Integrasi Ilmu dan Iman: Strategi Gerakan Muhammadiyah dalam Pengembangan IPTEKS di Indonesia

Pendahuluan

Gerakan Muhammadiyah, yang didirikan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 di Yogyakarta, telah lama dipandang sebagai salah satu arus utama pembaruan Islam di Indonesia. Pada awal kelahirannya, Muhammadiyah telah menunjukkan karakteristik unik yang membedakannya: suatu gerakan yang tidak hanya terfokus pada pembaruan pemikiran keagamaan (tajdid), tetapi juga secara aktif terlibat dalam praksis sosial, terutama melalui pendirian amal usaha di bidang pendidikan dan kesehatan. Dalam perkembangannya lebih dari satu abad, Muhammadiyah secara konsisten menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sains (IPTEKS). Komitmen ini bukanlah sekadar adaptasi terhadap modernitas, melainkan suatu bentuk aktualisasi dari konsep “al-Mā’ūn” (semangat tolong-menolong yang praktis) dan “Islam Berkemajuan” yang menjadi identitas kontemporer persyarikatan (Nashir, 2020). Artikel ini akan membahas relasi filosofis, strategi operasional, serta tantangan dan kontribusi Muhammadiyah dalam pengembangan IPTEKS di Indonesia.

Kerangka Filosofis: Integrasi Ilmu dan Iman

Pendekatan Muhammadiyah terhadap IPTEKS berakar pada paradigma integrasi ilmu (tauhid ilmu). Paradigma ini menolak dikotomi antara ilmu agama (ulum al-din) dan ilmu umum (ulum al-dunyawiyyah). Bagi Muhammadiyah, semua ilmu yang sahih berasal dari Allah SWT, sumber segala pengetahuan. Oleh karena itu, mempelajari sains dan teknologi adalah bagian dari pengamalan perintah untuk “membaca” (iqra’) tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta

Surat Al-‘Alaq ayat 1–5:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Artinya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5) dan memikirkan penciptaan langit dan bumi  Surat Ali Imran ayat 190–191:


إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ


الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya :

Ayat 190:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.”

Ayat 191:

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali Imran: 190-191).

Kiai Haji Ahmad Dahlan, dalam pidato dan praktiknya, menekankan bahwa ilmu tanpa iman akan menjadi buta dan merusak, sementara iman tanpa ilmu akan menjadi lemah dan rapuh (Mulkhan, 2019). Ini merupakan respons terhadap kondisi masyarakat saat itu yang terbelah antara tradisionalisme keagamaan yang stagnan dan sekularisme Barat yang meminggirkan agama. Muhammadiyah kemudian merumuskan konsep pendidikan yang menggabungkan kurikulum agama dan umum, sebuah terobosan radikal pada masanya. Model pendidikan ini tidak hanya bertujuan menciptakan muslim yang taat, tetapi juga insan yang terampil, berpengetahuan luas, dan mampu berkontribusi dalam pembangunan peradaban.

Strategi Operasional Pengembangan IPTEKS

Strategi utama Muhammadiyah dalam pengembangan IPTEKS diwujudkan melalui tiga pilar utama:

  1. Pendidikan: Sebagai ujung tombak, Muhammadiyah membangun jaringan lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi yang sangat luas. Saat ini, dengan lebih dari 167 perguruan tinggi (termasuk Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Surakarta, dan lain-lain), Muhammadiyah menjadi salah satu penyelenggara pendidikan tinggi swasta terbesar di Asia Tenggara (Rokhmad & Furqon, 2021). Kekuatan tidak hanya terletak pada kuantitas, tetapi pada upaya mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam kurikulum, mendorong penelitian yang relevan dengan masalah umat dan bangsa, serta mengembangkan program studi sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) yang unggul. Banyak universitas Muhammadiyah yang telah memiliki fakultas kedokteran, teknik, farmasi, dan teknologi informasi yang bereputasi baik.
  2. Amal Usaha Kesehatan dan Sosial: Rumah Sakit (RS) dan klinik Muhammadiyah-Aisyiyah tidak hanya berfungsi sebagai penyedia layanan kesehatan, tetapi juga menjadi pusat pengembangan ilmu kedokteran, keperawatan, dan kesehatan masyarakat. Lembaga-lembaga ini menjadi tempat praktik, penelitian, dan pengabdian masyarakat bagi tenaga kesehatan. Pengembangan teknologi medis, sistem informasi rumah sakit, dan inovasi layanan kesehatan berbasis komunitas menjadi bagian dari kontribusi nyata.
  3. Lembaga Penelitian dan Fatwa (Tarjih): Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, yang awalnya berfokus pada penyelesaian masalah fikih, telah memperluas mandatnya untuk mengkaji masalah-masalah kontemporer, termasuk etika sains dan teknologi. Melalui forum seperti Munas Tarjih, Muhammadiyah telah mengeluarkan putusan-putusan penting yang membimbing umat dalam menyikapi perkembangan IPTEKS, seperti bioteknologi, teknologi reproduksi, dan ekonomi digital, dengan tetap berpegang pada prinsip maslahat dan menghindari kemudaratan (PP Muhammadiyah, 2020).

