Tarawih Malam Ketiga di Masjid Santun: Ustadz Ali Mahfudz Urai Kegelisahan Manusia dan Jaminan Allah di Bulan Ramadhan

CIREBON, 19 Februari 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ketiga Ramadhan 1447 H, Kamis (19/2/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon, Ustadz H. Ali Mahfudz, menyampaikan kultum yang menyentuh relung hati dengan tema “Kegelisahan Manusia Akan Dunia dan Jaminan Allah”.

Jamaah yang hadir tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengupas tentang berbagai kegelisahan hidup manusia—rasa khawatir akan masa depan, ketakutan akan kematian, dan kecemasan akan rezeki—serta bagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan jaminan dan ketenangan bagi hamba-Nya yang beriman.


Manusia dan Kegelisahan Hidup

Ustadz Ali Mahfudz mengawali kultum dengan menggambarkan kondisi manusia yang selalu diliputi rasa khawatir dan gelisah. “Hidup di dunia ini penuh dengan rasa khawatir akan masa depan. Khawatir tentang rezeki, khawatir tentang kesehatan, khawatir tentang keluarga, khawatir tentang karier, dan berbagai kekhawatiran lainnya. Inilah fitrah manusia yang memang diciptakan dalam keadaan lemah dan serba terbatas,” paparnya.

Beliau mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menggambarkan sifat dasar manusia:

خُلِقَ الْإِنسَانُ مِنْ عَجَلٍ ۚ سَأُرِيكُمْ آيَاتِي فَلَا تَسْتَعْجِلُونِ

“Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadanya tanda-tanda (kekuasaan)-Ku. Maka janganlah kamu minta tergesa-gesa.” (QS. Al-Anbiya’: 37)

“Manusia diciptakan dengan sifat tergesa-gesa, suka khawatir, dan gelisah. Namun Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Tahu memberikan petunjuk dan jaminan bagi hamba-Nya yang beriman,” jelas Ustadz Ali.


Setiap Jiwa Akan Merasakan Kematian

Memasuki inti pembahasan, Ustadz Ali Mahfudz mengingatkan bahwa salah satu sumber kegelisahan terbesar manusia adalah kematian. Namun, kematian adalah kepastian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Beliau mengutip beberapa ayat Al-Qur’an yang menegaskan hal ini:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Beliau juga mengutip ayat lain yang senada:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 35)

Dan firman Allah dalam QS. Al-‘Ankabut ayat 57:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati, kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al-‘Ankabut: 57)

“Perhatikanlah, jamaah sekalian, Allah mengulang-ulang pernyataan ini dalam Al-Qur’an. Ini menunjukkan betapa pentingnya kita menyadari bahwa kematian adalah kepastian. Tidak ada seorang pun yang bisa lari darinya. Maka, persiapkanlah bekal terbaik untuk menghadapinya,” tegas Ustadz Ali.


Ramadhan: Momentum Persiapan Menghadapi Kematian

Ustadz Ali Mahfudz kemudian mengaitkan tema ini dengan bulan Ramadhan. Menurutnya, Ramadhan adalah bulan yang sangat tepat untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian dan kehidupan setelahnya.

“Di bulan Ramadhan ini, kita dilatih untuk meninggalkan kesenangan duniawi—makan, minum, dan syahwat—demi meraih ridha Allah. Ini adalah latihan yang sangat baik untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian, di mana kita harus meninggalkan segalanya,” jelasnya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian).” (HR. Tirmidzi)

“Ramadhan mengajarkan kita untuk tidak terlalu terikat pada dunia. Dengan berpuasa, kita merasakan bagaimana rasanya lapar dan haus, mengingatkan kita pada kondisi orang-orang yang kekurangan, juga mengingatkan kita pada keadaan di alam kubur nanti,” tambahnya.


Jaminan Allah bagi Orang Beriman

Di tengah berbagai kegelisahan manusia, Ustadz Ali mengingatkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan jaminan dan ketenangan bagi hamba-Nya yang beriman. Beliau mengutip firman Allah:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

“Kegelisahan dan kekhawatiran manusia hanya bisa diobati dengan mengingat Allah. Semakin kita dekat dengan Allah, semakin tenang hati kita. Semakin kita jauh dari Allah, semakin gelisah hidup kita,” papar Ustadz Ali.

Beliau juga mengutip janji Allah tentang rezeki:

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6)

“Jika Allah menjamin rezeki binatang melata yang tidak punya akal, apalagi manusia yang dimuliakan-Nya. Maka janganlah kita terlalu khawatir tentang rezeki. Bertakwalah kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka,” pesannya.


Tiga Bekal Menghadapi Kematian

Di penghujung kultum, Ustadz Ali Mahfudz memberikan tiga bekal yang harus dipersiapkan oleh setiap muslim dalam menghadapi kematian, terutama di bulan Ramadhan yang mulia ini:

1. Memperbanyak Amal Saleh

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

“Perbanyaklah amal jariyah di bulan Ramadhan ini. Sedekah, infak, wakaf, dan amalan-amalan yang pahalanya terus mengalir meskipun kita telah tiada,” ajak Ustadz Ali.

2. Memperbaiki Kualitas Ibadah

Jangan hanya mengejar kuantitas, tetapi juga kualitas. Shalat yang khusyuk, puasa yang tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa.

3. Memperbanyak Istigfar dan Taubat

Ramadhan adalah bulan pengampunan. Perbanyaklah istigfar dan bertaubat dengan sungguh-sungguh agar kita meninggal dalam keadaan husnul khatimah.


Penutup: Ramadhan, Bulan Menenangkan Jiwa

Menutup kultum, Ustadz Ali Mahfudz mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai sarana menenangkan jiwa dan mempersiapkan bekal terbaik untuk akhirat.

“Jangan biarkan kegelisahan dunia menguasai hati kita. Manfaatkan Ramadhan ini untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak ibadah, dan mempersiapkan bekal menghadapi kematian. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang beruntung, dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga-Nya yang penuh kenikmatan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin,” pungkasnya.

Salat Tarawih malam ketiga berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan terharu setelah mendapatkan pencerahan tentang hakikat kehidupan dan kematian, serta pentingnya memanfaatkan Ramadhan sebagai momentum persiapan menghadapi hari akhir.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Satu tanggapan untuk “Tarawih Malam Ketiga di Masjid Santun: Ustadz Ali Mahfudz Urai Kegelisahan Manusia dan Jaminan Allah di Bulan Ramadhan”

  1. Avatar Yandi Heryandi
    Yandi Heryandi

    Semoga kita diwafatkan oleh Allah dalam keadaan Husnul khatimah. Aamiin