CIREBON, 5 Januari 2026 – Tingginya intensitas hujan dalam beberapa waktu terakhir kembali mengakibatkan sejumlah wilayah di Kota Cirebon terdampak banjir. Genangan air dilaporkan muncul di kawasan permukiman warga, ruas jalan utama, hingga area fasilitas umum. Kondisi ini menimbulkan keresahan masyarakat mengingat banjir terjadi hampir setiap musim hujan.
Menanggapi situasi tersebut, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Cirebon menyoroti persoalan banjir sebagai tanda nyata darurat ekologis yang tengah dihadapi kota pesisir tersebut. IMM menilai banjir bukan semata-mata persoalan curah hujan, melainkan dampak dari kerusakan lingkungan yang terus dibiarkan, seperti buruknya sistem drainase, berkurangnya daerah resapan air, serta alih fungsi lahan yang tidak terkendali.

Ketua IMM Kota Cirebon, Fagin Zaedan, menyatakan bahwa lemahnya kesadaran ekologis dan minimnya pengawasan tata ruang memperparah risiko banjir. “Banjir yang terus berulang adalah alarm serius bagi pemerintah dan masyarakat. Kota Cirebon sedang menghadapi darurat ekologis yang harus ditangani secara komprehensif, bukan hanya solusi tambal sulam,” ujarnya.
IMM Kota Cirebon mendorong pemerintah daerah untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan lingkungan, termasuk normalisasi saluran air, penataan ruang kota yang berkelanjutan, serta penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan. Selain itu, partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan sungai dan lingkungan sekitar dinilai sangat penting untuk mencegah banjir berulang.
Sebagai organisasi mahasiswa, IMM Kota Cirebon menyatakan komitmennya untuk terus mengawal isu-isu ekologis melalui edukasi publik, advokasi kebijakan, serta gerakan nyata di tengah masyarakat. IMM berharap peringatan darurat ekologis ini dapat menjadi momentum bagi semua pihak untuk bersama-sama menjaga lingkungan demi keberlangsungan hidup yang lebih aman dan berkelanjutan di Kota Cirebon.


Tulis Balasan ke Lilis putri alizah Batalkan balasan