UMC Perkuat Perencanaan Strategis dengan Sinergi Spiritual dan Nilai Keislaman

KETAPANG BANYUWANGI – Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas perencanaan strategis dan pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM). Komitmen ini diwujudkan dengan menghadirkan pembicara kompeten, Drs. H. Jamjam Erawan, MAP., Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, dalam acara yang diselenggarakan pada Rabu, 19 November 2025 di Ketapang, Banyuwangi.

Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut tidak hanya berfokus pada aspek teknis operasional, tetapi juga memperkuat fondasi spiritualitas dan makna kerja bagi seluruh civitas akademika UMC.

Tamasya sebagai Implementasi Syariat Islam

Dalam ceramahnya yang bertema “Tamasya dalam Perspektif Islam”, Ustadz Jamjam Erawan mengangkat konsep rekreasi yang sering dipandang kurang penting menjadi suatu aktivitas yang penuh makna spiritual. Beliau menekankan bahwa tamasya bukan hanya rekreasi fisik, melainkan juga media untuk refleksi dan tadabbur (perenungan mendalam) terhadap ciptaan Allah SWT.

“Perjalanan kita melihat alam semesta ini seharusnya mengantarkan kita pada pengakuan akan kebesaran Sang Pencipta, bukan sekadar menikmati pemandangan,” ujarnya.

Secara gamblang, Ustadz Jamjam menguraikan landasan Al-Qur’an tentang anjuran untuk melakukan perjalanan, di antaranya:

  1. QS. Al-Mulk ayat 15: “Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” Ayat ini, jelasnya, menegaskan bahwa menjelajahi bumi adalah bentuk dari memanfaatkan kemudahan yang Allah berikan sekaligus sarana mencari rezeki dan mengingat akhirat.
  2. QS. Al-Jumu’ah ayat 10: “Apabila salat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” Ayat ini menghubungkan secara langsung antara kewajiban spiritual (shalat) dengan aktivitas duniawi, termasuk melakukan perjalanan untuk mencari karunia-Nya.
  3. QS. Ali Imran ayat 137 dan QS. Ar-Rum ayat 9 & 42: Ayat-ayat ini mendorong umat Islam untuk melakukan safar guna menelusuri jejak sejarah dan mengambil ibrah (pelajaran) dari kehancuran umat-umat terdahulu yang mendustakan ayat-ayat Allah.

Dengan demikian, tamasya dalam Islam memiliki dimensi ganda: sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah dan sebagai media edukasi untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan.

“Bekerja Bahagia” di UMC: Menginternalisasi Lima Nilai Utama

Tidak hanya membahas tamasya, Ustadz Jamjam juga memberikan motivasi dengan menyampaikan lima prinsip kerja yang harus dipegang teguh setiap pegawai UMC untuk menciptakan ekosistem “Bekerja Bahagia”. Kelima prinsip tersebut adalah:

  1. Rahmat: Memandang pekerjaan di UMC sebagai karunia (rahmat) dari Allah. Wujud syukur atas karunia ini adalah dengan menunjukkan kinerja terbaik dan memberikan manfaat sebesar-besarnya.
  2. Amanah: Setiap posisi dan tugas yang diemban adalah amanah (kepercayaan) dari Allah dan lembaga. Nilai ini menuntut kejujuran, integritas, dan profesionalisme dalam pelaksanaannya.
  3. Ibadah: Mengubah paradigma kerja dari sekadar rutinitas duniawi menjadi sebuah ibadah yang bernilai pahala di sisi Allah, dengan syarat dilandasi niat yang ikhlas.
  4. Dakwah: Lingkungan kerja adalah ladang dakwah. Setiap interaksi, sikap, dan kinerja yang baik merupakan bentuk dakwah bil hal (dakwah melalui perbuatan) yang dapat mengajak pada kebaikan.
  5. Ta’limiyah: Memaknai setiap proses kerja sebagai media pembelajaran. Tantangan dan masalah yang dihadapi dipandang sebagai pelajaran berharga untuk pengembangan diri dan kelembagaan.

Enjoy your life. Bahagiakan diri dengan memahami makna kerja sebagai jalan menuju ridha Allah,” pesan Ustadz Jamjam menutup sesi motivasinya, mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati lahir ketika kerja diniatkan dan dijalankan sebagai bentuk penghambaan kepada Sang Khaliq.

Membangun Sinergi Strategis dan Spiritualitas Kelembagaan

Kegiatan RKAT UMC ini berhasil menciptakan harmoni antara perencanaan teknis yang matang dan penguatan ruh spiritual keislaman. Seluruh peserta menyambut antusias dan menyatakan kesiapan untuk bersama-sama membangun UMC yang unggul, islami, dan berkemajuan.

Dengan semangat sinergi dan fondasi nilai-nilai keislaman yang kokoh, UMC terus melangkah tegas untuk menciptakan ekosistem kerja yang sehat, berkinerja tinggi, dan selalu dilandasi iman. UMC, bekerja dengan hati, berkarya untuk umat.

Komentar (Tanggapan)

Tulis Komentar pada kolom di bawah ini

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.
Ruas (kotak) yang wajib diisi ditandai *