Pengajian Muhammadiyah dan Aisyiyah Harjamukti Bahas Peran Pola Asuh Cegah Perundungan pada Anak

CIREBON – Ahad, 9 November 2025. Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah Harjamukti Kota Cirebon menyelenggarakan pengajian umum di Masjid Annur Sangkana Muhammadiyah Kalijaga, Harjamukti. Acara yang menghadirkan penceramah Dr. Sri Maryati, M.A. tersebut mengangkat tema mendesak: “Pola Pengasuhan dalam Mencegah Perilaku Perundungan terhadap Anak.”

Pengajian yang dihadiri Ketua PCM Harjamukti Yandi Heryandi, M.Pd., dan Ketua PDA Retno Kuntjorowati, S.Pd. ini digelar dalam konteks keprihatinan yang mendalam, mengingat Jawa Barat tercatat sebagai provinsi dengan kasus perundungan (bullying) tertinggi kedua di Indonesia menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Dalam pemaparannya, Dr. Sri Maryati mendefinisikan perundungan sebagai perilaku yang muncul dari persepsi ketidaksetaraan antara dua pihak atau lebih. “Potensi penyebab perundungan bisa datang dari siapapun, terutama ketika seseorang sudah merasa berbeda, tidak setara, atau justru merasa lebih unggul dari lawan bicaranya,” ujarnya.

Dr. Sri Maryati menekankan bahwa pola pengasuhan dalam keluarga merupakan kunci utama dalam membentuk karakter anak, yang pada akhirnya menentukan posisi anak dalam siklus perundungan—apakah akan menjadi korban, pelaku, atau justru penolong (bystander).

Pilar Pencegahan Perundungan melalui Pola Asuh

Penceramah yang berkompeten di bidangnya itu memaparkan tiga pilar utama peran keluarga dalam mencegah perundungan:

  1. Penguatan Komunikasi dan Kehangatan Keluarga
    Dr. Sri Maryati menganjurkan pola asuh demokratis yang mengedepankan dialog, kasih sayang, dan batasan yang jelas, sebagai alternatif dari pola asuh otoriter atau permisif. “Membangun saluran komunikasi yang terbuka dan aman sangat penting agar anak merasa nyaman bercerita, baik sebagai korban maupun saksi,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya quality time di tengah kesibukan orang tua untuk menjaga kelekatan dengan anak.
  2. Pembentukan Karakter dan Empati Anak
    Poin ini menekankan pada pendidikan empati untuk menghargai perbedaan dan memahami perasaan orang lain. “Empati adalah benteng utama agar anak tidak menjadi pelaku,” tegasnya. Selain itu, disiplin positif yang konsisten dan tanpa kekerasan, serta literasi digital untuk mencegah cyberbullying, juga menjadi hal yang krusial.
  3. Peran Aktif Orang Tua dalam Pencegahan
    Orang tua diajak untuk peka terhadap perubahan perilaku anak yang bisa menjadi indikasi korban perundungan. Sinergi dengan sekolah dan lingkungan melalui program seperti PAAREDI CEKAS (Pola Asuh Anak dan Remaja Cegah Kekerasan) dan Forum Anak perlu diperkuat. “Pengawasan pergaulan dan mendorong anak untuk berani menjadi pelapor dan pelopor dalam lingkungan positif adalah langkah preventif,” imbuhnya.

Acara yang berlangsung khidmat ini diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan dan kapasitas orang tua serta masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang anak, bebas dari ancaman perundungan. Melalui pola asuh yang tepat, diharapkan anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berkarakter mulia dan penuh empati.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 tanggapan untuk “Pengajian Muhammadiyah dan Aisyiyah Harjamukti Bahas Peran Pola Asuh Cegah Perundungan pada Anak”

  1. Avatar PUJI NIRMO
    PUJI NIRMO

    Semoga bermanfaat bagi seluruh warga Muhammadiyah, khususnya di AUM Pendidikan maupun ortom

  2. Avatar Dafan noviyanto eka saputra
    Dafan noviyanto eka saputra

    Alhamdulilah