Tarawih Malam Kesembilan di Masjid Santun: Ustadz H. Dedi Ahyadi Paparkan Tingkatan Iman dan Kaitannya dengan Puasa

CIREBON, 25 Februari 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam kesembilan Ramadhan 1447 H, Rabu (25/2/2026). Bertindak sebagai penceramah, Ustadz H. Dedi Ahyadi menyampaikan kultum yang mendalam dengan tema “Tingkatan Iman dan Kaitannya dengan Puasa Ramadhan” .

Jamaah tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengupas tentang hakikat iman, tingkatan-tingkatannya, serta bagaimana puasa dapat menjadi sarana menguatkan keimanan.


Puasa Diwajibkan bagi Orang yang Beriman

Ustadz Dedi Ahyadi mengawali kultum dengan mengingatkan bahwa orang yang diperintahkan untuk melaksanakan ibadah puasa adalah orang-orang yang beriman. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

“Perhatikanlah, Allah memanggil orang-orang yang beriman ketika memerintahkan puasa. Ini menunjukkan bahwa puasa adalah ibadah yang terkait erat dengan keimanan. Semakin kuat iman seseorang, semakin berkualitas puasanya,” papar Ustadz Dedi.


Makna Iman: Tiga Unsur Utama

Memasuki pembahasan inti, Ustadz Dedi menjelaskan makna iman menurut para ulama yang terdiri dari tiga unsur utama:

1. Pembenaran dalam Hati (Tashdiq bil Qalb)

“Iman yang pertama adalah pembenaran dalam hati. Hati harus menerima dan membenarkan semua ajaran yang dibawa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Ini adalah fondasi utama,” jelasnya.

2. Diucapkan dengan Lisan (Iqrar bil Lisan)

Setelah hati membenarkan, iman harus diucapkan dengan lisan melalui syahadat. “Inilah yang membedakan antara orang yang beriman secara batin dengan orang yang menampakkan keimanannya,” tambah Ustadz Dedi.

3. Dilakukan dengan Amalan (‘Amal bil Arkan)

Unsur ketiga adalah mewujudkan iman dalam bentuk amalan perbuatan. “Iman bukan hanya keyakinan abstrak, tetapi harus dibuktikan dengan amal saleh, termasuk melaksanakan puasa Ramadhan,” tegasnya.

Beliau mengutip firman Allah tentang ciri orang beriman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 15)


Iman dan Islam: Tingkatan yang Berbeda

Ustadz Dedi kemudian menjelaskan perbedaan antara iman dan Islam dengan mengutip kisah dalam Al-Qur’an tentang orang Arab Badui:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

“Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (kepada mereka), ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu.” (QS. Al-Hujurat: 14)

“Dalam ayat ini, Allah mengajarkan bahwa iman adalah tingkatan yang lebih tinggi dari sekadar Islam. Islam adalah penyerahan diri secara lahir, sementara iman adalah keyakinan yang meresap dalam hati. Proses keimanan adalah perjalanan panjang. Biasanya seseorang mempelajari Islam terlebih dahulu, kemudian setelah ilmunya sampai, barulah iman masuk ke dalam hatinya,” jelas Ustadz Dedi.


Unsur yang Menguatkan Iman

Ustadz Dedi menjelaskan tiga unsur yang dapat menguatkan keimanan seseorang:

1. Ilmu

Ilmu adalah fondasi iman. Semakin dalam ilmu seseorang tentang Allah, tentang agama, dan tentang ciptaan-Nya, semakin kuat imannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama (orang-orang yang berilmu).” (QS. Fathir: 28)

2. Senantiasa Berdzikir dan Berpikir

Iman akan kuat jika seseorang senantiasa mengingat Allah (berdzikir) dan memikirkan ciptaan-Nya (berpikir). Allah memuji orang-orang yang senantiasa mengingat-Nya dalam berbagai keadaan:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.” (QS. Ali ‘Imran: 191)

3. Beramal Saleh

Amal saleh akan semakin menguatkan iman. Semakin banyak seseorang beribadah, semakin kokoh keimanannya. Di bulan Ramadhan, amal saleh seperti puasa, tarawih, dan sedekah menjadi sarana efektif untuk menguatkan iman.