Tantangan dan Kontribusi

Di tengah kontribusinya yang besar, Muhammadiyah menghadapi sejumlah tantangan dalam konsolidasi pengembangan IPTEKS:

  1. Tantangan Kualitas dan SDM: Disparitas kualitas antara amal usaha di pusat dan daerah masih menjadi persoalan. Pengembangan sumber daya manusia (SDM) peneliti, dosen, dan profesional yang unggul sekaligus memiliki komitmen keislaman dan kemuhammadiyahan yang kuat membutuhkan strategi berkelanjutan.
  2. Tantangan Pendanaan: Kemandirian finansial untuk penelitian dan pengembangan (R&D) yang bermutu tinggi seringkali terbatas, mengandalkan pada dana operasional dari mahasiswa/pasien dan sumbangan, yang belum optimal untuk riset mendalam.
  3. Tantangan Ideologis: Muhammadiyah harus terus-menerus berdialog dan berdebat secara konstruktif dengan kelompok Islam lain yang mungkin masih memandang skeptis terhadap integrasi ilmu atau mengadopsi teknologi tertentu, serta dengan arus pemikiran sekuler yang ingin memisahkan agama dari sains.

Meski demikian, kontribusi Muhammadiyah tak terbantahkan. Muhammadiyah telah:

  • Mendemokratisasi Akses Pendidikan dan IPTEKS: Dengan jaringan yang luas hingga ke pelosok, Muhammadiyah membuka akses bagi jutaan anak bangsa untuk mengenyam pendidikan berkualitas yang mengintegrasikan iman dan sains.
  • Melahirkan Elite Intelektual Muslim: Ribuan ilmuwan, dokter, insinyur, ekonom, dan profesional Muslim yang berintegritas dan berakhlak adalah produk dari sistem pendidikan Muhammadiyah.
  • Memberikan Solusi Kontekstual: Melalui penelitian dan pengabdian masyarakat di perguruan tinggi dan rumah sakitnya, Muhammadiyah aktif berkontribusi dalam memecahkan masalah riil bangsa, dari stunting hingga pengembangan teknologi tepat guna.
  • Membentuk Wacana Islam Berkemajuan: Kiprah Muhammadiyah menjadi bukti nyata bahwa Islam tidak bertentangan dengan kemajuan sains dan teknologi, melainkan dapat menjadi pendorong etis dan spiritual untuk pengembangannya yang bermanfaat bagi seluruh manusia (Rahman, 2019).

Penutup

Gerakan Muhammadiyah telah membuktikan diri sebagai kekuatan sosial-keagamaan yang proaktif dan visioner dalam pengembangan IPTEKS di Indonesia. Dengan landasan filosofis integrasi ilmu dan iman, serta strategi operasional yang bertumpu pada tritunggal pendidikan, kesehatan, dan penelitian, Muhammadiyah telah mentransformasikan dirinya dari gerakan pembaruan keagamaan menjadi kekuatan pendorong kemajuan peradaban. Tantangan ke depan adalah memperkuat konsistensi kualitas, inovasi, dan kemandirian dalam seluruh amal usahanya, sekaligus memperdalam narasi Islam Berkemajuan yang tidak hanya adaptif terhadap perkembangan IPTEKS, tetapi juga mampu memberikan panduan etis dan kontribusi substantif bagi kemajuan IPTEKS itu sendiri. Dengan demikian, Muhammadiyah terus relevan mewujudkan cita-cita awal pendiriannya: membentuk masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, yang dalam konteks kekinian berarti masyarakat yang unggul, berdaya saing, dan berkeadaban tinggi berbasis ilmu pengetahuan.

