Tarawih Malam ke-16 di Masjid Santun: Ustadz Upang Ibrahim Paparkan Tiga Hal yang Disembunyikan Allah

CIREBON, 4 Maret 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-16 Ramadhan 1447 H, Rabu (4/3/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Upang Ibrahim, Amd.Farm., menyampaikan kultum yang menggugah kesadaran dengan tema “Tiga Hal yang Disembunyikan Allah” .

Jamaah yang memadati masjid tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengupas tentang hikmah di balik hal-hal yang Allah rahasiakan, serta bagaimana seharusnya seorang hamba menyikapinya.


1. Allah Menyembunyikan Ridho-Nya dalam Ketaatan Seorang Hamba

Ustadz Upang mengawali kultum dengan menjelaskan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala merindukan ketaatan dari hamba-hamba-Nya. Namun perlu dipahami, ketaatan yang Allah perintahkan sejatinya adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri.

“Secara yakin, kita harus percaya bahwa Allah mencatat setiap amal kebaikan untuk kebaikan kita sendiri. Kuantitas ibadah yang dianjurkan seperti puasa, zakat, dan berbagai amal saleh, justru mendatangkan kebaikan untuk kita. Allah tidak butuh ibadah kita, tetapi kitalah yang butuh kepada-Nya,” papar Ustadz Upang.

Beliau mengingatkan agar kita tidak terjebak dalam riya’, yaitu melakukan ibadah hanya untuk mendapatkan pengakuan manusia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ . الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ . الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

“Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat ria.” (QS. Al-Ma’un: 4-6)

“Jangan kita mengharapkan apapun kepada manusia. Bisa jadi apa yang kita kerjakan hanya untuk mendapatkan pengakuan manusia. Padahal Allah Maha Tahu. Walaupun kebaikan itu kecil menurut pandangan manusia, bisa jadi besar di mata Allah,” tegas Ustadz Upang.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda tentang keikhlasan:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)


2. Allah Menyembunyikan Kemarahan-Nya

Hal kedua yang disembunyikan Allah adalah kemarahan-Nya. Ustadz Upang menjelaskan bahwa Allah Maha Mengetahui setiap perbuatan hamba-Nya, sekecil apa pun, termasuk ketika seseorang mengambil hak orang lain.

“Jangan sekali-kali kita mengambil hak sekecil apapun yang bukan milik kita. Allah Maha Tahu. Mungkin hari ini kita bisa lolos dari pengawasan manusia, tapi tidak ada yang bisa lolos dari pengawasan Allah,” ujarnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ

“Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 188)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jauhilah kezaliman, karena kezaliman itu akan menjadi kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim)

“Allah menyembunyikan kemarahan-Nya di dunia, tapi pada hari kiamat nanti akan diperlihatkan. Maka berhati-hatilah,” pesan Ustadz Upang.


3. Allah Menyembunyikan Lailatul Qadar

Hal ketiga yang disembunyikan Allah adalah Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ustadz Upang menjelaskan bahwa kita harus mengimani keberadaan malam ini, meskipun waktu pastinya dirahasiakan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Qadr ayat 1-5:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ . تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ . سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 1-5)

Ustadz Upang memberikan penjelasan menarik tentang perbedaan penggunaan kata dalam Al-Qur’an terkait turunnya malaikat:

“Dalam QS. Al-Qadr, Allah menggunakan kata تَنَزَّلُ (tanazzalu) yang mengandung arti bahwa malaikat turun dibatasi waktu, yaitu hanya di bulan Ramadhan, khususnya pada malam Lailatul Qadar. Sementara dalam QS. Fussilat ayat 30, Allah menggunakan kata تَتَنَزَّلُ (tatanazzalu) yang berarti tidak dibatasi waktu kapan turunnya.”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Fussilat ayat 30:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fussilat: 30)

“Para malaikat turun kepada orang-orang yang istiqamah, kapan saja mereka membutuhkan ketenangan. Ini adalah rahmat yang tidak terbatas waktu,” jelas Ustadz Upang.


Hikmah Dirahasiakannya Lailatul Qadar

Ustadz Upang menjelaskan hikmah mengapa Allah menyembunyikan Lailatul Qadar. Dengan dirahasiakannya malam ini, umat Islam akan bersungguh-sungguh beribadah di sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan, tidak hanya pada malam tertentu.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari & Muslim)

“Kita diperintahkan untuk mencarinya. Ini menunjukkan bahwa kita harus bersungguh-sungguh beribadah di setiap malam, terutama di sepuluh malam terakhir. Jangan sampai kita hanya beribadah di malam tertentu lalu meninggalkan malam lainnya,” pesan Ustadz Upang.


Penutup: Memanfaatkan Sisa Ramadhan dengan Optimal

Menutup kultum, Ustadz Upang Ibrahim mengajak jamaah untuk memanfaatkan sisa Ramadhan dengan sebaik-baiknya, terutama sepuluh malam terakhir yang penuh kemuliaan.

“Marilah kita tingkatkan kualitas ibadah kita. Perbaiki niat, ikhlaskan hati, jangan mengambil hak orang lain, dan bersungguh-sungguh mencari Lailatul Qadar. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Aamiin,” pungkasnya.

Salat Tarawih malam ke-16 berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak mendapatkan pencerahan tentang tiga hal yang disembunyikan Allah, serta bagaimana seharusnya mereka menyikapi hal tersebut dengan meningkatkan kualitas iman dan ibadah.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *