CIREBON, 5 Maret 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-17 Ramadhan 1447 H, Kamis (5/3/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Drs. H. Otang Misbach, M.Si., menyampaikan kultum yang menyejukkan hati dengan tema “Kebahagiaan Orang Berpuasa” .
Jamaah tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengupas tentang dua kebahagiaan yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang menjalankan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan.

Ibadah Puasa: Antara Kewajiban dan Kebahagiaan
Ustadz Otang Misbach mengawali kultum dengan mengingatkan bahwa ibadah saum yang kita lakukan tidak hanya sekadar menuntaskan kewajiban sebagai seorang muslim. Lebih dari itu, di balik setiap rasa lapar dan dahaga yang kita tahan, terdapat kebahagiaan yang telah Allah janjikan, baik yang telah kita rasakan di dunia maupun yang akan datang di akhirat kelak.
“Puasa bukanlah ibadah yang membebani. Justru di dalamnya tersimpan kebahagiaan yang luar biasa. Ada kebahagiaan yang kita rasakan setiap hari saat berbuka, dan ada kebahagiaan yang jauh lebih besar yang menanti kita di akhirat,” papar Ustadz Otang.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
“Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan: kegembiraan ketika ia berbuka puasa, dan kegembiraan ketika ia bertemu dengan Tuhannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Kebahagiaan Pertama: Saat Berbuka Puasa
Memasuki pembahasan pertama, Ustadz Otang menjelaskan makna mendalam dari kebahagiaan saat berbuka puasa. Beliau menggambarkan momen ketika seorang muslim menanti datangnya adzan Maghrib dengan penuh harap, kemudian ketika adzan berkumandang, rasa bahagia memenuhi hatinya.
“Kebahagiaan kita menunggu adzan Maghrib, kemudian adzan datang berkumandang. Rasa bahagia memenuhi hati, lalu kita mengucapkan doa yang diajarkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam,” jelasnya.
Doa berbuka puasa yang diajarkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Telah hilang rasa dahaga, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala, insya Allah.” (HR. Abu Daud)
“Dalam doa ini, kita bersyukur karena telah berhasil menahan lapar dan dahaga seharian. Kita juga berharap pahala dari Allah atas kesabaran kita,” ujar Ustadz Otang.
Lebih dari sekadar melepas dahaga, kebahagiaan berbuka juga berasal dari keberhasilan menjaga diri dari hal-hal yang dapat mengurangi nilai puasa. Ustadz Otang mengingatkan bahwa orang yang berpuasa harus menjaga lisannya dari ucapan yang sia-sia.
“Bahkan mungkin ia bersabar dari gangguan orang lain. Ia menjaga ucapan agar tidak mengeluarkan kata-kata kotor, agar tidak mengurangi esensi nilai dari puasa ini. Semoga ibadah puasa menjadikan hati kita yang bersih, yang lunak karena Allah,” pesannya.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشَّرَبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ
“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu (sia-sia) dan rafats (kata-kata kotor).” (HR. Ibnu Majah)

Kebahagiaan Kedua: Surga Ar-Rayyan
Kebahagiaan kedua yang jauh lebih besar adalah saat bertemu dengan Allah di akhirat dan mendapatkan kehormatan masuk surga melalui pintu khusus yang bernama Ar-Rayyan . Pintu ini disediakan khusus bagi orang-orang yang rajin berpuasa.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُونَ؟ فَيَقُومُونَ، لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
“Sesungguhnya di surga ada pintu yang disebut Ar-Rayyan. Pada hari kiamat, orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu itu, tidak ada seorang pun selain mereka yang memasukinya. Dikatakan, ‘Di manakah orang-orang yang berpuasa?’ Maka mereka berdiri, tidak ada seorang pun selain mereka yang memasukinya. Apabila mereka telah masuk, pintu itu ditutup, dan tidak ada seorang pun yang masuk melaluinya.” (HR. Bukhari)
Ustadz Otang menjelaskan bahwa Ar-Rayyan adalah keistimewaan yang Allah berikan kepada orang-orang yang selalu menahan diri dan bersabar dalam menjalankan ibadah puasa.
“Setelah mereka bersabar, maka Allah menyiapkan surga ‘Adn bagi mereka. Surga tempat tinggal yang kekal, penuh kenikmatan yang tidak pernah terbayangkan oleh manusia,” jelasnya.
Sambutan Malaikat bagi Penghuni Surga
Ustadz Otang kemudian mengutip firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d ayat 23-24 yang menggambarkan sambutan para malaikat bagi penghuni surga:
جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ . سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
“(Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya. Para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan), ‘Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.’ Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 23-24)
“Bayangkan, setelah keluarga saleh masuk surga, para malaikat menyambut mereka dengan ucapan selamat. Mereka berkata, ‘Selamat atas kalian, wahai penghuni surga. Dulu kalian bersabar dalam ketaatan, bersabar dalam menjauhi maksiat, dan bersabar menghadapi cobaan. Sekarang terimalah tempat ini dengan sebaik-baiknya dan nikmatilah.’ Inilah kebahagiaan yang hakiki,” papar Ustadz Otang dengan penuh haru.
Kesabaran: Kunci Meraih Kebahagiaan
Ustadz Otang menegaskan bahwa Allah akan selalu menyediakan tempat yang mulia bagi orang-orang yang bersabar. Kesabaran inilah yang menjadi kunci meraih kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
“Kesabaran itu ada tiga macam: sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar menghadapi cobaan. Puasa melatih kita untuk memiliki ketiga jenis kesabaran ini,” jelas Ustadz Otang.
Beliau mengingatkan bahwa perasaan tidak baik seperti marah, dengki, dan iri hati harus diperangi dengan kesabaran. Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Penutup: Menjemput Kebahagiaan Hakiki
Menutup kultum, Ustadz Drs. H. Otang Misbach, M.Si., mengajak jamaah untuk terus meningkatkan kualitas puasa dan kesabaran di sisa hari Ramadhan.
“Marilah kita jadikan sisa Ramadhan ini sebagai momentum untuk meraih dua kebahagiaan yang dijanjikan Allah. Kebahagiaan saat berbuka dengan hati yang bersyukur, dan kebahagiaan saat bertemu Allah dengan mendapatkan pintu Ar-Rayyan dan surga ‘Adn. Perbanyak kesabaran, jaga lisan, dan perbanyak amal saleh. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Aamiin,” pungkasnya.
Salat Tarawih malam ke-17 berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan mendapatkan pencerahan tentang dua kebahagiaan yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang berpuasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan.


Tinggalkan Balasan