Kajian Reboan Masjid Santun Mengurai Keteladanan dan Ujian Kesabaran dalam Kisah Nabi Yusuf

CIREBON, 21 Januari 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali menggelar Kajian Reboan yang penuh hikmah. Kajian yang berlangsung usai salat Maghrib hingga menjelang Isya pada Rabu (21/1/2026) malam ini, menghadirkan Ustadz Dedi Ahyadi sebagai pembicara. Dengan pendalaman mendalam, beliau mengajak jamaah menyelami bagian kedua dari kisah agung Nabi Yusuf Alaihis Salam (AS), yang sarat dengan pelajaran tentang keadilan, ujian kesabaran, dan hikmah di balik takdir.

Dari Tuduhan ke Kedudukan: Anugerah setelah Cobaan

Ustadz Dedi membuka kajian dengan mengingatkan bahwa Nabi Yusuf telah dibebaskan dari tuduhan dan diangkat menjadi bendahara negara. Beliau menekankan pentingnya menghilangkan hasad (iri-dengki) yang merusak kebahagiaan, sebagai pelajaran utama dari fitnah yang dialami Yusuf. Setelah kesuciannya terbukti, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganugerahkannya karunia yang besar. Yusuf menikahi Zulaikha dan dikaruniai dua putra, serta diberi kemampuan oleh Allah untuk memahami berbagai bahasa, sehingga dapat berkomunikasi langsung dengan Raja Mesir.

وَءَاتَيْنَٰهُ أَجْرَهُۥ فِى ٱلدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

“Dan Kami berikan kepadanya pahala (di dunia), dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Yusuf: 22)

Ayat ini, jelas Ustadz Dedi, menegaskan bahwa semua yang didapatkan Yusuf adalah anugerah dan pengganti dari Allah atas segala kesabarannya. Namun, beliau mengingatkan bahwa puncak kebahagiaan sejati adalah akhirat, sebagaimana firman Allah:

وَلَلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ ٱلْأُولَىٰ . وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ

“Dan sungguh, yang kemudian (akhirat) itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan (dunia). Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.” (QS. Ad-Duha: 4-5)

Ujian Kesabaran Nabi Ya’qub: Kehilangan Kembali
Kajian kemudian berlanjut pada episode kedatangan saudara-saudara Yusuf ke Mesir pada masa paceklik. Yusuf yang telah menjadi penguasa, mensyaratkan agar pada kunjungan berikutnya mereka membawa saudara seibu mereka, Bunyamin. Nabi Ya’qub AS yang telah kehilangan Yusuf, dengan berat hati mengizinkan Bunyamin pergi setelah mereka bersumpah akan menjaganya. Ustadz Dedi mengutip wasiat penuh kehati-hatian Ya’qub:

وَقَالَ يَٰبَنِىَّ لَا تَدْخُلُوا۟ مِنۢ بَابٍ وَٰحِدٍ وَٱدْخُلُوا۟ مِنْ أَبْوَابٍ مُّتَفَرِّقَةٍ ۖ وَمَآ أُغْنِى عَنكُم مِّنَ ٱللَّهِ مِن شَىْءٍ ۖ إِنِ ٱلْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُتَوَكِّلُونَ

“Dan dia (Ya‘qub) berkata, “Wahai anak-anakku! Janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda; namun demikian, aku tidak dapat membebaskan kamu sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan itu hanyalah bagi Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri.” (QS. Yusuf: 67)

Ustadz Dedi menjelaskan, wasiat untuk masuk dari pintu yang berbeda ini bukan semata untuk menghindari sihir atau ‘ain (pandangan hasad), tetapi lebih mencerminkan kehati-hatian dan kesadaran mendalam Ya’qub bahwa segala takdir berada di tangan Allah. Pesan utamanya adalah tawakal setelah melakukan ikhtiar.

Rencana Ilahi yang Sempurna: Penyatuan Kembali Keluarga
Bagian kajian yang mengharukan adalah saat Yusuf akhirnya memperkenalkan diri kepada Bunyamin. Ustadz Dedi membacakan ayat yang menggambarkan momen penuh kasih itu:

وَلَمَّا دَخَلُوا۟ عَلَىٰ يُوسُفَ ءَاوَىٰٓ إِلَيْهِ أَخَاهُ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَنَا۠ أَخُوكَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

“Dan ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, dia menempatkan saudaranya (Bunyamin) di tempatnya. Dia (Yusuf) berkata, “Sesungguhnya aku adalah saudaramu, maka janganlah kamu bersedih hati terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Yusuf: 69)

Rencana Allah kemudian berlanjut dengan hilangnya piala raja yang sengaja ditempatkan dalam karung Bunyamin. Insiden ini menjadi jalan bagi Yusuf untuk menahan Bunyamin berdasarkan hukum setempat, yang pada akhirnya akan memaksa saudara-saudaranya yang lain kembali dan mengakui kesalahan masa lalu. Ustadz Dedi menekankan bahwa setiap detail dalam kisah ini adalah bagian dari skenario ilahi yang Maha Bijaksana untuk menyatukan kembali keluarga Ya’qub, menguji kesabaran, dan mempertemukan mereka dengan pengampunan.

Kajian ditutup dengan penegasan bahwa kisah Yusuf adalah pelajaran abadi tentang kesabaran menghadapi fitnah, keindahan memaafkan, dan keajaiban tawakal. Di balik setiap kesulitan yang tampak, Allah sedang merajut kebaikan yang jauh lebih besar bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

Komentar (Tanggapan)

Tulis Komentar pada kolom di bawah ini

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.
Ruas (kotak) yang wajib diisi ditandai *

Ada 4 tanggapan untuk “Kajian Reboan Masjid Santun Mengurai Keteladanan dan Ujian Kesabaran dalam Kisah Nabi Yusuf”

  1. Avatar Erli
    Erli

    Terimakasih ustadz.
    Suatu pelajaran dan keteladanan dari Nabi Yusuf ttg kesabaran, kejujuran, ketaatan, kemanusiaan, dan kepemimpinan.

  2. Avatar Nurzini Fazilet
    Nurzini Fazilet

    Tawakal setelah melakukan ikhtiar.

  3. Avatar Arofah Firdaus
    Arofah Firdaus

    Penekanan pada pesan “tawakal setelah ikhtiar” melalui wasiat Nabi Ya’qub sangat tepat, mengingatkan kita bahwa kehati-hatian dan perencanaan adalah bagian dari ikhtiar, sementara hasil akhir kita serahkan pada rencana Allah yang Maha Bijaksana. Kisah ini adalah masterpiece pendidikan hati tentang bagaimana menjaga kemuliaan diri di tengah fitnah, dan percaya pada hikmah di balik setiap ketetapan-Nya.

  4. Avatar puji nirmo
    puji nirmo

    Semoga kisah Nabi Yusuf AS bs menjadi pelajaran dan teladan bagi seluruh warga Muhammadiyah