Empat Akhlak Mulia yang Diharamkan dari Api Neraka

CIREBON — 31 Oktober 2025. Khutbah Jum’at di Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon disampaikan oleh Ustadz Dr. Alvien Septian Haerisma, M.Si. dalam khutbahnya, beliau mengangkat tema pentingnya bersyukur dan meningkatkan iman serta takwa dalam kehidupan sehari-hari sebagai bekal hingga akhir hayat.

Khutbah dimulai dengan ajakan untuk senantiasa bersyukur kepada Allah, memperkuat iman dan memperindah akhlak sebagai bekal menjalani hidup hingga akhir hayat. Khatib menegaskan bahwa kehidupan seorang Muslim harus terus dihiasi dengan ketaqwaan, sebagaimana perintah Allah dalam QS. Ali Imran ayat 102:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”

Ayat ini memberi pesan kuat bahwa kematian dalam keadaan Islam adalah pencapaian tertinggi seorang hamba, yang hanya bisa diraih dengan hidup penuh takwa.

Makna Bulan Jumadil Awwal

Khatib menjelaskan bahwa Jumadil Awwal berasal dari kata jumada yang berarti kering atau beku. Secara simbolik, bulan ini menggambarkan kekeringan spiritual dan ketegasan kondisi hidup, sehingga menjadi momentum muhasabah diri untuk menghidupkan kembali akhlak mulia.

Hadis Tentang Kesempurnaan Iman dan Akhlak

Diriwayatkan dalam HR. Tirmidzi, no. 1162, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Akmalul mu’minīna īmānan aḥsanuhum khuluqan.”
“Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”

Hadis ini menegaskan bahwa kesempurnaan iman seseorang tidak hanya dilihat dari ibadah ritual, tapi juga dari kualitas akhlaknya kepada sesama manusia.

Empat Akhlak Mulia yang Diharamkan dari Api Neraka

Dalam hadis riwayat Imam Ahmad dan al-Baihaqi, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Ala ukhbirukum biman yuharram ‘ala an-nar, kullu qaribin, hayyin, layyin, sahlin.”
“Maukah kalian aku beritahu siapa yang akan diharamkan dari neraka? Yaitu orang yang dekat (dengan sesama), rendah hati, lemah lembut, dan memudahkan urusan orang lain.”

Penjelasan akhlak tersebut:

  1. Hayyin
    Orang yang tenang, rendah hati, tidak mudah marah, tidak sombong, dan tidak menyakiti orang lain.
    → Cerminan dari kesalehan pribadi dan sosial.
  2. Layyin
    Orang yang lembut dalam berbicara, bersikap santun dan damai, serta mudah memaafkan kesalahan orang lain.
    → Diperlukan dalam membina hubungan antarsesama.
  3. Sahl
    Orang yang memudahkan urusan orang lain, suka menolong, dan tidak mempersulit.
    → Akhlak yang menunjukkan kepedulian sosial tinggi.
  4. Qaribin min an-nas
    Orang yang akrab dan disenangi masyarakat, dekat dengan sesama, dan kehadirannya membuat orang tenang.
    → Bukti dari kepribadian yang dirindukan dalam masyarakat.

Kesimpulan Khutbah

Khatib menutup khutbah dengan mengajak jamaah untuk:

  • Terus bersyukur atas nikmat Allah.
  • Memperkuat iman dan takwa.
  • Memperbaiki dan memperindah akhlak.
  • Menghindari sikap sombong, kasar, dan sulit bergaul.
  • Menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain, agar dijauhkan dari api neraka.

Khutbah ini menjadi pengingat bahwa akhlak adalah cermin keimanan, dan kehidupan yang dijalani dengan syukur, iman, dan akhlak mulia akan membawa keselamatan dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam bish-showab.

Komentar (Tanggapan)

Tulis Komentar pada kolom di bawah ini

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.
Ruas (kotak) yang wajib diisi ditandai *