Daftar Pustaka

Mulkhan, Abdul Munir. (2019). Pemikiran Kyai Haji Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah: Dalam Perspektif Perubahan Sosial. Yogyakarta: Percetakan Persatuan.
Nashir, Haedar. (2020). Muhammadiyah: Gerakan Pembaruan. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
PP Muhammadiyah. (2020). Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah Jilid 4. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Rahman, Fazlur. (2019). Kebangkitan Islam dan Tantangan Modernitas: Sebuah Studi tentang Gerakan Islam Abad ke-20. Bandung: Mizan.
Rokhmad, Abu & Furqon, Arief. (2021). Modernisasi Pendidikan Islam: Studi atas Kiprah Muhammadiyah dalam Pengembangan Lembaga Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.

Komentar (Tanggapan)

Tulis Balasan ke Ghina Aura Fauziah Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.
Ruas (kotak) yang wajib diisi ditandai *

Ada 42 tanggapan untuk “Integrasi Ilmu dan Iman: Strategi Gerakan Muhammadiyah dalam Pengembangan IPTEKS di Indonesia”

  1. Avatar Hikma
    Hikma

    Materi ini relevan sangat bagusdalam konteks pendidikan misalnya di pesantren, lembaga dakwah, organisasi kemasyarakatan sebagai landasan moral dan etik untuk membentuk kader pemimpin yang tidak sekadar mengejar kekuasaan atau materi, tetapi mengutamakan amanah, keadilan, dan kesejahteraan umat.

  2. Avatar Hikma
    Hikma

    Materi ini relevan juga dalam konteks pendidikan misalnya di pesantren, lembaga dakwah, organisasi kemasyarakatan sebagai landasan moral dan etik untuk membentuk kader pemimpin yang tidak sekadar mengejar kekuasaan atau materi, tetapi mengutamakan amanah, keadilan, dan kesejahteraan umat.

  3. Avatar Hikma
    Hikma

    Materi ini relevan juga dalam konteks pendidikan — misalnya di pesantren, lembaga dakwah, organisasi kemasyarakatan — sebagai landasan moral dan etik untuk membentuk kader pemimpin yang tidak sekadar mengejar kekuasaan atau materi, tetapi mengutamakan amanah, keadilan, dan kesejahteraan umat.

  4. Avatar Elen
    Elen

    MasyaAllah terimakasih banyak atas ilmunya bapak,sangat bermanfaat sekali

  5. Avatar Ghina Aura Fauziah
    Ghina Aura Fauziah

    Artikel ini sangat bermanfaat dan menarik karena menjelaskan pentingnya integrasi ilmu dan iman dalam pengembangan IPTEKS. Penyampaiannya jelas dan relevan dengan kondisi saat ini

  6. Avatar Elen
    Elen

    MasyaAllah terimakasih banyak atas ilmunya bapak,sangat bermanfaat sekali, materi tersebut mampu membuka wawasan pembaca mengenai pentingnya Memahami Integrasi Ilmu dan iman

  7. Avatar Aliyin Najwa
    Aliyin Najwa

    MasyaAllah, materinya sangat bermanfaat sekali pak.
    Menambah wawasan dan ilmu, semoga bermanfaat pula bagi para pembaca.
    Terimakasih.

  8. Avatar Nasywa Hamidah
    Nasywa Hamidah

    Materi ini menunjukkan bahwa integrasi iman dan ilmu yang digagas Muhammadiyah menjadi bukti nyata bahwa kemajuan teknologi dan sains dapat berjalan selaras dengan nilai-nilai keislaman untuk membangun peradaban bangsa

  9. Avatar Fauziah Shafira
    Fauziah Shafira

    Materi ini sangat bermanfaat, disusun dengan jelas, dan argumentatif, serta berhasil menunjukkan bahwa Muhammadiyah memandang IPTEKS sebagai bagian integral dari pengamalan ajaran Islam.

  10. Avatar Guna Fathoni
    Guna Fathoni

    Assalamu’alaikum, pak.
    Saya izin bertanya. Kenapa penetapan 1 ramadhan dan 1 syahwal di Muhammadiyah itu sudah pasti? sedangkan di NU itu harus menunggu hasil sidang isbat? jujur, terkadang bingung harus ikut yang mana. sekian terima kasih :))