahas secara komprehensif konsep tauhid dalam perspektif Muhammadiyah
yang terbagi menjadi tiga dimensi: Tauhid Uluhiyah (pengesaan Allah dalam ibadah),
Tauhid Asma wa Sifat (pengesaan Allah dalam nama dan sifat-Nya), dan Tauhid Af’al(
pengesaan Allah dalam perbuatan-Nya). Pembahasan didasarkan pada Al-Qur’an surah
al-Baqarah [2]:163, az-Zumar [39]:2-3, serta al-Hasyr [59]:22-24. Metode yang digunakan
adalah studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-analitis. Hasil pembahasan menunjukkan
bahwa ketiga dimensi tauhid tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan menjadi
landasan gerakan Muhammadiyah dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Pemahaman tauhid yang komprehensif ini diharapkan dapat mengantarkan umat Islam 
pada kehidupan yang [berkemajuan](https://muhammadiyahciko.or.id/prof-dadang-kahmad-tekankan-jurnalistik-sebagai-dakwah-berkemajuan-di-akademi-jurnalistik-muhammadiyah-4-malang/)(
hayāh thayyibah) serta menjawab tantangan peradaban modern.

**Kata Kunci:** Tauhid, Muhammadiyah, Uluhiyah, Asma wa Sifat, Af’al, Teologi Modernis

---

## Pendahuluan

### Latar Belakang

Tauhid merupakan inti dari seluruh ajaran Islam. Tidak ada satu pun amal perbuatan
yang diterima oleh Allah tanpa dilandasi oleh tauhid yang benar. Dalam [sejarah](https://muhammadiyahciko.or.id/prospek-web-muhammadiyah-kota-cirebon/)
pemikiran Islam, diskursus tentang tauhid telah melahirkan berbagai aliran teologi
dengan karakteristiknya masing-masing, mulai dari Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah,
hingga Salafiyah. Perbedaan mendasar di antara aliran-aliran tersebut terletak pada
metode pemahaman terhadap teks-teks Al-Qur’an dan Hadits yang berkaitan dengan zat,
sifat, dan perbuatan Allah.

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang lahir pada tahun 1912 di Yogyakarta memiliki
pandangan teologis yang khas. [Organisasi](https://muhammadiyahciko.or.id/pentingnya-website-di-era-ai/)
ini tidak secara mutlak mengikuti salah satu aliran teologi yang sudah ada, tetapi
merumuskan pemahaman tauhid yang bersumber langsung dari Al-Qur’an dan Sunnah sesuai
dengan pemahaman salaf aṣ-ṣāliḥ, serta bersifat fungsional untuk mendorong transformasi
sosial .

Ketua Majelis [Tarjih](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-penulisan-menurut-jenis-tulisan/)
dan Tajdid PP Muhammadiyah, Hamim Ilyas, menegaskan bahwa Muhammadiyah secara resmi
menganut paham _Islam Berkemajuan_ (_Progressive Islam_), yang di dalamnya tauhid
dipahami secara fungsional melalui dua konsep: _tauhid raḥamūtiyah_ (tauhid yang
berbasis pada sifat rahmat Allah) dan _tauhid murni_ (keyakinan yang tidak bercampur
dengan kezaliman) .

### Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini akan membahas beberapa permasalahan
berikut:

 1. Bagaimana konsep Tauhid Uluhiyah dalam perspektif Muhammadiyah?
 2. Bagaimana konsep Tauhid Asma wa Sifat dalam perspektif Muhammadiyah?
 3. Bagaimana konsep Tauhid Af’al dalam perspektif Muhammadiyah?
 4. Bagaimana implementasi ketiga dimensi tauhid tersebut dalam kehidupan modern?

