Kuliah Subuh di Masjid Umar bin Khattab: Ustadz Somantri Perbangkara Paparkan Harga Mahal Istiqomah

Cirebon, 12 Maret 2026 – Masjid Umar bin Khattab di Komplek SMK Farmasi Muhammadiyah Jl. Cideng Indah No. 03
Kertawinangun Kab. Cirebon dipenuhi jamaah pada pelaksanaan kuliah Subuh, Kamis (12/3/2026). Kegiatan rutin di penghujung Ramadhan ini menghadirkan penceramah Ustadz Somantri Perbangkara, M.Pd., yang menyampaikan tausiyah mendalam dengan tema “Harga Mahal Istiqomah” .

Dalam tausiyahnya, Ustadz Somantri menjelaskan bahwa istiqomah berarti teguh, konsisten, dan terus-menerus berada di jalan ketaatan kepada Allah. Istiqomah bukan sekadar semangat sesaat, melainkan keteguhan hati dalam menjalankan ibadah sampai akhir hayat. Karena itulah istiqomah disebut memiliki “harga yang mahal”, sebab tidak semua orang mampu mempertahankannya.


Makna Istiqomah dalam Islam

Secara bahasa, istiqomah berarti lurus dan teguh. Dalam istilah syariat, istiqomah adalah tetap berada di jalan kebenaran dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya secara konsisten.

Ustadz Somantri mengutip penjelasan ulama besar Ibnu Rajab al-Hanbali , bahwa istiqomah adalah: “Menempuh jalan yang lurus, yaitu agama Islam tanpa menyimpang ke kanan dan ke kiri.”


Dalil Al-Qur’an tentang Istiqomah

Perintah untuk Istiqomah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Hud ayat 112:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka tetaplah engkau (Muhammad) pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)

“Perhatikanlah ayat ini, jamaah sekalian. Ayat ini menunjukkan bahwa bahkan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam pun diperintahkan untuk terus istiqomah. Beliau yang telah dijamin surga saja masih diperintah istiqomah, apalagi kita yang penuh dosa ini,” papar Ustadz Somantri.

Jaminan Ketenangan bagi Orang Istiqomah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Fussilat ayat 30:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqomah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu takut dan janganlah bersedih hati; dan bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fussilat: 30)

“Ini adalah janji Allah yang sangat agung. Orang yang istiqomah akan didatangi malaikat yang memberikan ketenangan, menghilangkan rasa takut dan sedih, serta memberikan kabar gembira berupa surga. Subhanallah,” jelas Ustadz Somantri.


Dalil Hadits tentang Istiqomah

Ustadz Somantri kemudian mengutip hadits terkenal tentang istiqomah. Seorang sahabat bernama Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi bertanya kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ، ثُمَّ اسْتَقِمْ

Aku berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku satu perkataan tentang Islam yang tidak perlu aku tanyakan lagi kepada orang lain selain engkau.” Beliau menjawab: “Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqomahlah.” (HR. Muslim)

“Hadits ini sangat dalam maknanya. Iman adalah fondasi, dan istiqomah adalah bangunan yang berdiri di atasnya. Iman tanpa istiqomah seperti pohon tanpa akar yang kuat, mudah tumbang diterpa badai,” tegas Ustadz Somantri.


Mengapa Istiqomah Itu Mahal?

Ustadz Somantri menjelaskan bahwa istiqomah terasa berat karena manusia selalu menghadapi berbagai ujian, seperti:

  • Godaan dunia yang terus-menerus menghampiri
  • Hawa nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan
  • Godaan setan yang tidak pernah berhenti
  • Lingkungan yang sering tidak mendukung kebaikan
  • Rasa bosan dan lemah iman yang datang silih berganti

“Karena itu, banyak orang semangat di awal tetapi berhenti di tengah jalan. Mereka yang mampu bertahan hingga akhir adalah mereka yang benar-benar memahami ‘harga mahal’ istiqomah dan rela membayarnya dengan kesabaran dan pengorbanan,” jelasnya.


Teladan Istiqomah Para Sahabat

Para sahabat Nabi terkenal dengan istiqomah mereka dalam berbagai kondisi:

  • Abu Bakar as-Siddiq tetap teguh imannya setelah wafatnya Nabi, ketika banyak orang murtad.
  • Umar bin Khattab istiqomah menegakkan keadilan hingga akhir hayatnya.
  • Bilal bin Rabah tetap mempertahankan imannya walau disiksa di atas pasir panas dengan batu besar di dadanya, sambil terus mengucapkan Ahad, Ahad.

“Mereka membayar mahal istiqomah mereka dengan harta, jiwa, dan rasa sakit. Namun Allah membalasnya dengan surga yang kekal. Inilah bukti bahwa istiqomah memang mahal, tetapi balasannya jauh lebih mahal,” ungkap Ustadz Somantri.


Cara Menjaga Istiqomah

Di penghujung tausiyah, Ustadz Somantri memaparkan beberapa cara agar tetap istiqomah dalam beribadah:

  1. Memperkuat niat karena Allah – Niat yang ikhlas menjadi energi utama dalam beramal.
  2. Menjaga shalat lima waktu – Shalat adalah tiang agama yang menopang keistiqomahan.
  3. Membaca Al-Qur’an secara rutin – Al-Qur’an adalah petunjuk yang menjaga hati tetap lurus.
  4. Berkumpul dengan orang saleh – Lingkungan yang baik akan menguatkan iman.
  5. Berdoa meminta keteguhan iman – Doa adalah senjata orang mukmin.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sering membaca doa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)

“Doa ini menunjukkan bahwa keteguhan hati adalah anugerah yang harus senantiasa dimohonkan kepada Allah. Jangan pernah merasa cukup dengan iman kita, mintalah terus keteguhan,” pesan Ustadz Somantri.


Kesimpulan: Investasi Akhirat yang Mahal

Menutup kuliah subuh, Ustadz Somantri Perbangkara menyimpulkan bahwa istiqomah dalam beribadah memang mahal harganya, karena membutuhkan kesabaran, pengorbanan, dan keteguhan iman. Namun balasannya sangat besar, yaitu ketenangan hidup di dunia, kemuliaan saat menghadapi kematian, dan keselamatan di akhirat.

“Di penghujung Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi, marilah kita bertekad untuk tidak hanya semangat di bulan suci, tetapi mampu mempertahankan semangat tersebut hingga sebelas bulan ke depan. Jangan sampai kita seperti orang yang hanya semangat di bulan Ramadhan, tetapi setelah itu kembali kepada kebiasaan buruk. Itu bukanlah istiqomah,” tegasnya.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran: 8)

Semoga kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqomah hingga akhir hayat. Aamiin.

Kuliah Subuh ditutup dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an menyambut sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *