Menakar Kadar Takwa Pasca Ramadhan, Ustadz Drs. Sukardi, ME.Sy: Akhlak Mulia Jadi Ukuran Utama

CIREBON, 3 April 2026 – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada pelaksanaan salat Jum’at, 3 April 2026 bertepatan dengan 15 Syawal 1447 H. Jamaah tampak khusyuk mengikuti rangkaian ibadah dari awal hingga akhir. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Drs. Sukardi, ME.Sy, menyampaikan khotbah bertajuk “Menakar Kadar Takwa Pasca Ramadhan”.

Dalam khotbahnya, Ustadz Sukardi mengajak seluruh jamaah untuk melakukan muhasabah diri di pertengahan bulan Syawal ini. Beliau menegaskan bahwa Ramadhan yang telah berlalu merupakan madrasah pelatihan spiritual selama sebulan penuh. Kini, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana takwa telah termanifestasi dalam kehidupan keseharian setelah sebulan berpuasa.

“Takwa bukan sekadar perasaan, tetapi harus terukur dari perilaku nyata. Jika takwa sejati, maka akhlak seseorang akan semakin mulia,” ujar Ustadz Sukardi di hadapan ratusan jamaah.

Beliau mengawali hujjahnya dengan menyitir hadits Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlak.”

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan Al-Baihaqi).

Dari hadits ini, Ustadz Sukardi menjelaskan bahwa ukuran takwa seseorang adalah semakin baiknya akhlaknya, meliputi empat ranah: akhlak kepada Allah, akhlak kepada Rasulullah, akhlak kepada sesama muslim, dan akhlak kepada seluruh manusia.

Empat Pilar Takwa Menurut Imam Nawawi

Lebih lanjut, Ustadz Sukardi mengupas pandangan Imam Nawawi yang menyatakan bahwa takwa dapat diukur dari empat perilaku utama yang dalam bahasa Arabnya terdiri dari huruf Ta, Qaf, Waw, dan Ya. Keempat huruf tersebut merupakan singkatan dari:

1. Tawadhu (Rendah Hati)

تَوَاضُع

Tawadhu adalah sikap rendah hati di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Seorang muslim yang bertakwa meyakini bahwa setiap ibadah ritual dan sosial yang ia lakukan terjadi semata-mata karena izin Allah, bukan karena kehebatan diri sendiri. Kerendahan hati ini juga harus ditujukan dalam berinteraksi dengan sesama manusia dan makhluk Allah lainnya.

2. Qonaah (Menerima dan Bersyukur)

قَنَاعَة

Qonaah merupakan sikap menerima ketentuan Allah serta bersyukur secara optimal atas limpahan karunia-Nya. Orang yang qonaah akan ridha dengan pemberian Allah dan berusaha memanfaatkan pemberian tersebut untuk kesejahteraan orang lain, bukan untuk bermewah-mewahan atau menyombongkan diri.

3. Wara’ (Berhati-hati)

وَرَع

Wara’ adalah sikap kehati-hatian dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Orang yang wara’ tidak hanya menjauhi yang haram, tetapi juga menjauhi setiap hal yang berindikasi syubhat (samar-samar, abu-abu antara halal dan haram) demi menjaga kesucian agama dan dirinya.

4. Yakin (Keyakinan Penuh)

يَقِين

Yakin berarti selalu mengedepankan ketentuan Allah dalam bersikap dan berperilaku. Sikap ini meyakini bahwa tidak sesuatu pun bisa terjadi tanpa izin atau perkenan Allah. Lebih jauh, yakin juga terkait dengan perilaku ihsan, yaitu beribadah seolah-olah melihat Allah, dan jika tidak mampu, maka yakin bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa menyaksikan setiap ibadah ritual dan ibadah sosial yang dilakukan selama hidup seseorang.

Penutup Khotbah

Di akhir khotbah, Ustadz Drs. Sukardi, ME.Sy, mengingatkan bahwa Ramadhan telah mengajarkan disiplin, empati, dan pengendalian diri. Kini di bulan Syawal, tantangan sebenarnya dimulai. “Jangan biarkan takwa hanya menjadi kenangan di bulan Ramadhan. Jadikan ia karakter permanen. Mulailah dengan tawadhu, qonaah, wara’, dan yakin,” pesannya.

Salat Jum’at dua rakaat yang dipimpin langsung oleh Ustadz Sukardi berlangsung lancar dan tertib. Jamaah tampak terharu dan termotivasi untuk terus meningkatkan kualitas ketakwaan pasca Ramadhan. Usai salat, sejumlah jamaah menyempatkan diri bersalaman dan berdiskusi singkat dengan khatib.

Masjid Santun Muhammadiyah yang dikenal dengan program-program pemberdayaan umatnya ini kembali menjadi pusat pencerahan rohani bagi masyarakat Kota Cirebon di hari Jum’at penuh berkah.

Redaksi: Peliput Masjid Santun Muhammadiyah Cirebon


Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *