Tarawih Malam ke-23 di Masjid Santun: Ustadz Agus Wahid Paparkan Tiga Pilar Takwa; Tawadhu, Qana’ah, dan Wara’

CIREBON, 12 Maret 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-23 Ramadhan 1447 H, Kamis (12/3/2026). Memasuki sepuluh malam terakhir, semangat ibadah jamaah semakin meningkat. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Agus Wahid, S.Ag., menyampaikan kultum yang sangat mendalam dengan tema “Takwa: Tawadhu, Qana’ah, dan Wara’ sebagai Indikator Keberhasilan Puasa” .

Jamaah yang memadati masjid hingga halaman tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengupas tentang tiga pilar penting dalam membangun ketakwaan setelah sebulan berlatih di madrasah Ramadhan.


Takwa: Tujuan Akhir Ibadah Puasa

Ustadz Agus Wahid mengawali kultum dengan mengingatkan kembali tujuan utama ibadah puasa Ramadhan, yaitu meraih derajat takwa. Beliau mengutip firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

“Selama sebulan penuh kita dilatih menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Kini, di penghujung Ramadhan, saatnya kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah puasa ini mengantarkan kita pada ketakwaan yang hakiki?” papar Ustadz Agus.

Beliau kemudian menjelaskan bahwa takwa bukan sekadar klaim, tetapi harus diwujudkan dalam tiga sikap utama: tawadhu (rendah hati), qana’ah (menerima dengan syukur), dan wara’ (hati-hati terhadap dosa).


1. Tawadhu (Rendah Hati), Lawan dari Takabur

Ustadz Agus menjelaskan bahwa salah satu indikator keberhasilan puasa adalah lahirnya sikap tawadhu dalam diri seorang muslim. Tawadhu adalah lawan dari takabur (sombong).

“Orang yang sombong adalah mereka yang merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Juga, orang yang diberi nasihat tetapi menolaknya karena merasa paling benar, itu juga termasuk sombong. Maka jadilah orang yang tawadhu, rendah hati,” tegasnya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” (HR. Muslim)

Allah Shalallahu Alaihi Wasallam juga berfirman:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

“Puasa melatih kita untuk merasakan lapar seperti orang miskin. Seharusnya ini menumbuhkan kerendahan hati, bukan sebaliknya,” tambah Ustadz Agus.


2. Qana’ah: Menerima dengan Syukur, Tidak Menggerutu

Pilar kedua adalah qana’ah , yaitu sikap menerima dan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, serta merasa cukup. Orang yang qana’ah tidak sibuk membandingkan rezekinya dengan orang lain, yang hanya akan melahirkan keluh kesah dan rasa tidak bersyukur.

“Sering kali kita tidak bersyukur karena membandingkan rezeki dan harta kita dengan orang lain. Akibatnya, kita menggerutu dan merasa kurang. Padahal, qana’ah adalah kunci kebahagiaan,” jelas Ustadz Agus.

Allah Shalallahu Alaihi Wasallam berfirman:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَٰكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari & Muslim)

“Orang yang qana’ah jiwanya kaya, hatinya tenang, dan selalu bersyukur. Inilah buah dari puasa yang berkualitas,” pesan Ustadz Agus.


3. Wara’: Hati-Hati terhadap Dosa Besar dan Dosa Kecil

Pilar ketiga yang tidak kalah penting adalah wara’ , yaitu sikap hati-hati dan menjauhi segala hal yang diharamkan, baik dosa besar maupun dosa kecil. Ustadz Agus mengingatkan agar jangan pernah menyepelekan dosa kecil.

“Jangan sepelekan dosa kecil. Bisa jadi dosa kecil yang terus-menerus dilakukan akan menjadi dosa yang sangat besar di sisi Allah. Seperti batu-batu kecil yang jika terkumpul bisa menjadi gunung yang besar,” jelasnya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَقَوْمٍ نَزَلُوا بِبَطْنِ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، حَتَّى جَمَعُوا مَا أَنْضَجُوا بِهِ خُبْزَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ

“Jauhilah dosa-dosa kecil. Sesungguhnya perumpamaan dosa-dosa kecil bagaikan suatu kaum yang singgah di sebuah lembah, lalu datang seorang dengan membawa sebatang kayu, dan yang lain juga datang dengan membawa sebatang kayu, hingga mereka dapat mengumpulkan kayu yang cukup untuk memasak roti mereka. Sesungguhnya dosa-dosa kecil, apabila terus-menerus dilakukan, akan membinasakan pelakunya.” (HR. Ahmad)


Kisah Inspiratif: Raja yang Jujur dan Amanah

Untuk mengilustrasikan sikap wara’ dan kejujuran, Ustadz Agus membagikan sebuah kisah inspiratif:

“Ada seorang raja yang meninggalkan seluruh hartanya dan menyamar menjadi pekerja biasa. Ia bekerja di ladang milik seorang kaya. Suatu hari, pemilik kebun datang dan berkata, ‘Tolong ambilkan aku buah manggis yang paling manis.’ Pekerja itu pun memetikkan buah. Namun ketika dimakan, ternyata buahnya pahit. Pemilik kebun marah. ‘Ambilkan lagi yang manis!’ Tetapi tetap saja pahit. Pemilik kebun semakin marah, ‘Kamu sudah bekerja puluhan tahun di sini, tetapi tidak bisa membedakan mana manggis manis dan mana yang pahit?’”

Pekerja itu menjawab dengan tenang, ‘Saya di sini bekerja menjaga kebun, bukan memakan buahnya. Saya tidak pernah mencicipi satu pun buah dari kebun ini.’ Pemilik kebun terkejut. Ternyata, selama bertahun-tahun, orang yang menjaga kebunnya itu tidak pernah mengambil hak pemilik meskipun hanya sebiji buah. Ia kemudian sadar bahwa pekerja itu bukanlah orang biasa.”

Ustadz Agus menjelaskan hikmah dari kisah ini: “Sikap wara’ dan kejujuran seperti inilah yang harus kita miliki. Menahan diri dari hal-hal yang bukan hak kita, meskipun kecil dan tampak sepele. Inilah buah dari puasa yang sesungguhnya.”

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari)


Penutup: Alif Lam Bengkok? Tanda Tawadhu, Qana’ah, dan Wara’

Di akhir kultum, Ustadz Agus menyampaikan ungkapan yang sedikit humoris namun penuh makna: “Alif lam bengkok.” Maksudnya, jika ketiga sifat tawadhu, qana’ah, dan wara’ ini telah melekat pada diri kita semua, maka kita telah berhasil dalam puasa Ramadhan ini.

“Sifat tawadhu, qana’ah, dan wara’ itulah yang akan membengkokkan ‘alif’ kesombongan kita, meluruskan hati kita, dan menjadikan kita hamba yang benar-benar bertakwa. Jika ketiga sifat ini ada pada diri kita, maka Ramadhan kita tidak sia-sia. Insya Allah, kita termasuk orang-orang yang meraih predikat takwa,” pungkasnya.

Menutup kultum, Ustadz Agus memanjatkan doa:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Salat Tarawih malam ke-23 berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan mendapatkan pencerahan tentang tiga pilar takwa yang harus diwujudkan sebagai buah dari ibadah puasa Ramadhan.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Satu tanggapan untuk “Tarawih Malam ke-23 di Masjid Santun: Ustadz Agus Wahid Paparkan Tiga Pilar Takwa; Tawadhu, Qana’ah, dan Wara’”

  1. Avatar Erli
    Erli

    Laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzdzolimin