# Ustadz Agus Wahid Luruskan Pemahaman Hadis tentang Tangisan Keluarga dan Siksaan Mayit

- Link: https://muhammadiyahciko.or.id/ustadz-agus-wahid-luruskan-pemahaman-hadis-tentang-tangisan-keluarga-dan-siksaan-mayit/
- Published: 2026-07-22T21:26:53+07:00
- Author: Arofah Firdaus

**CIREBON, 22 Juli 2026** — Suasana khidmat menyelimuti [Masjid Santun](https://muhammadiyahciko.or.id/pengajian-reboan-masjid-santun-muhammadiyah-cirebon-ustadz-dr-maman-rusman-tekankan-larangan-membela-pengkhianat/)
Muhammadiyah [Kota Cirebon](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-editorial/) pada
pelaksanaan Pengajian Reboan, Rabu malam (22/7/2026). Bertindak sebagai penceramah,
Ustadz Agus Wahid, S.Ag., menyampaikan kajian mendalam tentang sebuah hadis yang
sering menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat, yakni mengenai siksaan mayit
akibat tangisan keluarganya.

Acara pengajian yang rutin digelar ba’da Maghrib hingga Isya ini dihadiri oleh jamaah
dari berbagai kalangan. Dengan penuh hikmah, Ustadz Agus Wahid mengupas tuntas makna
hadis tersebut agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menyikapi musibah kematian.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/07/muhciko-
ustadz-agus-wahid-luruskan-pemahaman-hadis-tentang-tangisan-keluarga-dan-siksaan-
mayit-3.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

---

## Perbedaan Makna Mati dan Wafat

Mengawali ceramahnya, Ustadz Agus menjelaskan perbedaan mendasar antara dua istilah
yang sering digunakan untuk kematian. Beliau menyampaikan bahwa dalam pandangan 
[Islam](https://muhammadiyahciko.or.id/islam-sebagai-way-of-life-membumikan-ajaran-dalam-dimensi-spiritual-dan-sosial/),
kata “mati” merujuk pada kondisi ketika jasad telah berpisah dengan ruh. Sementara
itu, “wafat” memiliki makna yang lebih sempurna, yaitu kematian yang diridai sebagai
bagian dari ketetapan Allah Swt.

---

## Asbab al-Wurud: Kisah di Balik Hadis

Untuk memahami sebuah hadis secara utuh, Ustadz Agus menekankan pentingnya mengetahui
_asbab al-wurud_ atau latar belakang turunnya hadis tersebut. Beliau mengisahkan
bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam pernah melewati sebuah kuburan seorang
wanita kafir yang keluarganya sedang meratap dengan tangisan keras.

Melihat pemandangan tersebut, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda bahwa
mayit itu disiksa karena tangisan keluarganya. Namun, Ustadz Agus menjelaskan bahwa
konteks ini penting untuk dipahami. Hadis tersebut turun dalam situasi khusus, yaitu
tangisan yang disertai ratapan berlebihan (_niyahah_), bukan sekadar tangisan sebagai
ekspresi kesedihan alami.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/07/muhciko-
ustadz-agus-wahid-luruskan-pemahaman-hadis-tentang-tangisan-keluarga-dan-siksaan-
mayit-2.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

---

## Tangisan yang Diperbolehkan dan yang Diharamkan

Dalam paparannya, Ustadz Agus Wahid membedakan secara tegas antara tangisan yang
diperbolehkan dan ratapan yang diharamkan. Beliau mengutip sabda Rasulullah Shalallahu
Alaihi Wasallam :

> **لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ، وَشَقَّ الْجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى 
> الْجَاهِلِيَّةِ**
> _“Bukan termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek kerah
> baju, dan berdoa dengan doa Jahiliah.”_ (HR. Bukhari dan Muslim)

Ustadz Agus menjelaskan bahwa tangisan yang diperbolehkan adalah air mata yang mengalir
karena kesedihan hati dengan suara yang tidak keras. Hal ini merupakan rahmat dan
fitrah kemanusiaan. Bahkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sendiri menangis
ketika putra beliau, Ibrahim, meninggal dunia. Hal ini menunjukkan bahwa menangis
karena kehilangan orang tercinta adalah wajar dan dibolehkan.

Adapun yang diharamkan adalah ratapan berlebihan (_niyahah_) yang bercirikan suara
keras, meratap dengan kata-kata yang menunjukkan ketidakrelaan terhadap takdir Allah,
memukul-mukul pipi, dan menjambak rambut. Ratapan seperti inilah yang dapat menyebabkan
siksaan bagi mayit.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/07/muhciko-
ustadz-agus-wahid-luruskan-pemahaman-hadis-tentang-tangisan-keluarga-dan-siksaan-
mayit-1.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

---

## Dua Jenis Siksaan

Ustadz Agus memaparkan bahwa siksaan yang dimaksud dalam hadis terbagi menjadi dua
kategori:

**Pertama**, siksaan yang diinginkan oleh mayit itu sendiri. Hal ini terjadi apabila
seseorang sebelum meninggal dunia berwasiat kepada keluarganya untuk meratapi kematiannya.
Dengan wasiat tersebut, ia telah mengetahui bahwa keluarganya akan melakukan perbuatan
yang tidak diridai Allah, namun ia tetap meridainya.

**Kedua**, siksaan yang menyakitkan hati. Ini terjadi apabila si mayit semasa hidupnya
berwasiat agar keluarganya menangisi dengan tangisan keras dan berlebihan. Siksaan
ini akan berakhir seiring berhentinya tangisan dari keluarga yang ditinggalkan.

![](https://i0.wp.com/muhammadiyahciko.or.id/wp-content/uploads/2026/07/muhciko-
ustadz-agus-wahid-luruskan-pemahaman-hadis-tentang-tangisan-keluarga-dan-siksaan-
mayit.jpg?resize=1024%2C768&ssl=1)

---

## Hikmah dan Pelajaran Berharga

Mengakhiri ceramahnya, Ustadz Agus Wahid mengajak para jamaah untuk mengambil pelajaran
berharga dari kajian ini. Beliau menekankan bahwa umat Islam hendaknya:

 1. Menyadari bahwa tangisan sebagai ekspresi kesedihan adalah fitrah dan diperbolehkan
 2. Menghindari ratapan berlebihan yang bertentangan dengan tuntunan Rasulullah shalallahu
    alaihi wa salam.
 3. Menguatkan keimanan dan ketakwaan agar mampu menerima segala ketetapan Allah dengan
    lapang dada
 4. Mempersiapkan diri dengan amal saleh, karena siksaan kubur hanya disebabkan oleh
    perbuatan sendiri, bukan karena tangisan orang lain

---

## Penutup

Pengajian Reboan yang berlangsung dengan penuh kekhusyukan ini memberikan pencerahan
bagi jamaah tentang bagaimana menyikapi musibah kematian sesuai dengan tuntunan 
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam Ustadz Agus Wahid berhasil meluruskan pemahaman
yang selama ini beredar di masyarakat bahwa setiap mayit yang ditangisi akan disiksa,
padahal sebenarnya yang menjadi penyebab siksaan adalah ratapan berlebihan dan wasiat
mayit itu sendiri.

Semoga ilmu yang disampaikan dapat menjadi bekal bagi kita semua dalam menghadapi
ujian kematian, baik yang ditinggalkan maupun yang akan meninggalkan. **Wallahu 
a’lam bi al-shawab.**

**Peliput : Dakum, S.Pd.,** dan Tim [Media](https://muhammadiyahciko.or.id/panduan-editorial/)
Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon.