### Tujuan Penulisan

Artikel ini bertujuan untuk:

 1. Menjelaskan secara sistematis konsep tauhid perspektif Muhammadiyah
 2. Menganalisis dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits yang menjadi landasan pemahaman tauhid
    Muhammadiyah
 3. Mengaitkan pemahaman tauhid dengan gerakan transformasi sosial yang dilakukan Muhammadiyah

---

## Pembahasan

### Konsep Dasar Tauhid dalam Perspektif Muhammadiyah

Dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Jilid 1, dijelaskan bahwa pemikiran tauhid Muhammadiyah
didasarkan pada dua surah utama, yaitu QS. Al-Ikhlāṣ yang menunjukkan tentang _uluhiyah_
dan _sifat_, serta QS. An-Naml [27]:60 yang menunjukkan tentang _af’al_ (perbuatan
Allah) . Dengan demikian, teologi kalam Muhammadiyah terbagi menjadi tiga pilar 
utama: uluhiyah, sifat, dan af’al.

Pembagian ini berbeda dengan mazhab Asy’ariyah yang membagi ketuhanan menjadi dzat,
sifat, dan af’al, serta berbeda pula dengan mazhab Salafiyah yang membaginya menjadi
rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa sifat. Perbedaan ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah
tidak sekadar mengambil paket teologi dari mazhab tertentu, tetapi merumuskan sendiri
pemahaman tauhidnya berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.

Salah satu prinsip penting dalam teologi Muhammadiyah adalah pengakuan bahwa akal
manusia tidak mampu menjangkau dzat Allah. Oleh karena itu, untuk mengetahui dzat
Allah, manusia dapat menempuh dua jalan: _pertama_, melalui uluhiyah, yaitu dengan
melaksanakan ibadah ritual maupun ibadah sosial yang hanya ditujukan kepada Allah;
_kedua_, dengan meneliti ciptaan-Nya di alam semesta yang pada akhirnya akan melahirkan
ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi seluruh makhluk .

### Tauhid Uluhiyah (توهيد الألوهية)

#### Pengertian Tauhid Uluhiyah

Tauhid Uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam segala bentuk ibadah, baik ibadah 
_mahḍah_ (ritual murni) maupun ibadah _ghairu mahḍah_ (sosial kemasyarakatan). Inti
dari tauhid ini adalah keyakinan bahwa tidak ada satu pun yang berhak disembah selain
Allah, sehingga seluruh bentuk penghambaan hanya boleh ditujukan kepada-Nya.

Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 163:

**اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ ۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ**

_“Ilāhukum ilāhun wāḥid, lā ilāha illā huwar-raḥmānur-raḥīm.”_

Artinya: _“Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah)
selain Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”_ (QS. al-Baqarah [2]:163)

Ayat ini menegaskan keesaan Allah dalam ketuhanan (_ulūhiyyah_) sekaligus menyebut
dua sifat-Nya yang agung, yaitu _ar-Raḥmān_ dan _ar-Raḥīm_. Penegasan ini menjadi
fondasi bahwa seluruh bentuk ibadah, baik yang bersifat ritual seperti salat, puasa,
zakat, haji, maupun yang bersifat sosial seperti tolong-menolong, menegakkan keadilan,
dan memberdayakan masyarakat, harus diniatkan semata-mata karena Allah.

Allah juga berfirman dalam surah az-Zumar ayat 2-3:

**إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا 
لَهُ الدِّينَ**

_“Innā anzalnā ilaikal-kitāba bil-ḥaqqi fa’budillāha mukhliṣal lahud-dīn.”_

Artinya: _“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dengan (membawa)
kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”_ (QS. az-
Zumar [39]:2)

Ayat berikutnya (az-Zumar: 3) menjelaskan bahwa orang-orang yang menyembah selain
Allah beralasan bahwa mereka ingin mendekatkan diri kepada Allah. Namun Allah menegaskan
bahwa Dia akan memberikan keputusan terhadap apa yang mereka perselisihkan.

#### Tauhid Uluhiyah dalam Perspektif Muhammadiyah

Dalam pemahaman Muhammadiyah, Tauhid Uluhiyah tidak hanya bermakna keyakinan teologis,
tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Konsep ini disebut sebagai _tauhid
fungsional_, yaitu tauhid yang mendorong terjadinya transformasi sosial .

