Tarawih di Masjid Santun: Ustadz Upang Ibrahim Ajak Wujudkan Kesalehan Kolektif untuk Meraih Keberkahan

CIREBON, 20 Februari 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam keempat Ramadhan 1447 H, Jumat (20/2/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Upang Ibrahim, menyampaikan kultum yang menginspirasi dengan tema “Mewujudkan Kesalehan Kolektif untuk Meraih Keberkahan Allah” .

Jamaah yang hadir tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengupas tentang pentingnya membangun kesalehan tidak hanya secara individu, tetapi juga secara kolektif dalam keluarga, masyarakat, dan bangsa.


Janji Allah tentang Keberkahan bagi Orang Beriman

Ustadz Upang Ibrahim mengawali kultum dengan mengutip firman Allah dalam QS. Al-A’raf ayat 96:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan tegas menjanjikan keberkahan dari langit dan bumi bagi suatu negeri yang penduduknya beriman dan bertakwa. Ini adalah janji Allah yang tidak pernah diingkari. Maka, cita-cita kita bersama adalah mewujudkan negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik dan mendapat ampunan Allah),” papar Ustadz Upang.

Beliau menjelaskan bahwa cita-cita Muhammadiyah sejak awal adalah menginginkan Indonesia menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, sebuah negeri yang makmur, sejahtera, dan mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


Kesalehan Kolektif: Kunci Keberkahan

Memasuki inti pembahasan, Ustadz Upang menekankan bahwa keberkahan Allah tidak akan turun hanya dengan kesalehan individu semata, tetapi membutuhkan kesalehan kolektif. Adanya ketakwaan, keimanan, dan kesalehan yang dibangun bersama oleh seluruh elemen masyarakat.

“Allah tidak hanya melihat kesalehan seseorang secara pribadi, tetapi juga melihat bagaimana kesalehan itu terwujud dalam kehidupan bersama. Inilah yang disebut dengan kesalehan kolektif,” jelasnya.

Beliau memberikan contoh konkret dalam lingkup terkecil, yaitu keluarga. “Dalam sebuah keluarga, ayah, ibu, dan anak harus memiliki ketakwaan kolektif. Jika hanya ayah yang saleh, sementara ibu dan anak tidak, maka sulit bagi keluarga itu untuk meraih keberkahan secara utuh. Tetapi jika seluruh anggota keluarga bersama-sama membangun ketakwaan, insya Allah keberkahan akan turun dalam rumah tangga mereka.”


Tanggung Jawab Kepemimpinan dalam Membangun Kesalehan

Ustadz Upang kemudian mengingatkan hadis Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam tentang tanggung jawab kepemimpinan:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari & Muslim)

“Hadis ini mengajarkan bahwa setiap kita memiliki tanggung jawab. Ayah adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban. Ibu adalah pemimpin dalam rumah tangganya. Seorang pejabat adalah pemimpin bagi rakyatnya. Semua akan dimintai pertanggungjawaban. Maka, mari kita bangun kesalehan kolektif ini dengan kesadaran bahwa kita semua adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban,” ajaknya.

Beliau mencontohkan para pendiri organisasi Islam di Indonesia, termasuk para pendiri Muhammadiyah. “Mereka mampu menciptakan kesalehan kolektif sehingga diberikan keberkahan oleh Allah. Organisasi yang mereka dirikan terus eksis hingga sekarang, memberikan manfaat bagi jutaan umat. Inilah bukti keberkahan yang lahir dari kesalehan kolektif.”


Tujuh Golongan yang Mendapat Naungan Allah

Ustadz Upang juga mengingatkan hadis tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, salah satunya adalah pemimpin yang adil:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya: (1) pemimpin yang adil; (2) pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah; (3) seseorang yang hatinya terikat dengan masjid; (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu dan berpisah karena Allah; (5) seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’; (6) seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya; (7) seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu berlinang air matanya.” (HR. Bukhari & Muslim)

“Perhatikan, golongan pertama yang disebutkan adalah pemimpin yang adil. Ini menunjukkan betapa pentingnya peran pemimpin dalam membangun kesalehan kolektif. Seorang pemimpin yang adil akan membawa rakyatnya kepada kebaikan dan keberkahan,” jelas Ustadz Upang.


Ramadhan: Momentum Memperbaiki Diri

Di penghujung kultum, Ustadz Upang Ibrahim mengajak jamaah untuk memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri sendiri sebagai langkah awal membangun kesalehan kolektif.

“Ramadhan adalah bulan latihan. Mari kita perbaiki diri kita masing-masing. Perbaiki shalat kita, perbaiki puasa kita, perbaiki akhlak kita. Jika setiap individu saleh, insya Allah akan lahir keluarga yang saleh. Jika setiap keluarga saleh, akan lahir masyarakat yang saleh. Jika masyarakat saleh, akan lahir bangsa yang saleh, dan akhirnya kita akan meraih predikat baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang baik dan diridhai Allah,” pungkasnya.

Beliau juga mengingatkan bahwa perbaikan diri harus dimulai dari sekarang. “Jangan tunda-tunda. Mulai detik ini, perbaiki niat kita, perbaiki ibadah kita, perbaiki hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama manusia. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan memberikan keberkahan di dunia dan akhirat. Aamiin.”


Penutup: Semangat Berjamaah di Masjid Santun

Salat Tarawih malam kelima berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak antusias mengikuti setiap rangkaian ibadah hingga selesai. Suasana kebersamaan dan semangat berjamaah terlihat jelas di Masjid Santun, membuktikan bahwa Ramadhan benar-benar menjadi momentum untuk membangun kesalehan kolektif.

Dengan pencerahan dari Ustadz Upang Ibrahim, jamaah diajak untuk tidak hanya fokus pada kesalehan individual, tetapi juga berkontribusi dalam membangun kesalehan bersama demi meraih keberkahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, baik di dunia maupun di akhirat.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *