CIREBON, 4 Maret 2026 – Suasana spiritual menyelimuti Masjid Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) Jalan Tuparev pada pelaksanaan kultum Ramadhan, Rabu (4/3/2026). Bertindak sebagai penceramah, Ibnu Soleh dari Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (BEM FEB) UMC, menyampaikan tausiyah yang inspiratif dengan tema “Ramadhan sebagai Madrasah Kehidupan”.
Para mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan yang hadir tampak antusias menyimak pemaparan tentang bagaimana bulan suci Ramadhan menjadi sekolah kehidupan yang mendidik umat Islam dalam berbagai aspek, baik spiritual, moral, maupun sosial.
Ramadhan: Sekolah Kehidupan yang Komprehensif
Ibnu Soleh mengawali kultum dengan menjelaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah ritual, tetapi merupakan madrasah (sekolah) kehidupan yang komprehensif. Selama sebulan penuh, umat Islam ditempa secara spiritual, moral, dan sosial melalui rangkaian ibadah yang terstruktur dan berkelanjutan.
“Dalam perspektif Islam, Ramadhan dapat dipahami sebagai madrasah kehidupan. Di dalamnya, setiap mukmin dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu, menata niat, memperkuat kesabaran, membangun kepekaan sosial, dan meningkatkan kualitas ibadah. Ini adalah kurikulum lengkap yang dirancang Allah untuk membentuk pribadi yang bertakwa,” papar Ibnu Soleh.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
“Ayat ini menegaskan bahwa tujuan akhir dari madrasah Ramadhan adalah melahirkan insan-insan bertakwa. Takwa adalah outcome dari seluruh proses pendidikan selama sebulan penuh,” jelasnya.
Kurikulum Madrasah Ramadhan
Ibnu Soleh kemudian memaparkan beberapa mata pelajaran (kurikulum) yang diajarkan di madrasah Ramadhan:
1. Latihan Mengendalikan Hawa Nafsu (Tazkiyatun Nafs)
Puasa melatih kita untuk mengendalikan keinginan-keinginan dasar seperti lapar, dahaga, dan syahwat. Ini adalah latihan pengendalian diri yang sangat efektif.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ
“Puasa itu adalah perisai.” (HR. Bukhari & Muslim)
“Puasa menjadi perisai yang melindungi kita dari godaan hawa nafsu dan bujukan setan. Dengan berpuasa, kita belajar untuk mengatakan ‘tidak’ pada keinginan yang tidak sesuai dengan tuntunan Allah,” jelas Ibnu Soleh.
2. Menata Niat dan Memurnikan Ikhlas (Tashfiyatun Niat)
Ramadhan mengajarkan kita untuk senantiasa menata niat. Setiap ibadah yang dilakukan harus dilandasi niat yang ikhlas karena Allah, bukan karena ingin dipuji atau dilihat orang lain.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari & Muslim)
“Ramadhan melatih kita untuk memurnikan niat. Ketika kita berpuasa, hanya Allah yang tahu apakah kita benar-benar berpuasa atau tidak. Ini adalah latihan ikhlas yang luar biasa,” tambahnya.
3. Memperkuat Kesabaran (Taqwiyatush Shabr)
Puasa adalah separuh dari kesabaran. Dengan menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, kita dilatih untuk menjadi pribadi yang sabar.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
“Kesabaran yang dilatih di bulan Ramadhan bukan hanya sabar dalam menahan lapar, tetapi juga sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar dalam menghadapi cobaan hidup,” papar Ibnu Soleh.
4. Membangun Kepekaan Sosial (Al-Hissul Ijtima’i)
Ramadhan mengajarkan kita untuk merasakan penderitaan orang lain. Ketika kita merasakan lapar dan dahaga, kita menjadi lebih peka terhadap saudara-saudara kita yang setiap hari kekurangan.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ
“Barangsiapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari & Muslim)
Beliau juga bersabda tentang keutamaan memberi makan orang berbuka:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
“Di bulan Ramadhan, kita diajak untuk berbagi, bersedekah, dan peduli kepada sesama. Inilah pendidikan sosial yang sangat berharga,” tegas Ibnu Soleh.
5. Meningkatkan Kualitas Ibadah (Tahsinul Ibadah)
Ramadhan adalah momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah, baik yang wajib maupun yang sunnah. Shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, qiyamul lail, dan i’tikaf menjadi amalan yang sangat dianjurkan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang keutamaan Al-Qur’an di bulan Ramadhan:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda tentang keutamaan shalat malam di Ramadhan:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan (tarawih) karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)
Lulusan Madrasah Ramadhan: Insan Bertakwa
Ibnu Soleh menjelaskan bahwa setelah mengikuti seluruh proses pendidikan di madrasah Ramadhan, seorang muslim diharapkan lulus sebagai insan bertakwa. Takwa inilah yang akan menjadi bekal untuk menjalani sebelas bulan ke depan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
“Setelah Ramadhan berakhir, kita tidak boleh kembali kepada kebiasaan buruk. Kita harus mempertahankan kualitas spiritual, moral, dan sosial yang telah kita latih selama sebulan penuh. Inilah bukti bahwa kita benar-benar lulus dari madrasah Ramadhan,” pesan Ibnu Soleh.
Penutup: Memanfaatkan Sisa Ramadhan
Menutup kultum, Ibnu Soleh mengajak seluruh hadirin untuk memanfaatkan sisa Ramadhan dengan sebaik-baiknya. “Kita masih memiliki separuh waktu Ramadhan. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Teruslah belajar di madrasah kehidupan ini. Tingkatkan kualitas ibadah, perbanyak sedekah, jaga lisan, dan perbaiki hubungan dengan sesama. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Aamiin,” pungkasnya.
Kultum Ramadhan di Masjid Kampus 1 UMC berlangsung dengan penuh khidmat. Para mahasiswa tampak antusias dan mendapatkan pencerahan tentang bagaimana memaknai Ramadhan sebagai madrasah kehidupan yang mendidik mereka dalam berbagai aspek. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya UMC untuk membina spiritualitas mahasiswa di bulan Ramadhan, sekaligus mengaktifkan peran organisasi kemahasiswaan dalam dakwah kampus. (Surono)


Tinggalkan Balasan