Abstrak
Artikel ini membahas hakikat, martabat, dan tanggung jawab manusia sebagai entitas sentral dalam penciptaan menurut perspektif Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Tujuannya adalah untuk menganalisis konsep manusia sebagai makhluk yang dianugerahi potensi spiritual, intelektual, dan moral, serta implikasi dari anugerah tersebut terhadap tanggung jawabnya di muka bumi. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu’i). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakikat manusia terletak pada penciptaannya yang unik, yang memadukan unsur material (tanah) dan immaterial (ruh Ilahi). Martabatnya dikukuhkan melalui penegasan sebagai makhluk terbaik (ahsani taqwim) dan keberadaannya sebagai khalifah Allah di bumi. Martabat ini bukanlah sesuatu yang mutlak, melainkan bergantung pada pelaksanaan tanggung jawab keimanan dan amal saleh. Tanggung jawab manusia bersifat multidimensional, mencakup hubungan dengan Allah (hablun min Allah), sesama manusia (hablun min an-nas), dan alam semesta. Dasar-dasar Al-Qur’an dan Hadits menjadi pijakan utama dalam merumuskan konsep integratif ini, yang menekankan keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta antara kesempurnaan potensial dan realitas kekurangan manusia.
Kata Kunci: Hakikat Manusia, Martabat, Tanggung Jawab, Khalifah, Al-Qur’an, Hadits.
Pendahuluan
Manusia merupakan subjek sekaligus objek dalam diskursus filsafat, teologi, dan ilmu humaniora. Setiap peradaban memiliki pandangannya sendiri mengenai siapa manusia sejatinya. Dalam Islam, pemahaman tentang manusia tidak dapat dipisahkan dari wahyu Ilahi, karena hanya Pencipta yang mengetahui secara utuh hakikat ciptaan-Nya. Pemahaman yang komprehensif tentang hakikat, martabat, dan tanggung jawab manusia sangat penting untuk membentuk worldview (pandangan dunia) Islam yang integral, yang pada gilirannya memengaruhi perilaku individu dan tatanan sosial.
Artikel ini bertujuan untuk menguraikan tiga pilar utama antropologi Islam: (1) Hakikat manusia, yaitu esensi dan unsur-unsur pembentuknya; (2) Martabat manusia, yaitu kedudukan mulia yang dianugerahkan Allah kepadanya; dan (3) Tanggung jawab manusia, yaitu kewajiban yang melekat sebagai konsekuensi dari hakikat dan martabatnya. Uraian ini akan didasarkan pada sumber-sumber otoritatif Islam, yaitu Al-Qur’an dan Hadits, dengan merujuk pada literatur akademik kontemporer.
1. Hakikat Manusia: Sintesis Tanah dan Ruh
Hakikat manusia dalam Al-Qur’an digambarkan sebagai suatu penciptaan yang unik dan bertahap. Allah SWT berfirman:
وَ لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍۚ . ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍۚ . ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ فَتَبٰرَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 12-14).
Ayat ini menjelaskan asal-usul material manusia dari tanah, yang kemudian mengalami proses biologis yang detail. Namun, hakikat manusia tidak hanya terletak pada unsur materialnya. Ada dimensi immaterial yang menjadi pembeda utama antara manusia dan makhluk lainnya, yaitu ruh Ilahi.
وَ إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ إِنِّيْ خَالِقٌۢ بَشَرًا مِّنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُوْنٍۚ . فَإِذَا سَوَّيْتُهُ٥ وَ نَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهُ٥ سٰجِدِيْنَ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku akan menciptakan manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya dan meniupkan ruh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.’” (QS. Al-Hijr [15]: 28-29).
Peniupan ruh inilah yang memberikan manusia potensi ketuhanan (theomorphic), seperti ilmu, kehendak bebas, dan kesadaran moral. Dengan demikian, hakikat manusia adalah sintesis harmonis antara tubuh yang fana (berasal dari tanah) dan ruh yang abadi (berasal dari Allah), yang menjadikannya makhluk dwi-dimensional.
2. Martabat Manusia: Ahsani Taqwim dan Khalifah
Martabat manusia dalam Islam bukanlah sesuatu yang diperoleh, melainkan anugerah langsung dari Allah. Martabat ini ditegaskan setidaknya dalam dua konsep kunci.
Pertama, manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (ahsani taqwim).
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin [95]: 4).
Konsep “bentuk terbaik” ini tidak hanya merujuk pada kesempurnaan fisik, tetapi lebih pada kesiapan psiko-spiritual untuk menerima amanah Ilahi, berpengetahuan, dan berakhlak mulia.