Hamim Ilyas menjelaskan bahwa komitmen yang kuat terhadap tauhid akan melahirkan
masyarakat yang damai dan aman, membimbing umat manusia ke jalan yang lurus (_ṣirāṭ
al-mustaqīm_), dan mewujudkan keberkahan (_ni’mah_) dalam seluruh aspek kehidupan.
Keimanan yang kuat akan melahirkan amal saleh, membebaskan manusia dari kerugian(
_khusr_), dan mengantarkan pada _hayāh thayyibah_—kehidupan yang baik, makmur, damai,
dan membahagiakan .

Implementasi Tauhid Uluhiyah dalam gerakan Muhammadiyah tercermin dalam berbagai
[amal usaha](https://muhammadiyahciko.or.id/prospek-web-muhammadiyah-kota-cirebon/)
di bidang [pendidikan](https://muhammadiyahciko.or.id/menata-ulang-kompas-pendidikan-nasional-telaah-kritis-atas-rencana-penghapusan-kenaikan-kelas-otomatis-pada-2027/),
[kesehatan](https://muhammadiyahciko.or.id/rs-muhammadiyah-ini-hadirkan-wisata-kesehatan-berkemajuan/),
sosial, dan ekonomi. Seluruh amal usaha tersebut didasarkan pada niat ibadah kepada
Allah semata, bukan untuk kepentingan duniawi atau pamrih sosial.

### Tauhid Asma wa Sifat (توهيد الأسماء والصفات)

#### Pengertian Tauhid Asma wa Sifat

Tauhid Asma wa Sifat adalah mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah yang telah
ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya,
tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk (_tasybīh_), tanpa menanyakan hakikatnya (
_takyīf_), dan tanpa menolak atau meniadakannya (_ta‘ṭīl_).

Allah berfirman dalam surah al-Hasyr ayat 22-24:

**هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
 ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ (٢٢) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ
الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ
الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (٢٣) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ
الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٢٤)**

_“Huwa Allāhu allażī lā ilāha illā huwa ‘ālimul-ghaibi wasy-syahādah, huwa ar-raḥmānu
ar-raḥīm. Huwa Allāhu allażī lā ilāha illā huwa al-malikul-quddūsu as-salāmu al-
mu’minu al-muhaiminu al-‘azīzu al-jabbāru al-mutakabbir, subḥānallāhi ‘ammā yusyrikūn.
Huwa Allāhu al-khāliqu al-bāri’u al-muṣawwir, lahul-asmā’ul-ḥusnā, yusabbiḥu lahū
mā fis-samāwāti wal-arḍ, wa huwa al-‘azīzu al-ḥakīm.”_

Artinya: _“Dialah Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib
dan yang nyata; Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang 
tidak ada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan
Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki
segala Keagungan; Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah
Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang
indah. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana.”_ (QS. al-Hasyr [59]:22-24)

#### Manhaj Muhammadiyah dalam Memahami Asma wa Sifat

Majelis Tarjih Muhammadiyah dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) menegaskan bahwa
pemahaman tentang Asma wa Sifat harus mengikuti _manhaj salaf_, yaitu menetapkan
nama-nama dan sifat-sifat Allah (_isbāt ṣifātillāh_) dengan merujuk kepada Al-Qur’an
dan Sunnah. Muhammadiyah tidak membatasi sifat-sifat Allah menjadi 13 atau 20 sifat
seperti yang dilakukan oleh Asy’ariyah, karena pembatasan semacam itu kurang sesuai
dengan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah .

