CIREBON, 8 Desember 2025 – Dalam dunia persilatan Tapak Suci Putera Muhammadiyah, nama KH. Ahmad Kasuwi Thorif atau yang akrab disapa Abah Wi dikenal sebagai sosok pendekar besar yang mengedepankan keluhuran akhlak di samping keilmuan beladirinya yang mumpuni. Lahir di Desa Godog, Lamongan, pada 10 April 1953, beliau adalah perintis Tapak Suci di wilayah Lamongan, Jawa Timur, yang dedikasinya menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah organisasi tersebut.
Menurut keterangan Ketua Umum Pimpinan Pusat Tapak Suci, sosok Abah Wi adalah pribadi yang rendah hati, tegas, disiplin, tawadhu, santun, dan berilmu. “Beliau adalah pendekar besar yang menguasai ilmu seni bela diri Tapak Suci, berakhlak sangat baik, dan selalu ringan tangan menolong siapa saja,” ujarnya menggambarkan ketokohan Abah Wi yang wafat dan meninggalkan duka yang mendalam bagi seluruh keluarga besar Tapak Suci.
Kharisma, keberanian, ketegasan, dan keteladanan Abah Wi-lah yang dahulu menarik minat para remaja dan pemuda Lamongan. Bagi mereka, Tapak Suci yang diajarkannya bukan sekadar olahraga bela diri, melainkan gerakan pembentukan karakter, kedisiplinan, dan militansi yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Meneladani Jejak, Meneruskan Perjuangan
Semangat dan nilai-nilai yang ditanamkan Abah Wi terus menginspirasi generasi penerus di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Cirebon. Salah satunya adalah Mohamad Ziaurrahman, pelatih Tapak Suci SMA Muhammadiyah Kedawung.
“Beliau adalah teladan. Saya akan berusaha mengikuti jejak Pendekar Besar KH. Ahmad Kasuwi Thorif yang tidak pernah menyerah menyebarkan keilmuan pencak silat dan dakwah Muhammadiyah kepada siapa saja,” tutur Ziaurrahman yang merintis dan bergabung dengan Tapak Suci di Kabupaten Cirebon sejak 2008 di bawah bimbingan guru-guru seperti Yani Badarudin dan Popon R.
Perjalanan Ziaurrahman dimulai sebagai atlet yang meraih juara 3 di GOR Sumber pada 2013, hingga mencapai sabuk biru pada 2015. Dedikasinya kemudian diamanahkan oleh Pimpinan Daerah Tapak Suci Kabupaten Cirebon untuk melatih di SMA Muhammadiyah Kedawung mulai 2023 hingga sekarang.
Bersama para atlet, Ziaurrahman berkomitmen untuk terus meningkatkan dan mempertahankan prestasi. “Mempertahankan prestasi lebih sulit dibandingkan merebut prestasi,” ujarnya menyadari tantangan yang dihadapi. Ia juga menyampaikan refleksi tentang semangat berkarya di persyarikatan. “Sebagai kader, banyak yang enggan merintis dari nol. Namun, ketika sebuah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) atau Ortom sudah maju dan berprestasi, justru banyak yang kemudian memperebutkannya. Semangat perintisan Abah Wi-lah yang harus kita jaga,” pungkasnya.
Melalui keteladanan pendekar seperti KH. Ahmad Kasuwi Thorif, Tapak Suci terus membuktikan diri tidak hanya sebagai perguruan silat, tetapi sebagai sekolah kehidupan yang membentuk kader-kader tangguh dan berakhlak mulia untuk Muhammadiyah dan bangsa.


Tulis Komentar pada kolom di bawah ini