CIREBON, 1 Maret 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ketigabelas Ramadhan 1447 H, Ahad malam Senin (1/3/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz apt. Didin Ahidin, M.Farm., menyampaikan kultum yang mendalam dengan tema “Puasa Membentuk Pribadi Bertakwa” .
Jamaah tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengupas tentang hakikat takwa melalui percakapan inspiratif antara dua sahabat agung, Umar bin Khattab dan Ubay bin Ka’ab.

Tujuan Akhir Puasa: Meraih Derajat Takwa
Ustadz Didin Ahidin mengawali kultum dengan mengingatkan bahwa ibadah puasa yang Allah perintahkan kepada kita memiliki tujuan akhir yang sangat mulia, yaitu membentuk pribadi-pribadi yang bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Beliau mengutip firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
“Perhatikanlah, jamaah sekalian, Allah Subhanahu Wa Ta’ala jj JB hhhdengan tegas menyebutkan bahwa tujuan akhir dari ibadah puasa adalah la’allakum tattakun—agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa. Inilah goal, inilah target yang ingin kita capai setelah sebulan penuh berpuasa,” papar Ustadz Didin.

Makna Takwa: Percakapan Umar dan Ubay
Memasuki inti pembahasan, Ustadz Didin menjelaskan apa yang dimaksud dengan takwa. Secara sederhana, takwa adalah melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Namun, beliau kemudian menyampaikan sebuah percakapan inspiratif antara dua sahabat besar, Umar bin Khattab dan Ubay bin Ka’ab, yang memberikan gambaran sangat jelas tentang hakikat takwa.
“Diriwayatkan bahwa suatu ketika, Umar bin Khattab bertanya kepada Ubay bin Ka’ab, ‘Wahai Ubay, apa yang dimaksud dengan takwa?’ Lalu Ubay menjawab dengan sebuah pertanyaan balik, ‘Wahai Umar, pernahkah engkau melewati suatu jalan yang penuh onak dan duri?’ Umar menjawab, ‘Tentu saja pernah.’ Ubay bertanya lagi, ‘Apa yang engkau lakukan ketika melewati jalan itu?’ Umar menjawab, ‘Tentu saya akan berhati-hati, saya akan menyingkirkan duri itu, saya akan melangkah dengan waspada, saya akan menghindari jalan itu jika bisa.’ Maka Ubay berkata, ‘Itulah takwa.’”
Dari percakapan ini, Ustadz Didin mengambil pelajaran berharga:
“Jadi, takwa adalah sikap hati-hati dalam menjalani kehidupan. Kita harus waspada, jangan sampai kita tertusuk duri-duri maksiat. Kita harus patuh kepada aturan-aturan Allah, kita harus selalu mengecek apakah langkah kita sesuai dengan ketentuan Allah atau tidak. Inilah makna takwa yang sesungguhnya.”

Puasa Melatih Ketaatan kepada Aturan Allah
Ustadz Didin menjelaskan bahwa puasa Ramadhan adalah sarana latihan yang sangat efektif untuk menumbuhkan sikap takwa dalam diri seorang muslim.
“Ketika kita berpuasa, kita tidak berani makan dan minum di siang hari, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat kita. Mengapa? Karena kita tahu bahwa Allah melihat kita. Ini adalah latihan ketaatan yang luar biasa. Puasa melatih kita untuk taat kepada aturan-aturan Allah, bahkan dalam hal-hal yang paling privat sekalipun,” jelasnya.
Beliau mengutip hadits qudsi tentang keistimewaan puasa:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.’” (HR. Muslim)
Puasa Membentuk Ibadah Menjadi Ihsan
Lebih lanjut, Ustadz Didin menjelaskan bahwa puasa tidak hanya melatih ketaatan, tetapi juga membentuk kualitas ibadah kita menjadi ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat-Nya.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
الْإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Bukhari & Muslim)
“Puasa mengajarkan kita untuk mencapai derajat ihsan ini. Ketika kita berpuasa, kita tidak makan dan minum meskipun sendirian di ruang tertutup. Ini karena kita yakin bahwa Allah melihat kita. Keyakinan inilah yang harus kita bawa dalam setiap aspek kehidupan kita,” tegas Ustadz Didin.
Ciri Orang Bertakwa: Takut kepada Allah dalam Segala Situasi
Ustadz Didin kemudian menjelaskan ciri utama orang yang bertakwa, yaitu memiliki rasa takut kepada Allah dalam segala situasi, baik saat sendiri maupun di hadapan orang banyak.
“Orang yang bertakwa selalu takut kepada Allah. Ia takut berbuat curang, takut berbuat zalim, takut melanggar aturan, karena ia yakin bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengawasi di manapun kita berada. Ia sadar bahwa tidak ada satu pun gerakan yang luput dari pengawasan Allah,” paparnya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir: 19)
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik yang akan menghapusnya, serta pergauilah manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. Tirmidzi)
Penutup: Menjadi Pribadi Bertakwa melalui Puasa
Menutup kultum, Ustadz apt. Didin Ahidin, M.Farm., mengajak jamaah untuk menjadikan sisa Ramadhan sebagai momentum meningkatkan kualitas ketakwaan.
“Mari kita evaluasi diri, sudahkah puasa kita membentuk pribadi yang bertakwa? Sudahkah kita memiliki kehati-hatian seperti Umar ketika melewati jalan penuh duri? Sudahkah kita mencapai derajat ihsan, merasa diawasi Allah dalam setiap langkah? Jika belum, masih ada waktu untuk memperbaiki. Mari kita tingkatkan kualitas ibadah kita, perbanyak istigfar, dan perbanyak amal saleh. Semoga Allah menerima puasa kita dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Aamiin,” pungkasnya.
Salat Tarawih malam ketigabelas berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan mendapatkan pencerahan tentang hakikat takwa melalui percakapan indah antara dua sahabat agung, serta bagaimana puasa membentuk mereka menjadi pribadi yang bertakwa.


Tinggalkan Balasan