Kaidah-kaidah dalam memahami Asma wa Sifat menurut manhaj salaf adalah sebagai berikut:

 1. Semua nama Allah adalah nama-nama yang baik (_al-asmā’ul-ḥusnā_) yang menunjukkan
    kesempurnaan Allah.
 2. Nama-nama Allah bersifat _tauqīfī_, yaitu penetapannya berdasarkan nash Al-Qur’an
    dan Sunnah, tidak memberi wewenang kepada akal manusia untuk menambah atau mengurangi.
 3. Sifat-sifat Allah terbagi menjadi dua: _ṣifāt ṡubūtiyyah_ (sifat-sifat kesempurnaan
    yang ditetapkan bagi Allah) dan _ṣifāt salbiyyah_ (sifat-sifat negatif yang dinafikan
    dari Allah).
 4. Penetapan sifat-sifat Allah tidak boleh mengandung _tasybīh_ (penyerupaan dengan
    makhluk), _tamṡīl_ (penyamaan), _takyīf_ (penanyaan bagaimana hakikat sifat), apalagi
    _ta‘ṭīl_ (peniadaan) .

Penting untuk dipahami bahwa Muhammadiyah tidak sejalan dengan paham Asy’ariyah 
dalam hal pembatasan sifat-sifat Allah, meskipun sebagian pihak menuduh demikian.
Dalam HPT, Muhammadiyah menyatakan akidahnya sejalan dengan _Ahlul Ḥaqqi wa as-Sunnah_,
yaitu pokok-pokok akidah yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah yang diperkuat
dengan pemberitaan (_khabar_) mutawatir .

### Tauhid Af’al (توهيد الأفعال)

#### Pengertian Tauhid Af’al

Tauhid Af’al adalah mengakui bahwa Allah semata yang menciptakan, mengatur, dan 
menguasai seluruh alam semesta. Tidak ada satu pun kejadian di alam ini yang berada
di luar kehendak dan kekuasaan Allah. Tauhid ini sering disebut juga sebagai _Tauhid
Rubūbiyyah_ (pengesaan Allah dalam hal ketuhanan sebagai Pencipta dan Pengatur alam).

Al-Qur’an banyak menjelaskan tentang kekuasaan Allah dalam menciptakan dan mengatur
alam. Misalnya dalam surah An-Naml [27]:60 yang menyebutkan bahwa Allah-lah yang
menciptakan langit dan bumi serta menurunkan air hujan dari langit . Ayat-ayat tentang
kejadian alam semesta, pergantian siang dan malam, serta fenomena alam lainnya menjadi
bukti nyata dari Tauhid Af’al.

#### Implikasi Tauhid Af’al

Tauhid Af’al memiliki implikasi yang sangat luas, terutama dalam pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Muhammadiyah memahami bahwa dengan meneliti ciptaan Allah
yang ada di alam semesta, manusia dapat mengenal kebesaran Allah sekaligus mengembangkan
ilmu pengetahuan yang bermanfaat .

Pemahaman inilah yang mendorong Muhammadiyah untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan
modern yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum. Seperti diketahui, KH. Ahmad
Dahlan, pendiri Muhammadiyah, adalah tokoh yang gigih mematahkan dikotomi antara
ilmu agama dan ilmu umum. Beliau mendirikan sekolah-sekolah yang mengajarkan ilmu-
ilmu umum di samping ilmu agama, sebuah gebrakan yang revolusioner pada zamannya.

Ustadi Hamzah, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, menyatakan bahwa
teologi Islam kontemporer perlu bergerak melampaui teosentrisme klasik dan bahkan
melampaui antroposentrisme menuju kosmosentrisme. Bahkan, beberapa diskusi saat 
ini telah membingkai tauhid dalam perspektif biosentris yang menekankan tanggung
jawab terhadap seluruh makhluk hidup .

### Keterkaitan Ketiga Dimensi Tauhid

Ketiga dimensi tauhid—Uluhiyah, Asma wa Sifat, dan Af’al—merupakan satu kesatuan
yang tidak dapat dipisahkan. Seseorang tidak dapat dikatakan bertauhid secara sempurna
jika hanya mengakui satu atau dua dimensi saja. Keterkaitan ini dapat dijelaskan
sebagai berikut:

 1. Tauhid Af’al menjadi fondasi bagi pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta
    dan Pengatur alam.
 2. Tauhid Asma wa Sifat menjadi landasan bagi pemahaman bahwa Allah memiliki nama-
    nama dan sifat-sifat yang sempurna, yang tercermin dalam ciptaan dan perbuatan-
    Nya.
 3. Tauhid Uluhiyah menjadi konsekuensi logis dari dua dimensi sebelumnya, yaitu pengakuan
    bahwa hanya Allah yang berhak disembah karena Dia adalah Pencipta sekaligus Pemilik
    nama dan sifat yang sempurna.

Dengan kata lain, orang yang meyakini Tauhid Af’al dan Tauhid Asma wa Sifat secara
benar, niscaya akan terpacu untuk mewujudkan Tauhid Uluhiyah dalam seluruh aspek
kehidupannya.

### Tauhid sebagai Spirit Peradaban

Muhammadiyah memandang tauhid bukan sekadar keyakinan teologis yang pasif, tetapi
sebagai _spirit_ atau ruh yang menggerakkan peradaban. Hal ini sejalan dengan konsep
_tauhid fungsional_ yang ditawarkan oleh pemikir-pemikir kontemporer seperti Kuntowijoyo,
yang menekankan bahwa nilai-nilai tauhid harus menjadi paradigma dalam membangun
peradaban.

Dalam kerangka _Islam Berkemajuan_, tauhid dihadirkan sebagai kekuatan dinamis untuk
transformasi sosial. Islam tidak boleh dipahami secara parsial, tetapi harus diaktualisasikan
sebagai _agama langit yang membumi_, yang menandai terbitnya fajar baru bagi peradaban
manusia.

Beberapa prinsip tauhid yang menjadi fondasi peradaban menurut Muhammadiyah adalah:

 1. **Ilahiyat**: Menegaskan bahwa Allah adalah Kebenaran Mutlak (al-Ḥaqq)
 2. **Insaniyat**: Memandang manusia sebagai khalifah Allah yang memiliki otonomi dan
    menjadi pembangun peradaban
 3. **Diniyat**: Menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber ajaran
 4. **Ittibā‘ an-Nabī**: Mengikuti teladan Nabi Muhammad dalam membangun masyarakat
    Islam
 5. **Amar Ma‘rūf Nahī Munkar**: Menjadikan [dakwah](https://muhammadiyahciko.or.id/prof-dadang-kahmad-tekankan-jurnalistik-sebagai-dakwah-berkemajuan-di-akademi-jurnalistik-muhammadiyah-4-malang/)
    sebagai misi utama
 6. **Waṭaniyat**: Menerima negara sebagai _dār al-‘ahdi wa asy-syahādah_ (wilayah 
    kesepakatan dan kesaksian)

---

## Implementasi Tauhid dalam Kehidupan Modern

Pemahaman tauhid yang komprehensif dalam perspektif Muhammadiyah memiliki implikasi
yang sangat luas dalam kehidupan modern. Beberapa implementasi penting antara lain:

### 1. Bidang Pendidikan

Tauhid menjadi fondasi epistemologis bagi pengembangan pendidikan Islam. Sebuah 
studi tentang QS. al-Baqarah [2]:163 dengan pendekatan _[tafsir](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-ahad-pagi-pcm-kesambi-ustadz-agus-wahid-ulas-tafsir-al-asr-ingatkan-pentingnya-manajemen-waktu/)
tarbawi_ mengidentifikasi lima prinsip sentral tauhid yang menjadi fondasi pendidikan
Islam: _tauhid al-ma‘rifah_ (kesatuan sumber kebenaran), _kulliyyat ar-raḥmah_ (
universalitas rahmat Ilahi), _nafy asy-syirk_ (penolakan terhadap sekutu bagi Allah),
_takāmul al-‘ubūdiyyah wa al-khilāfah_ (integrasi dimensi vertikal dan horizontal),
dan _ta‘yīn al-huwiyyah al-ma‘rifiyyah_ (pembentukan identitas epistemik) .

Prinsip-prinsip ini menghendaki integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum dalam 
sistem pendidikan, serta pengembangan kurikulum yang tidak memisahkan dimensi [spiritual](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/),
intelektual, dan moral.

