CIREBON, 6 Desember 2025 – Pimpinan Ranting Aisyiyah Kalijaga dan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, menyelenggarakan pengajian rutin yang menghadirkan Ustadz Yandi Heryandi, M.Pd., sebagai penceramah. Kajian yang dihadiri oleh ibu-ibu anggota Aisyiyah tersebut secara khusus membahas tafsir Surat Al-Baqarah ayat 255, yang dikenal sebagai Ayat Kursi, mengungkap keagungan dan kedalaman maknanya.
Dalam pemaparannya, Ustadz Yandi membuka dengan hadis riwayat Imam Muslim yang menegaskan keutamaan ayat ini. Rasulullah SAW pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang ayat paling agung dalam Al-Qur’an hingga tiga kali, dan setiap kali Ubay menjawab dengan membacakan Ayat Kursi, “Allahu la ilaha illa huwal Hayyul Qayyum.” Rasulullah pun mendoakannya, “Semoga ilmumu menjadi ringan, wahai Abul Mundzir!”

Ustadz Yandi juga mengutip hadis dari Abu Hurairah dalam Shahih al-Bukhari, yang menganjurkan membaca Ayat Kursi sebelum tidur sebagai permohonan penjagaan dari Allah SWT dan perlindungan dari gangguan setan hingga pagi hari.
Mengurai Sifat-Sifat Keagungan Allah
Inti pembahasan Ustadz Yandi berpusat pada penjelasan sifat-sifat Allah yang termaktub dalam ayat agung ini. Beliau memaknai kata ‘al-Qayyum’ sebagai sifat Allah Maha Abadi, Berdiri Sendiri, yang terus hidup, mengawasi, dan mengurus seluruh makhluk-Nya tanpa bergantung pada sesuatu apa pun. “Segala sesuatu, termasuk langit dan bumi, hanya dapat tegak karena perintah-Nya, sebagaimana firman Allah dalam Surat ar-Rum ayat 25,” jelasnya.

Penceramah menekankan bahwa konsep tauhid adalah pesan utama Ayat Kursi. “Tidak ada satu pun makhluk, apalagi manusia, yang memiliki kuasa melebihi-Nya. Ilustrasinya sederhana: manusia butuh istirahat, kantuk, dan tidur. Sedangkan Allah, ‘la ta’khudzuhu sinatuw wa la naum’ (tidak mengantuk dan tidak tidur), yang berarti Dia selalu terjaga dan tidak pernah lalai sedikit pun,” papar Ustadz Yandi.

Lebih lanjut, keluasan ilmu Allah digambarkan dalam ayat ini dengan frasa “Dia mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka.” Ini menunjukkan kesempurnaan pengawasan Allah terhadap segala yang lahir dan batin, yang diketahui maupun yang tidak diketahui manusia.
Makna Hakiki ‘Kursi’ dan Refleksi bagi Manusia
Ustadz Yandi kemudian mengklarifikasi makna ‘Kursi’ yang sering disalahpahami secara fisik. “Makna ayat ini bukan tentang kursi atau ‘Arsy sebagai singgasana jasmani. Menurut penjelasan Ibnu ‘Abbas dan para mufassir seperti Ibnu Katsir, ‘Kursi’ di sini adalah kiasan atas ilmu Allah yang maha luas,” terangnya.

Beliau mengutip sebuah riwayat yang menggambarkan betapa besarnya ‘Arsy dibandingkan ‘Kursi’, dan betapa kecilnya langit serta bumi dibandingkan keduanya, bagaikan sebuah cincin besi yang dilemparkan di padang pasir yang luas. “Ini semua adalah metafora untuk membayangkan kebesaran, keluasan ilmu, dan kekuasaan Allah yang tak terbatas, yang mustahil dijangkau sepenuhnya oleh akal manusia,” tambahnya.

Pada penutup, Ustadz Yandi menyampaikan hikmah praktis dari pengkajian Ayat Kursi. “Ayat ini, selain memperkuat keimanan, juga berfungsi untuk melemahkan kesombongan manusia atas ilmu dan kekuasaan duniawi yang mereka miliki, yang sesungguhnya sangat terbatas. Di hadapan ilmu dan kekuasaan Allah yang mutlak, tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak tunduk, patuh, dan kembali kepada-Nya,” tutupnya dengan penuh hikmah.
Pengajian ditutup dengan doa bersama, mengharapkan agar pemahaman yang didapat dapat menguatkan ketakwaan dan kerendahan hati setiap jamaah dalam menjalani kehidupan.


Tulis Komentar pada kolom di bawah ini