Kajian Reboan Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon: Mensyukuri Nikmat Sehat dan Kesempatan serta Pentingnya Sutrah dalam Salat

KOTA CIREBON, 28 Januari 2026
Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali menggelar Kajian Reboan rutin pada Rabu (28/1/2026). Kajian yang berlangsung khidmat ini diikuti oleh jamaah dari berbagai kalangan dan menghadirkan penceramah Ustadz Agus Wahid, S.Ag.

Dalam ceramahnya, Ustadz Agus Wahid mengawali kajian dengan mengingatkan jamaah tentang dua nikmat besar yang sering kali membuat manusia terlena dan tertipu. Hal tersebut sebagaimana ditegaskan dalam hadis Rasulullah ﷺ:


النِّعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang (kesempatan).”
(HR. al-Bukhari)

Ustadz Agus menjelaskan bahwa nikmat sehat dan kesempatan seharusnya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal saleh, khususnya ibadah salat yang menjadi tiang agama. Salah satu bentuk kesempurnaan salat yang sering diabaikan adalah penggunaan sutrah sebagai pembatas di depan orang yang sedang salat.

Sutrah dijelaskan sebagai segala sesuatu yang diletakkan di depan orang yang salat untuk membatasi pandangan dan mencegah orang lain melintas di hadapannya. Sutrah dapat berupa tembok, tiang, tongkat, kursi, atau benda lain dengan tinggi kurang lebih 30–40 cm.
Rasulullah ﷺ bersabda:


إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا

“Apabila salah seorang di antara kalian salat, maka hendaklah ia salat menghadap ke arah sutrah dan hendaklah ia mendekat kepadanya.”
(HR. Abu Dawud)

Dalam penjelasannya, Ustadz Agus menegaskan bahwa penggunaan sutrah disunnahkan bagi orang yang salat sendirian (al-munfarid) maupun imam (al-imam). Adapun makmum, sutrah imam sudah mencukupi sebagai pembatas.
Lebih lanjut, beliau menyampaikan hikmah disyariatkannya sutrah, di antaranya membantu menghadirkan kekhusyukan dalam salat serta memberikan batas yang jelas agar tidak ada orang yang melintas di depan orang yang sedang salat. Bahkan, orang yang salat diperbolehkan menahan orang yang hendak lewat di depannya, kecuali dalam kondisi tertentu seperti di Masjidil Haram.

Kajian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman jamaah tentang adab dan kesempurnaan salat, sekaligus menjadi pengingat untuk lebih mensyukuri nikmat sehat dan kesempatan dengan memperbaiki kualitas ibadah sehari-hari. Kajian Reboan Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon akan terus dilaksanakan secara rutin sebagai bagian dari upaya pembinaan keislaman dan penguatan nilai-nilai ibadah di tengah masyarakat.

Komentar (Tanggapan)

Tulis Balasan ke Arofah Firdaus Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.
Ruas (kotak) yang wajib diisi ditandai *

Ada 5 tanggapan untuk “Kajian Reboan Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon: Mensyukuri Nikmat Sehat dan Kesempatan serta Pentingnya Sutrah dalam Salat”

  1. Avatar puji nirmo
    puji nirmo

    Semoga bs menambah pemahaman jama’ah dlm hal pemanfaatan waktu sehat dan senggang agar dapat meningkatkan ibadah kita terhadap Allah SWT

  2. Avatar Erli
    Erli

    Alhamdulillah. Ghiroh kajian reboan menjadi salah satu implementasi HR al-Bukhori ttg manfaatkan nikmat sehat dan kesempatan.
    Barakallah buat semua jama:ah Santun.

  3. Avatar Arofah Firdaus
    Arofah Firdaus

    Semoga kajian ini terus istiqamah dan memberi dampak nyata dalam membentuk pribadi muslim yang lebih taat, berakhlak, dan siap memanfaatkan kesempatan hidup untuk amal saleh sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah.

  4. Avatar Yandi Heryandi
    Yandi Heryandi

    Pada masa kini, baik bagi imam maupun bagi makmum di masjid-masjid sudah dipasang kain sajadah yang dapat dijadikan sebagai sutrah. Maka tidak perlu lagi memasang sutrah secara khusus.

  5. Avatar Uung Qurochtul'ain
    Uung Qurochtul’ain

    Semoga kita semua dapat mensyukuri nikmat sehat dan nikmat waktu luang, jazakalloh khoyr ilmunya pak Ustadz