CIREBON, 1 Maret 2026 – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Ad-Din Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMADA) di Kelurahan Kalitanjung, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon pada Ahad malam (1/3/2026). Ratusan jamaah memadati masjid untuk melaksanakan salat Isya dan Tarawih berjamaah sekaligus meresapi tausiyah malam ke-13 Ramadhan 1447 H.
Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Harjamukti, Ustadz Yandi Heryandi, M.Pd., memimpin jalannya ibadah dengan bacaan yang tartil dan penuh penghayatan. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan tema kultum yang mendalam, yakni “Empat Golongan yang Dirindukan Surga”, mengajak jamaah untuk merenungkan hakikat amalan di bulan suci.

Surga: Tempat Terindah yang Dirindukan
Mengawali tausiyahnya, Ustadz Yandi menjelaskan tentang keagungan surga sebagai tempat terindah yang disediakan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Surga, kata beliau, berisi kenikmatan dan kebahagiaan yang tidak pernah terbayangkan oleh akal manusia. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, Surah As-Sajdah ayat 17:
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ أُخْفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
“Fala ta’lamu nafsun mā ukhfiya lahum min qurrati a’yunin, jazā’an bimā kānū ya’malūn.”
Artinya: “Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 32)
Lebih lanjut, Ustadz Yandi menyampaikan sebuah pesan spiritual yang menggugah, bahwa tidak hanya manusia yang merindukan surga, tetapi surga juga merindukan hamba-hamba pilihan. Kerinduan ini tergambar dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud dan Tirmidzi yang menyebutkan empat golongan istimewa yang dirindukan oleh surga .
الْجَنَّةُ مُشْتَاقَةٌ اِلَى أَرْبَعَةِ نَفَرٍ : تَالِى الْقُرْانِ, وَحَافِظِ اللِّسَانِ, وَمُطْعِمِ الْجِيْعَانِ, وَصَا ئِمٍ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ
“Al-jannatu musytāqatun ilā arba’ati nafarin: tāli al-qur’āni, wa hāfizh al-lisāni, wa muth’im al-jī’āni, wa shā-imin fī syahri ramadhān.”
Artinya: “Surga merindukan empat golongan: orang yang membaca Al-Qur’an, orang yang menjaga lisannya, orang yang memberi makan orang yang lapar, dan orang yang berpuasa di bulan Ramadhan.”

Empat Golongan Istimewa
Berikut adalah penjabaran Ustadz Yandi Heryandi mengenai empat golongan tersebut, lengkap dengan dalilnya:
1. Tali Al-Qur’an (Pembaca Al-Qur’an)
Golongan pertama adalah mereka yang senantiasa meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an. Di bulan Ramadhan yang merupakan syahrul Qur’an, interaksi dengan kitab suci ini memiliki keutamaan yang berlipat ganda. Membaca Al-Qur’an tidak hanya mendatangkan pahala, tetapi juga ketenteraman hati, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d ayat 13:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Alā bi dzikrillāhi tathma’innul qulūb.”
Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Ustadz Yandi mengutip hadits riwayat Ahmad dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
“Yuqālu li shāhibil qur’āni iqra’ wa rtaqi wa rattil kamā kunta turattilu fid dunyā, fa inna manzilataka ‘inda ākhiri āyin taqra’uhā.”
Artinya: “Akan dikatakan kepada orang yang membaca (menghafal) Al-Qur’an: ‘Bacalah, naiklah, dan tartilkanlah sebagaimana engkau di dunia mentartilkannya, karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.’” (HR. Ahmad)
2. Hafizhul Lisan (Penjaga Lisan)
Golongan kedua adalah mereka yang mampu menjaga lisannya dari perkataan sia-sia, dusta, ghibah, dan segala bentuk ucapan yang buruk. Menjaga lisan adalah kunci keselamatan seorang muslim.
Ustadz Yandi mengingatkan sebuah hadits shahih dari Abu Hurairah Ra. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Man kāna yu’minu billāhi wal yaumil ākhiri falyagul khairan au liyashmut.”
Artinya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Muth’imul Ji’an (Memberi Makan Orang Lapar)
Golongan ketiga adalah mereka yang memiliki kepedulian sosial tinggi, terutama dengan memberi makan kepada mereka yang membutuhkan, seperti fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang yang kelaparan.
“Bersedekah makanan di bulan Ramadhan memiliki keistimewaan tersendiri,” ujar Ustadz Yandi. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-Insan ayat 8:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا
“Wa yuth’imūnath-tha’āma ‘alā hubbihī miskīnan wa yatīman wa asīrā.”
Artinya: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan: 8)
4. Shaimun fi Syahri Ramadhan (Orang yang Berpuasa di Bulan Ramadhan)
Golongan keempat yang dirindukan surga adalah mereka yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan. Puasa adalah perisai dan ibadah yang istimewa di sisi Allah.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Kullu ‘amalibni ādama lahū illash-shiyāma fa innahū lī wa ana ajzī bih.”
Artinya: “Setiap amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Antusiasme Jamaah
Penjelasan Ustadz Yandi yang lugas dan penuh dalil ini disambut antusias oleh jamaah yang hadir. Mereka menyimak dengan saksama ceramah yang sarat akan motivasi untuk meningkatkan kualitas ibadah di pertengahan Ramadhan.
Salah seorang jamaah, mengungkapkan kesan mendalamnya. “Pencerahan malam ini sangat membuka mata. Ternyata surga itu aktif merindukan kita. Ini memotivasi saya untuk lebih giat lagi membaca Alquran, menjaga lisan, dan bersedekah,” ujarnya.
Suasana khidmat terus terasa hingga doa penutup yang dipimpin langsung oleh Ustadz Yandi Heryandi. Jamaah berharap dapat istiqamah dalam menjalankan amalan-amalan tersebut sehingga termasuk dalam golongan yang dirindukan surga.


Tinggalkan Balasan