### 2. Bidang Sosial Kemasyarakatan

Tauhid Uluhiyah mendorong umat Islam untuk aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan
sebagai wujud penghambaan kepada Allah. Seluruh aktivitas amar ma‘rūf nahī munkar,
pemberdayaan masyarakat, dan penanganan masalah sosial adalah manifestasi dari tauhid.

Muhammadiyah memiliki gerakan di bidang [lingkungan](https://muhammadiyahciko.or.id/muhammadiyah-karhutla-bukan-bencana-tahunan/)
hidup sebagai bentuk implementasi tauhid. Lembaga Lingkungan Hidup Muhammadiyah (
sekarang Majelis Lingkungan Hidup) aktif dalam upaya pelestarian lingkungan dan 
pencegahan kerusakan alam, karena menjaga alam adalah bagian dari tanggung jawab
manusia sebagai khalifah .

### 3. Bidang Ekonomi

Tauhid mengajarkan bahwa harta benda adalah amanah dari Allah. Konsep ini mendorong
umat Islam untuk mengelola harta secara produktif, membayar zakat, menghindari riba,
serta mengembangkan ekonomi kerakyatan. Muhammadiyah memiliki berbagai lembaga keuangan
mikro, koperasi, dan usaha-usaha produktif yang dikelola secara profesional.

### 4. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Tauhid Af’al mendorong umat Islam untuk meneliti alam semesta sebagai ciptaan Allah.
Iptek dipandang sebagai sarana untuk mengungkap tanda-tanda kebesaran Allah sekaligus
untuk kemaslahatan umat manusia. Muhammadiyah mendirikan berbagai perguruan tinggi
unggulan yang menghasilkan saintis dan teknokrat muslim.

---

## Kesimpulan

Tauhid dalam perspektif Muhammadiyah memiliki karakteristik yang khas, yaitu bersifat
fungsional dan transformatif. Pemahaman tauhid Muhammadiyah tidak terikat pada salah
satu mazhab teologi yang sudah ada, tetapi dirumuskan langsung dari Al-Qur’an dan
Sunnah dengan pendekatan _manhaj salaf_.

Ketiga dimensi tauhid—Uluhiyah, Asma wa Sifat, dan Af’al—merupakan satu kesatuan
yang utuh. Tauhid Af’al menjadi fondasi keyakinan bahwa Allah adalah Pencipta alam.
Tauhid Asma wa Sifat menjadi landasan pemahaman tentang kesempurnaan nama dan sifat
Allah. Tauhid Uluhiyah menjadi konsekuensi bahwa hanya Allah yang berhak disembah.

Implementasi tauhid dalam kehidupan modern mencakup seluruh aspek: pendidikan, sosial,
ekonomi, dan iptek. Tauhid menjadi _spirit_ peradaban yang mendorong terwujudnya
masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (_baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr_).

---

## Daftar Pustaka

Al-Qur’an al-Karim

Hamim Ilyas. (2026). _Hamim Ilyas Affirms Tauhid as the Spirit of Progressive Civilization_.
Muhammadiyah Official [Website](https://muhammadiyahciko.or.id/pentingnya-website-di-era-ai/).

Helmy, H. A., Surahman, C., & Sumarna, E. (2025). _Tawheed as an Epistemological
Foundation: A Tarbawi Exegesis of Al-Baqarah [2]:163 for the Islamic Education Paradigm_.
Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam, 9(2).

Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. (2016). _Himpunan Putusan Tarjih Jilid
1_. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Pramono, R. (2024). _Teologi Modernis Muhammadiyah Menyinari Peradaban_. PWM Jateng.

Parlan, H. (2022). _Muhammadiyah Jadikan Islam sebagai Agama Langit yang Membumi_.
KLIKMU.

Syamsul Hidayat. (2021). _Makna Tauhid Asma wa Sifat dalam Kehidupan_. Majalah Suara‘
Aisyiyah.

Ustadi Hamzah. (2026). _Sunni-Shia Tauhid Debate Grows Obsolete, Contemporary Islam
Moves toward Functional Tauhid_. Muhammadiyah Official Website.
