Amparanjati: Menyapa Dunia dengan Cinta di Tengah Gegap Gempita Milad Muhammadiyah

Di bawah langit senja yang perlahan-lahan menggelap, Komplek Dakwah PDM Kota Cirebon di Jalan Pilang Raya No. 09 telah disulap menjadi lautan manusia. Suasana haru dan sukacita menyelimuti setiap sudut, mengiringi rangkaian puncak Milad Muhammadiyah ke-113. Namun, sebelum suara pengajian umum bergema, panggung telah diwarnai oleh sesuatu yang berbeda—sesuatu yang merangkul tradisi sambil menyampaikan pesan masa kini.

Mereka adalah grup kidung Amparanjati, lima seniman yang dengan alat musik sederhana berhasil mencuri perhatian ratusan undangan. Suara gitar melodi yang menyayat, dentingan bass yang mengalun, tiupan suling yang menghanyutkan, tabuhan jimbe yang memanggil, dan vokal yang sarat penghayatan, bersatu dalam harmoni yang tak biasa. Mereka membawakan tembang-tembang khusus yang digubah untuk menyambut Milad, dengan latar belakang aransemen musik tarling “gagalan” dan “wayang perang”—sebuah perpaduan yang membawa nuansa magis sekaligus reflektif.

Akbarudin Sucipto

Akar yang Menghunjam: Dari Kakek ke Cucu, Dari Muhammadiyah ke Seni

Grup ini lahir dari ketidakpuasan dan kerinduan. Dibentuk pada tahun 2005 oleh Akbarudin Sucipto, seorang seniman yang akrab dengan gelanggang kesenian sejak lama—pernah memimpin bidang kesenian di Pemuda Remaja Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Keraton Kasepuhan. Ada “kegerahan” dalam dirinya terhadap perkembangan musik tarling masa kini yang dinilai semakin menjauh dari roh aslinya. Dari situlah, bersama Gunawan (gitar melodi), Munadi Bacunk (gitar bass), Dodi (suling), dan Anto (jimbe), Amparan Jati hadir membawa warna baru.

Namun, akar seni Akbarudin ternyata terhubung dengan sejarah yang lebih dalam dan personal. Kecintaannya pada tembang dan gamelan diwarisi dari sang kakek, RM. Basuki Tirtoharjo—seorang tokoh yang ternyata memiliki kaitan erat dengan masa-masa awal Muhammadiyah di Cirebon sekitar tahun 1936. Fakta mengejutkan ini terungkap dari riset mendalam yang dilakukannya untuk keperluan Sarasehan Budaya dalam rangkaian Milad ini.

Lebih dalam lagi, risetnya mengungkap peran R. Soera Atmadja (buyutnya), seorang karyawan PJKA Daop 3 Cirebon (kini PT KAI), yang memfasilitasi izin bagi PDM untuk berkantor di sana. Dari sanalah, perjalanan panjang PDM Cirebon dimulai—berpindah sebanyak sepuluh kali sebelum akhirnya menetap di Jalan Pilang Raya ini. Setiap kepindahan menyimpan kisah perjuangan tersendiri, sebuah narasi ketekunan dan kesabaran para pendiri Muhammadiyah Cirebon.

“Apa Kabar Muhammadiyah Cirebon”: Sebuah Renungan yang Menyentil

Fenomena sejarah itu tidak hanya menjadi data, tetapi meresap ke dalam sanubari Akbarudin. Dari perenungan mendalam tentang perjuangan, pengorbanan, dan dinamika organisasi, terciptalah sebuah lagu spesial: “Apa Kabar Muhammadiyah Cirebon.”

Liriknya sederhana namun menusuk kalbu: “Alon-alon asal kelakon, gremet-gremet asal selamet, mau berdaya atau terlena dengan aset.” Sebuah pertanyaan reflektif yang sekaligus menjadi cermin bagi setiap insan persyarikatan. Apakah kita hanya berjalan pelan asal selesai, atau bersungguh-sungguh demi keselamatan? Apakah aset yang dimampu membuat kita semakin berdaya atau justru terlena? Lagu ini bukan sekadar tembang, melainkan doa, peringatan, dan sekaligus penyemangat yang dibawakan dengan irama yang menyentuh hati.

Jargon dan Jejak: Menyapa Dunia dengan Cinta

Dengan jargon “Menyapa Dunia dengan Cinta,” Amparan Jati konsisten mencipta karya yang bertema sosial, kemanusiaan, perempuan, dan anak-anak—selalu sarat dengan pesan perdamaian. Mereka menolak dikotomi klasik versus modern, memilih jalan sendiri yang menghargai akar tradisi tarling klasik namun menolak terjebak dalam aliran tarling masa kini yang cenderung dangdut pantura.

Jalan itu telah membawa mereka jauh. Sejak berdiri, mereka telah tampil lebih dari 350 kali—dari acara Baperkam (Badan Permusyawaratan Kampus) hingga Istana Negara. Mereka membuka acara di kampus Al-Biruni Babakan Ciwaringin, diundang oleh Menteri Agama Said Aqil Al Munawar untuk memeriahkan Musabaqah Qiraatul Kutub di Pesantren Kiai Ahmad Syahid Cicalengka, bahkan pernah menjadi mediator konflik antara masyarakat Sedulur Sikep Samin dengan pabrik semen di Rembang-Pati. Musik mereka menjadi jembatan, bahasa universal yang meruntuhkan tembok perbedaan.

Tetap Rendah Hati, Terus Belajar

Di balik semua pencapaiannya—sebagai seniman dan juga sebagai Ketua Lembaga Bahasa Cirebon—Akbarudin Sucipto tetap menunjukkan kerendahan hati yang menginspirasi. “Masih belajar dan akan terus belajar,” ujarnya. Kalimat itu bukan basa-basi, melainkan filosofi hidup yang tercermin dalam setiap penampilan Amparan Jati.

Pada malam Milad itu, mereka bukan sekadar pengisi acara. Mereka adalah penjaga memori, pewaris tradisi, sekaligus penyampai pesan. Mereka mengingatkan kita bahwa seni dan dakwah bisa berjalan beriringan, bahwa sejarah dan masa depan bisa berdialog dalam irama, dan bahwa cinta—seperti yang mereka nyanyikan—adalah bahasa terkuat untuk menyapa dunia.

Dan ketika suara mereka berakhir, sebelum Dr. H. Agus Danarto, M.Ag., naik ke mimbar, ada keheningan sejenak—sebuah keheningan yang penuh makna, seolah semua hadirin diajak merenung: Apa kabar Muhammadiyah kita? Apa kabar perjuangan kita? Dan di sanalah, Amparanjati telah meninggalkan jejaknya: bukan hanya di telinga, tetapi di hati.

Kontributor

Eva Fauziah
(PC ‘Aisyiyah Kejaksan)
Tim Media Muhammadiyah Kota Cirebon

Komentar (Tanggapan)

Tulis Komentar pada kolom di bawah ini

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.
Ruas (kotak) yang wajib diisi ditandai *

Ada 2 tanggapan untuk “Amparanjati: Menyapa Dunia dengan Cinta di Tengah Gegap Gempita Milad Muhammadiyah”

  1. Avatar Nurzini Fazilet
    Nurzini Fazilet

    Bermuhammadiyah melalui kesenian….

  2. Avatar PUJI NIRMO
    PUJI NIRMO

    Sebuah kolaborasi antara dakwah dan budaya yg bs membawa masyarakat utk belajar memahami misi perjuangan Muhammadiyah