CIREBON, Rabu (10/12/2025) — Suasana khusyuk mewarnai Kajian Reboan yang rutin digelar ba’da Maghrib hingga Isya di Masjid Santun Muhammadiyah, Jl. Pilang Raya No. 09. Pada edisi kali ini, hadir sebagai penceramah Ustadz Dr. Maman Rusman, M.Pd., yang menyampaikan materi mendalam seputar tafsir ayat-ayat Al-Qur’an bertema ketauhidan dan aqidah.
Kajian ini juga dihadiri oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Cirebon, Drs. Puji Nirmo, beserta jamaah dari berbagai kalangan yang dengan antusias mengikuti kajian hingga akhir.

Dalam ceramahnya, Ustadz Maman menekankan bahwa tauhid adalah ilmu paling mendasar dan mutlak dalam Islam. Tauhid berarti mengesakan Allah (wahdaniyyah), yaitu keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang Esa dalam rububiyah (penciptaan dan pengaturan), uluhiyah (penyembahan), dan Asma wa Sifat (nama-nama dan sifat-sifat-Nya).
Beliau mengutip QS. Az-Zumar ayat 38:
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ ۚ قُلْ أَفَرَءَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ إِنْ أَرَادَنِىَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَٰتُ ضُرِّهِۦٓ AQأَوْ أَرَادَنِى بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَٰتُ رَحْمَتِهِۦ ۚ قُلْ حَسْبِىَ ٱللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ ٱلْمُتَوَكِّلُونَ
Artinya:
“Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ niscaya mereka menjawab, ‘Allah.’ Katakanlah, ‘Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah. Jika Allah hendak menimpakan bencana kepadaku, apakah berhala-berhala itu dapat menghilangkan bencana-Nya? Atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?’ Katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku.’ Kepada-Nya-lah bertawakal orang-orang yang berserah diri.”

Artinya, secara fitrah semua makhluk mengakui bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi, meskipun sebagian tetap menyekutukan-Nya dalam penyembahan. Hal ini ditegaskan pula dalam QS. Al-A’raf ayat 172, bahwa seluruh manusia pernah bersaksi akan keesaan Allah sebelum dilahirkan ke dunia.
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَـٰذَا غَـٰفِلِينَ
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap hal ini.”

Ustadz Maman juga menyinggung pentingnya memahami ilmu astronomi atau tata surya sebagai bagian dari fardhu kifayah. Mengenali kehebatan langit, galaksi, dan bumi akan menambah keimanan kepada Sang Pencipta. Hal ini sesuai dengan QS. An-Nahl ayat 66 dan ayat-ayat lainnya yang mengajak manusia untuk merenungi ciptaan Allah di alam semesta dan dalam diri mereka sendiri.
An-Nahl: 66
وَإِنَّ لَكُمْ فِى ٱلْأَنْعَـٰمِ لَعِبْرَةًۭ ۖ نُسْقِيكُم مِّمَّا فِى بُطُونِهِۦ مِنۢ بَيْنِ فَرْثٍۢ وَدَمٍۢ لَّبَنًا خَالِصًۭا سَآئِغًۭا لِّلشَّـٰرِبِينَ
Artinya:
“Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberi minum kamu dari apa yang berada dalam perutnya, (berupa) susu yang bersih, di antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.”
Dalam konteks sosial saat ini, Ustadz Maman mengingatkan bahaya penyimpangan dari prinsip tauhid uluhiyah. Ia mencontohkan ajakan tokoh publik untuk ikut merayakan ibadah agama lain sebagai bentuk toleransi yang salah kaprah. Beliau menegaskan bahwa toleransi (tasamuh) tidak berarti mencampuradukkan akidah, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Surat Al-Kafirun ayat 1–6 :
سورة الكافرون
1. قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ
2. لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ
3. وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
4. وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ
5. وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
6. لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Artinya:
1. Katakanlah (Muhammad), “Wahai orang-orang kafir!”
2. “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.”
3. “Dan kamu tidak akan menyembah Tuhan yang aku sembah.”
4. “Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.”
5. “Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.”
6. “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”
Surat ini menegaskan prinsip tegas dalam aqidah Islam: tidak ada kompromi dalam ibadah dan keyakinan.
Selain itu, disampaikan pula kutipan dari Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
“Jika ada yang meminta-minta di kuburanku, akan aku tempeleng orang itu,” sebagai peringatan agar tidak menyekutukan Allah dalam bentuk syirik kubur.
Kajian ini ditutup dengan ajakan untuk terus merenungi ciptaan Allah sebagai jalan untuk mengenal-Nya lebih dalam, memperkuat aqidah, serta menjaga kemurnian ibadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dengan kajian-kajian seperti ini, Masjid Santun Muhammadiyah terus menjadi pusat penguatan akidah dan pembinaan keilmuan umat dalam bingkai Islam berkemajuan.


Tulis Balasan ke PUJI NIRMO Batalkan balasan