Empat Tingkatan Iman Menurut Imam An-Nawawi

Ustadz Dedi kemudian memaparkan tingkatan iman sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi:

1. Iman Taqlid (Ikut-ikutan)

“Iman pada tingkatan ini adalah iman seseorang karena ikut-ikutan orang tua atau lingkungannya, tanpa dilandasi ilmu dan pemahaman yang mendalam. Ini adalah iman yang lemah dan mudah goyah,” jelas Ustadz Dedi.

2. Iman yang Dilandasi Ilmu, tetapi Belum Yakin

Pada tingkatan ini, seseorang sudah memiliki ilmu tentang agama, namun keyakinannya belum kuat. Ia mengetahui kebenaran, tetapi masih diliputi keraguan.

3. Iman yang Sangat Kuat

Pada tingkatan ini, iman telah meresap kuat dalam hati. Seseorang meyakini kebenaran dengan penuh keyakinan, tanpa keraguan sedikit pun.

4. Iman Haqqul Yakin (Tingkat Tertinggi)

“Ini adalah tingkatan iman yang paling tinggi, yaitu keyakinan yang mencapai puncaknya, seperti seseorang yang melihat sesuatu dengan mata kepalanya sendiri. Iman pada tingkatan ini tidak tergoyahkan oleh apa pun,” papar Ustadz Dedi.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ وُقِفُوا عَلَىٰ رَبِّهِمْ ۚ قَالَ أَلَيْسَ هَٰذَا بِالْحَقِّ ۚ قَالُوا بَلَىٰ وَرَبِّنَا

“Dan seandainya engkau melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya, Dia berfirman, ‘Bukankah ini benar?’ Mereka menjawab, ‘Sungguh benar, demi Tuhan kami.’” (QS. Al-An’am: 30)


Tanda-Tanda Orang Beriman

Untuk mengetahui tingkat keimanan seseorang, Allah akan mengujinya. Ustadz Dedi mengutip surat Al-Anfal ayat 2 yang menjelaskan ciri-ciri orang beriman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)

Ustadz Dedi menjelaskan tiga ciri orang beriman berdasarkan ayat ini:

1. Bergetar Hati ketika Mendengar Nama Allah

“Jika hati seseorang benar-benar beriman, maka ketika mendengar nama Allah disebut, hatinya akan bergetar, baik karena takut, cinta, atau rindu kepada-Nya. Ini bukan ketakutan yang negatif, tetapi getaran hati yang lahir dari pengagungan,” jelasnya.

2. Iman Bertambah ketika Mendengar Ayat-ayat Al-Qur’an

Ciri kedua adalah iman yang terus bertambah ketika mendengar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Semakin sering mendengar dan merenungkan Al-Qur’an, semakin kuat keimanannya.

“Di bulan Ramadhan ini, perbanyaklah membaca dan mendengarkan Al-Qur’an. Tadarus adalah salah satu cara efektif untuk meningkatkan keimanan,” ajak Ustadz Dedi.

3. Hanya kepada Allah Bertawakal

Ciri ketiga adalah tawakal, yaitu berserah diri hanya kepada Allah setelah melakukan ikhtiar maksimal. Orang yang beriman tidak akan bergantung kepada makhluk, tetapi hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


Penutup: Menguatkan Iman di Bulan Ramadhan

Menutup kultum, Ustadz H. Dedi Ahyadi mengajak jamaah untuk memanfaatkan sisa Ramadhan guna menguatkan keimanan.

“Ramadhan adalah madrasah iman. Mari kita tingkatkan ilmu kita, perbanyak dzikir dan tafakur, serta perbanyak amal saleh. Semoga setelah Ramadhan, iman kita naik ke tingkat yang lebih tinggi, mendekati haqqul yakin. Aamiin,” pungkasnya.

Salat Tarawih malam kesembilan berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan mendapatkan pencerahan tentang hakikat iman serta pentingnya terus meningkatkannya, terutama di bulan suci Ramadhan.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *