CIREBON, 5 April 2026 — Suasana khidmat menyelimuti Masjid Umar bin Khattab yang berlokasi di lingkungan SMK Farmasi Muhammadiyah Kabupaten Cirebon pada Ahad pagi dini hari ini. Puluhan jamaah yang terdiri dari guru, serta warga sekitar tampak antusias mengikuti pelaksanaan Kuliah Subuh yang digelar secara rutin oleh PCM Kedawung bekerja sama dengan Badan Takmir Masjid (BTM) Umar bin Khattab.
Mengusung tema “Terapi Hati yang Lelah”, acara yang dimulai ba’da Salat Subuh hingga pukul 06.00 WIB itu menghadirkan penceramah kondang, Ustadz Drs. Somantri Perbangkara, M.Pd., seorang akademisi sekaligus dai yang dikenal dengan gaya penyampaiannya yang menyentuh.
Hati yang Lelah di Era Modern
Dalam tausiyahnya, Ustadz Somantri mengupas tuntas fenomena ironi eksistensial yang dialami banyak orang di era modern. Kehidupan yang serba canggih, eksklusif, praktis, dan dinamis, menurutnya, justru membawa manusia pada kehampaan.
“Di balik senyuman di media sosial dan kesuksesan karier, banyak hati yang sesungguhnya lelah. Lelah karena kehilangan arah spiritual. Fenomena ini tidak hanya terjadi di kalangan orang yang jauh dari Tuhan, tetapi juga menimpa sebagian umat Islam yang imannya tergerus rutinitas duniawi,” ujar Ustadz Somantri di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan bahwa “hati yang lelah” adalah kondisi batin ketika seseorang merasa kosong, berat, kehilangan semangat, bahkan tidak tahu harus mengadu ke mana. Ini bukan sekadar capek fisik, melainkan kelelahan jiwa akibat tekanan hidup, kekecewaan, atau terlalu lama memendam perasaan.
Terapi Hati Menurut Al-Qur’an dan Hadits
Ustadz Somantri memaparkan delapan terapi utama untuk menyembuhkan hati yang lelah, dengan merujuk langsung pada dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits.
Pertama, kembali mengingat Allah (zikir). Beliau membacakan firman Allah Swt.:
أَلاَ بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
“Zikir adalah obat utama bagi hati yang gelisah. Luangkan waktu untuk beristigfar, bertasbih, bertahmid, bertakbir, dan membaca Al-Qur’an,” pesannya.
Kedua, memperbaiki salat. Beliau mengutip QS. Al-Baqarah ayat 45:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu.”
Menurutnya, salat bukan sekadar kewajiban, melainkan tempat “curhat” terbaik seorang hamba kepada Rabb-nya.
Ketiga, menangislah dalam doa. “Menangis bukan tanda lemah, tapi tanda hati yang hidup. Curahkan kekecewaan, luka batin, dan rasa lelah kepada Allah, jangan dipendam sendiri,” tuturnya.
Renungan Penutup: Kembali kepada Tuhan
Mengakhiri tausiyahnya, Ustadz Somantri membacakan surat Al-Fajr ayat 27–29 yang menjadi puncak kebahagiaan bagi jiwa yang beriman:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي
“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku.”
Beliau juga mengutip nasihat Imam Syafi’i: “Manusia itu hebat karena tiga hal: menyembunyikan kemiskinannya, menahan amarahnya, dan menyembunyikan kesedihannya.” Serta firman Allah dalam QS. Al-Fath ayat 4:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ
“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).”
“Kalau hati terasa lelah hari ini, itu bukan akhir. Itu panggilan untuk pulang. Semoga Allah membersamai kita dengan hidayah, taufik, dan maunah-Nya sehingga kita terbebas dari intimidasi hati karena karunia-Nya yang besar. Aamiin,” pungkas Ustadz Somantri disambut gemuruh doa jamaah.
Kegiatan Kuliah Subuh di Masjid Umar bin Khattab SMK Farmasi Muhammadiyah Kabupaten Cirebon akan kembali digelar pada Ahad pekan depan dengan tema yang berbeda. (*)
Redaksi: Tim Media Muhammadiyah Kota Cirebon


Tinggalkan Balasan