Kedua, manusia ditetapkan sebagai khalifah (wakil) Allah di bumi.
وَ إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْأَرْضِ خَلِيْفَةً
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).
Sebagai khalifah, manusia diberi wewenang dan kemampuan untuk mengelola, memakmurkan, dan memberlakukan nilai-nilai ketuhanan di muka bumi. Ini adalah kehormatan tertinggi yang tidak diberikan kepada makhluk lain mana pun.
Namun, martabat ini bersifat dinamis. Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa manusia dapat terjatuh ke derajat yang paling rendah (asfala safilin) jika ia mengingkari fitrah dan tanggung jawabnya (QS. At-Tin [95]: 5). Sebuah hadits juga mengingatkan tentang nilai manusia di hadapan Allah:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat pada hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim).
Dengan demikian, martabat sejati manusia terletak pada kualitas iman dan amal salehnya, bukan pada atribut keduniawian.
3. Tanggung Jawab Manusia: Konsekuensi Logis dari Hakikat dan Martabat
Kedudukan sebagai makhluk terbaik dan khalifah meniscayakan tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab ini dapat diklasifikasikan menjadi tiga domain utama:
a. Tanggung Jawab kepada Allah (Hablun min Allah)
Ini adalah tanggung jawab primordial, yaitu pengabdian total (ibadah) hanya kepada-Nya.
وَ مَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ الْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat [51]: 56).
Ibadah dalam konteks ini mencakup seluruh aspek kehidupan, mulai dari ritual formal seperti salat dan puasa hingga aktivitas sosial, ekonomi, dan politik yang dilandasi oleh nilai-nilai Ilahi.
b. Tanggung Jawab kepada Sesama Manusia dan Lingkungan (Hablun min an-Nas)
Sebagai khalifah, manusia bertanggung jawab untuk menegakkan keadilan, berbuat kebajikan, dan memakmurkan bumi.
وَ ابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَ لَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَ أَحْسِنْ كَمَآ أَحْسَنَ اللّٰهُ إِلَيْكَ وَ لَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْأَرْضِ
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-Qashash [28]: 77).
Rasulullah SAW juga menegaskan dalam sebuah hadits:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ كُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Tanggung jawab ini meliputi hubungan dengan keluarga, tetangga, masyarakat, dan bahkan terhadap hewan serta lingkungan.
c. Tanggung Jawab terhadap Diri Sendiri
Manusia juga bertanggung jawab untuk memelihara dan mengembangkan potensi dirinya, baik potensi fisik, intelektual, maupun spiritual. Menuntut ilmu adalah bentuk tanggung jawab ini, sebagaimana sabda Nabi SAW:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah).
Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hakikat, martabat, dan tanggung jawab manusia dalam Islam merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Hakikat manusia sebagai sintesis unsur material dan immaterial menjadi fondasi bagi martabatnya sebagai makhluk terbaik (ahsani taqwim) dan khalifah di bumi. Martabat ini bukanlah jaminan kesucian, melainkan potensi untuk mencapai kemuliaan sejati melalui pelaksanaan tanggung jawab yang meliputi tiga relasi: vertikal kepada Allah, horizontal kepada sesama dan alam, serta internal terhadap pengembangan diri. Pemahaman yang holistik ini diharapkan dapat membentuk manusia yang utuh, yang tidak hanya menyadari hak dan keistimewaannya, tetapi juga tunduk dan patuh melaksanakan kewajibannya sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi, sehingga terwujud kehidupan yang bermartabat dan berkeadilan.
Daftar Pustaka
- Al-Faruqi, Ismail R. (2020). Tawhid: Its Implications for Thought and Life. (Terj.). Institute of Islamic Thought.
- Hashi, A. M. (2021). “The Concept of Khalifah in the Islamic Worldview: Responsibilities and Challenges”. Journal of Islamic Thought and Civilization, 11(1), 45-60.
- Nurdianti, E., & Fauzi, A. (2022). “Konsep Manusia sebagai Khalifah dalam Al-Qur’an dan Relevansinya dengan Etika Lingkungan di Era Modern”. Jurnal Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 3(2), 112-125.
- Rahman, F. (2019). Major Themes of the Qur’an. (Edisi Kedua). University of Chicago Press.
- Saeed, A. (2021). Al-Qur’an Abad 21: Tafsir Kontekstual. (Terj.). Mizan.
- Setiawan, D. (2020). “Hakikat Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an dan Implikasinya terhadap Pendidikan Islam”. Jurnal Pendidikan Islam, 9(1), 78-95.
- Zarkasyi, H. F. (2019). Worldview Islam dan Kosmologi. Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS).


Tulis Balasan ke Muhamad Adibrata Batalkan balasan